Oct 15, 2026
Politik

Harga Telur Jepang Cetak Rekor, Pasar Swalayan Menahan Rugi

Harga telur di Jepang masih bertahan pada level tertinggi dan belum memperlihatkan tanda-tanda penurunan, meskipun selama ini komoditas tersebut dikenal sebagai bahan pangan dengan harga relatif stabi...

Harga Telur Jepang Cetak Rekor, Pasar Swalayan Menahan Rugi

Harga telur di Jepang masih bertahan pada level tertinggi dan belum memperlihatkan tanda-tanda penurunan, meskipun selama ini komoditas tersebut dikenal sebagai bahan pangan dengan harga relatif stabil. Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang mencatat harga eceran rata-rata satu karton berisi 10 butir telur berbagai ukuran mencapai 309 yen atau setara Rp 34.952 dalam survei terhadap 470 toko di seluruh negeri yang dilaksanakan pada 7–9 September. Angka tersebut menyamai rekor harga tertinggi yang pernah tercatat sebelumnya.

Kenaikan biaya produksi menjadi penyebab utama, terutama harga pakan ternak yang melonjak akibat memburuknya ketegangan di Timur Tengah. Selain itu, potensi wabah flu burung dengan tingkat patogenisitas tinggi turut mengancam kenaikan harga lebih lanjut. Kondisi itu membuat pelaku industri semakin khawatir menjelang musim dingin, ketika permintaan telur mencapai puncaknya pada musim Natal.

Beban Biaya Pakan Ternak Impor

Federasi Nasional Asosiasi Koperasi Pertanian Jepang memutuskan menaikkan harga pasokan pakan ternak rata-rata sekitar 3.200 yen atau setara Rp 361.965 per ton untuk periode Oktober–Desember. Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan memburuknya ketegangan di Timur Tengah dan pelemahan yen di antara sejumlah faktor lainnya. Organisasi tersebut juga meninjau harga setiap tiga bulan, dan kenaikan terbaru menandai kenaikan harga selama empat kuartal berturut-turut.

Pakan ternak impor menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam struktur produksi telur di Jepang. Ketika harga bahan baku tersebut naik secara beruntun, tekanan terhadap harga jual di tingkat konsumen pun tidak terhindarkan. Para peternak menegaskan bahwa mereka tidak memiliki ruang untuk menyerap kenaikan biaya tersebut tanpa menyesuaikan harga jual.

Pasar Swalayan Menahan Harga Demi Pelanggan

Di tengah tekanan harga tersebut, sejumlah pasar swalayan memilih menahan harga jual demi mempertahankan pelanggan. Di supermarket Akidai Sekimachi di Distrik Nerima, Tokyo, satu karton berisi 10 butir telur ukuran sedang dijual seharga 268 yen atau 289 yen termasuk pajak pada 5 Oktober. Jumlah itu setara Rp 32.685 dengan kurs Rp 113,10 per yen.

Toko tersebut juga menawarkan promosi khusus setiap Minggu dengan menjual satu karton berisi 10 butir telur hanya seharga 88 yen atau setara Rp 9.954 termasuk pajak. Namun, diskon tersebut harus dibayar dengan kerugian yang ditanggung perusahaan.

“Kami merugi dari penjualan telur sepanjang tahun. Ini memang sulit, tetapi kami bisa bertahan dengan memangkas biaya iklan dan menyesuaikan biaya tenaga kerja,” kata Presiden supermarket tersebut, Hiromochi Akiba.

Langkah itu menggambarkan dilema yang dihadapi peritel di Jepang. Di satu sisi mereka perlu menjaga daya beli masyarakat, di sisi lain margin keuntungan terus tergerus oleh kenaikan harga dari sisi pemasok.

Konsumen Mengurangi Pembelian

Dampak kenaikan harga juga mulai terasa pada pola konsumsi rumah tangga. Seorang pelanggan berusia 40-an menyatakan dirinya mengurangi pembelian telur karena harganya terus naik.

“Saya dulu membeli telur setidaknya sekali seminggu, tetapi belakangan harganya menjadi sangat mahal sehingga saya tidak lagi membelinya sesering dulu,” ujarnya.

Pengurangan pembelian tersebut mencerminkan pergeseran perilaku konsumen ketika harga bahan pangan pokok meningkat. Telur selama ini menjadi salah satu sumber protein terjangkau bagi rumah tangga Jepang, sehingga kenaikan harganya berdampak langsung pada belanja harian.

Ancaman Flu Burung dan Musim Dingin

Pelaku industri juga mewaspadai kemungkinan wabah flu burung pada musim ini yang dapat menekan pasokan secara signifikan. Pada musim-musim sebelumnya, wabah flu burung berdampak pada pemusnahan massal unggas dan penurunan produksi telur dalam jumlah besar.

Kombinasi antara kenaikan biaya pakan, pelemahan yen, dan risiko wabah membuat prospek harga telur dalam beberapa bulan ke depan masih belum menunjukkan perbaikan. Pemerintah Jepang disebut terus memantau perkembangan harga dan situasi pasokan menjelang puncak permintaan akhir tahun. Pelaku pasar menilai bahwa tanpa penurunan biaya produksi, harga telur sulit kembali ke level normal dalam waktu dekat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User