Harimau Sumatra Tewaskan Pekerja di Pelalawan Riau

PELALAWAN — Rentetan konflik mematikan antara manusia dan harimau sumatra kembali pecah di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Seorang pekerja perkebunan kelapa sawit tewas diterkam satwa dilindungi...

Jul 13, 2026 - 21:34
0 0

PELALAWAN — Rentetan konflik mematikan antara manusia dan harimau sumatra kembali pecah di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Seorang pekerja perkebunan kelapa sawit tewas diterkam satwa dilindungi itu saat sedang berusaha mencari sinyal telepon seluler di kawasan terpencil. Insiden nahas ini menjadi serangan kedua yang merenggut nyawa manusia hanya dalam kurun tiga hari, menandai eskalasi ancaman serius dari hutan-hutan Riau yang kian terfragmentasi.

Korban diketahui bernama Jumadi (41), karyawan PT Mentari Subur Abadi, sebuah perusahaan perkebunan di Kecamatan Bandar Petalangan. Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lapangan, Jumadi dan seorang rekannya, Andika Pratama (35), tengah meninggalkan camp kerja pada Senin sore (22/7) sekitar pukul 16.30 WIB. Keduanya berjalan kaki menuju sebuah bukit kecil yang dikenal sebagai titik dengan sinyal paling stabil, sekitar 300 meter dari barak pekerja. “Kami memang sering ke sana bergantian agar bisa menelepon keluarga. Sinyal di camp benar-benar mati,” ujar Andika dengan suara bergetar saat ditemui petugas di lokasi.

Tiba-tiba, dari balik semak belukar di sisi kiri jalur setapak, seekor harimau sumatra dewasa muncul dan langsung menerkam Jumadi. Andika yang berada beberapa langkah di depan seketika berlari menyelamatkan diri sambil berteriak meminta bantuan. “Saya dengar suara auman pendek, lalu saya lihat korban sudah terseret masuk ke hutan. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, langsung lari ke camp,” lanjut Andika.

Sekelompok pekerja dan petugas keamanan perusahaan yang tiba di lokasi sekitar 20 menit kemudian hanya menemukan jasad Jumadi dalam kondisi mengenaskan dengan luka fatal di bagian leher dan dada. Jenazah langsung dievakuasi ke Puskesmas Bandar Petalangan sebelum diserahkan kepada pihak keluarga di Desa Rawang Sari, Kecamatan Pangkalan Kuras, pada pukul 21.00 WIB.

Satwa Semakin Terdesak, Konflik Tak Terhindarkan

Insiden di Pelalawan semakin menegaskan pola konflik satwa-manusia yang kian intensif di Riau. Hanya tiga hari sebelumnya, pada Jumat (19/7), seorang warga Desa Segamai, Kecamatan Teluk Meranti, juga dilaporkan tewas di lokasi yang hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari titik kejadian terbaru. Korban pertama, Samirin (55), seorang petani karet, diserang saat tengah menyadap getah di kebunnya pada pagi hari. Jarak yang relatif dekat dan waktu kejadian yang berdekatan memunculkan dugaan kuat bahwa kedua serangan dilakukan oleh individu harimau yang sama, kemungkinan besar seekor jantan yang tengah mengalami tekanan habitat.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau melalui Kepala Bidang Teknis, Ir. Suharyono, M.Sc., menyatakan bahwa tim gabungan telah diterjunkan ke kedua lokasi. “Kami membentuk dua unit patroli penanggulangan konflik. Satu unit melakukan penelusuran jejak dan pemasangan kamera jebak di radius 5 kilometer dari lokasi serangan, sementara unit lainnya bertugas memberikan penyuluhan intensif kepada warga dan manajemen perusahaan perkebunan,” jelas Suharyono saat dihubungi wartawan, Selasa (23/7).

Lebih lanjut, Suharyono tidak menampik bahwa perubahan fungsi hutan menjadi penyebab utama pemicu konflik. “Data kami menunjukkan, terjadi deforestasi seluas 3.200 hektar di lanskap Semenanjung Kampar sepanjang tahun 2023 hingga paruh pertama 2024. Hutan alam yang tersisa kini tak lebih dari 65 persen luasan kawasan budidaya. Fragmentasi ini memaksa harimau bergerak di koridor sempit yang bersinggungan langsung dengan aktivitas manusia,” paparnya. BKSDA Riau mencatat, sepanjang tahun ini saja sudah terjadi sembilan kali konflik harimau dengan manusia di wilayah Riau, tiga di antaranya berujung fatal.

Kini, Upaya Relokasi dan Tindakan Hukum

Menindaklanjuti dua kejadian mematikan ini, BKSDA Riau berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten, kepolisian, dan manajemen perusahaan perkebunan untuk segera menetapkan langkah darurat. Sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 17 Tahun 2022 tentang Penanganan Konflik Satwa Liar, tim akan berupaya melakukan penangkapan dan relokasi jika individu harimau tersebut berhasil teridentifikasi. “Prinsip kami adalah menyelamatkan satwa dilindungi sekaligus melindungi warga. Tapi jika upaya penangkapan dalam tujuh hari ke depan gagal dan serangan terus berlanjut, opsi tindakan tegas terpaksa akan dipertimbangkan demi keselamatan jiwa manusia,” tegas Suharyono.

Bupati Pelalawan, H. Zukri, yang dihubungi terpisah menyampaikan dukacita mendalam kepada keluarga korban. Pemerintah daerah, ujarnya, akan memberikan santunan dan memfasilitasi pemulangan jenazah. Zukri juga meminta seluruh perusahaan perkebunan di wilayahnya agar wajib menyediakan fasilitas komunikasi yang memadai di dalam camp pekerja. “Kejadian ini seharusnya bisa dicegah jika perusahaan menjamin pekerjanya tidak perlu keluar masuk hutan hanya untuk mencari sinyal. Kami akan evaluasi perizinan perusahaan yang abai terhadap aspek keselamatan ini,” katanya.

Direktur Eksekutif World Wildlife Fund (WWF) Indonesia untuk Program Riau, Dr. Sunarto, turut mengingatkan bahwa harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) saat ini berstatus Kritis (Critically Endangered) dengan populasi liar yang diperkirakan tidak lebih dari 600 individu. “Matinya manusia dan terdesaknya harimau adalah dua sisi dari krisis ekologi yang sama. Solusinya bukan pembunuhan, melainkan restorasi koridor hutan dan penataan ruang yang menghargai hak hidup satwa,” ujar Sunarto.

Hingga berita ini diturunkan, tim patroli BKSDA masih terus menyisir kawasan perkebunan dan hutan di sekitar Bandar Petalangan dan Teluk Meranti. Warga diimbau untuk tidak beraktivitas sendirian di kebun dan segera melapor jika melihat tanda-tanda keberadaan harimau. Sementara itu, suara auman dari kedalaman hutan yang mulai terfragmentasi itu menjadi pengingat keras bahwa benturan dua dunia—manusia dan satwa liar—kian mendekati titik kritis yang tak bisa lagi ditawar.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User