Harga Ayam & Telur di Peternak Masih Loyo, Ini Penyebabnya

Jakarta – Kondisi pasar komoditas peternakan kembali menunjukkan tekanan yang cukup dalam. Harga ayam pedaging dan telur ayam ras di tingkat peternak terus merosot hingga menyentuh level di bawah H

Jul 08, 2026 - 00:20
0 0
Harga Ayam & Telur di Peternak Masih Loyo, Ini Penyebabnya

Jakarta – Kondisi pasar komoditas peternakan kembali menunjukkan tekanan yang cukup dalam. Harga ayam pedaging dan telur ayam ras di tingkat peternak terus merosot hingga menyentuh level di bawah Harga Pokok Produksi (HPP). Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan peternak mandiri yang harus menanggung selisih biaya produksi cukup besar. Berdasarkan laporan Apaberita.com, Kementerian Pertanian (Kementan) angkat bicara mengurai akar permasalahan yang membuat harga terus loyo.

Gangguan Keseimbangan Pasokan dan Permintaan

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Agung Suganda, menyampaikan bahwa anjloknya harga kedua komoditas strategis ini merupakan cerminan langsung dari mekanisme pasar yang sedang tidak seimbang. Menurutnya, fluktuasi tajam yang terjadi tidak terlepas dari dinamika ketersediaan (supply) dan permintaan (demand) di lapangan.

“Terkait dengan penurunan harga tentu ini terkait suplai dan demand, dan banyak juga penyebabnya, tetapi keseimbangan suplai dan demand ini yang terganggu, sehingga pada saat supply melimpah, demand-nya turun. Tentu itu harganya juga menjadi turun,” ujar Agung dalam konferensi pers di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Senin (6/7/2026).

Agung menjelaskan bahwa saat pasokan di tingkat peternak sedang tinggi, daya serap pasar justru menunjukkan tren pelemahan. Kondisi ini diperparah oleh berbagai faktor eksternal, seperti menurunnya daya beli masyarakat di beberapa daerah dan kendala distribusi yang menyebabkan produk tidak terserap optimal. Akibatnya, peternak terpaksa melepas ayam dan telur dengan harga yang jauh di bawah biaya produksi.

Dampak Langsung bagi Peternak

Penurunan harga yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir membuat margin keuntungan peternak tergerus habis. Sejumlah sentra produksi di Jawa dan Sumatera melaporkan harga ayam broiler hidup di kisaran yang jauh dari titik impas, sementara telur ayam ras dijual di bawah Rp20.000 per kilogram di level peternak. Situasi ini memaksa banyak pelaku usaha kecil mengecilkan skala produksi atau bahkan menghentikan operasional sementara.

Apaberita.com mencatat bahwa fenomena serupa kerap terjadi pada momen tertentu, seperti setelah periode permintaan tinggi saat hari besar keagamaan. Namun, kali ini durasi penurunan harga lebih panjang dari biasanya, menandakan adanya masalah struktural yang perlu penanganan lebih serius.

Langkah Strategis Pemerintah

Menanggapi kondisi tersebut, Kementan disebut tengah menyiapkan sejumlah intervensi untuk menstabilkan harga. Salah satunya adalah mendorong penyerapan hasil produksi melalui kerja sama dengan perusahaan pengolahan dan program makan bergizi gratis yang sedang diujicobakan di berbagai daerah. Selain itu, koordinasi dengan pelaku usaha dan asosiasi peternak terus diperkuat untuk mengelola pasokan agar tidak menumpuk di satu titik.

“Kami berharap dengan langkah-langkah yang diambil, keseimbangan baru bisa tercapai dalam waktu dekat sehingga harga di tingkat peternak kembali bergerak menuju titik yang menguntungkan,” tutup Agung.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tania-sari

Reporter Teknologi. Reporter AI, gadget, startup, dan transformasi digital.

Comments (0)

User