Hanya Enam Kapal Lintasi Selat Hormuz Pascaserangan AS-Iran

Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan drastis hingga menyentuh titik terendah dalam lima pekan pada Minggu (12/7). Data perusahaan pelacakan maritim Kpler mencatat hanya enam kapal...

Jul 13, 2026 - 17:23
0 0
Hanya Enam Kapal Lintasi Selat Hormuz Pascaserangan AS-Iran

Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan drastis hingga menyentuh titik terendah dalam lima pekan pada Minggu (12/7). Data perusahaan pelacakan maritim Kpler mencatat hanya enam kapal yang melintasi jalur strategis tersebut sepanjang hari, menyusul serangan terbaru Amerika Serikat ke Iran serta sejumlah insiden penyerangan kapal di kawasan Timur Tengah.

Angka tersebut merupakan yang paling sedikit sejak awal Juni 2026, merefleksikan meningkatnya kekhawatiran pelaku industri pelayaran terhadap eskalasi konflik di perairan yang menjadi pintu gerbang sekitar seperlima perdagangan minyak global itu. Penurunan ini terjadi di tengah ketegangan yang terus memuncak antara Washington dan Teheran, yang tidak hanya berbuntut serangan militer tetapi juga ancaman langsung terhadap keselamatan navigasi.

Rincian Kapal yang Melintas

Di antara enam kapal yang tercatat keluar dari Selat Hormuz, terdapat kapal tanker raksasa jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) bernama Humanity yang membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah asal Iran. Kapal tersebut berlayar di tengah situasi keamanan yang memburuk, padahal Iran sendiri sebelumnya menyatakan telah menutup selat itu setelah sebuah kapal dilaporkan terkena serangan karena melintasi jalur yang tidak disetujui.

Kapal lain yang terpantau adalah Capetan Andreas, yang mengangkut kurang lebih 500.000 barel produk minyak dari Kuwait. Sementara itu, tiga kapal tanker dalam keadaan kosong memasuki kawasan Teluk Persia untuk memuat minyak. Kpler menekankan bahwa sebagian besar kapal tanker mematikan sistem transponder atau Automatic Identification System (AIS) saat melintasi Selat Hormuz, sehingga pergerakan mereka tidak sepenuhnya dapat dipantau oleh sistem pelacakan sipil. Langkah ini umum diambil oleh kapal-kapal yang ingin menyembunyikan posisinya di wilayah berisiko tinggi.

Sepanjang akhir pekan, tidak ada satu pun kapal pengangkut gas alam cair (LNG) yang tercatat memasuki Selat Hormuz. Fakta ini mempertegas keengganan operator kapal untuk melewati jalur yang menjadi urat nadi pasokan energi dunia tersebut di tengah ancaman serangan yang nyata.

Serangan AS dan Klaim Iran

Penurunan drastis volume pelayaran ini terjadi tepat setelah militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Minggu (12/7). Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa puluhan target di sejumlah lokasi di Iran dihantam menggunakan amunisi presisi. Serangan ini merupakan babak baru dari konfrontasi militer yang telah berlangsung beberapa waktu terakhir antara kedua negara.

Presiden AS Donald Trump, pada hari yang sama, mengeluarkan pernyataan yang mencoba meredakan kekhawatiran pasar.

"Selat Hormuz terbuka untuk lalu lintas komersial,"
ujar Trump melalui platform media sosialnya. Namun, pernyataan tersebut kontras dengan klaim Iran yang menyebutkan bahwa angkatan laut Garda Revolusi telah menghentikan dua kapal di Selat Hormuz pada Senin (13/7). Menurut pernyataan resmi Iran, kedua kapal itu dihentikan dengan melumpuhkan sistem kendali mereka. Iran tidak mengungkapkan identitas maupun bendera kapal-kapal tersebut, sehingga menambah ketidakpastian di kalangan pelayaran internasional.

Tindakan Iran itu diduga sebagai respons atas penutupan selat yang sebelumnya diumumkan oleh Teheran. Iran menuduh bahwa sebuah kapal telah melintas melalui rute yang tidak disetujui dan kemudian menjadi sasaran serangan. Insiden-insiden semacam ini kian memperkeruh situasi keamanan di Selat Hormuz, yang dalam beberapa pekan terakhir memang diwarnai oleh peningkatan ketegangan militer dan ancaman terhadap kebebasan bernavigasi.

Dampak dan Kekhawatiran Global

Dengan hanya enam kapal yang berani melintas, Selat Hormuz praktis kehilangan fungsinya sebagai jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia. Para analis pelayaran menilai bahwa situasi ini akan langsung mempengaruhi harga energi global jika berlangsung dalam waktu lama. Sebagai gambaran, dalam kondisi normal, lebih dari 17 juta barel minyak mentah dan produk olahan melintasi selat ini setiap harinya, setara dengan sekitar 20% konsumsi minyak dunia.

Fakta bahwa kapal-kapal LNG sama sekali absen pada akhir pekan tersebut juga menjadi sinyal bahaya bagi pasar gas global. Qatar, sebagai pengekspor LNG terbesar dunia, sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk mengirimkan kargonya ke Asia dan Eropa. Gangguan sekecil apa pun pada rute ini akan mengganggu rantai pasok energi global yang sudah rapuh akibat ketegangan geopolitik di berbagai kawasan.

Perusahaan pelayaran besar kini mempertimbangkan untuk mengalihkan rute, meskipun opsi alternatif seperti Tanjung Harapan di Afrika akan menambah biaya dan waktu tempuh secara signifikan. Sejumlah operator juga memperketat protokol keamanan, termasuk mematikan transponder, yang justru mengurangi transparansi dan meningkatkan risiko kecelakaan laut di perairan sempit itu.

Diplomasi internasional sejauh ini belum mampu meredakan eskalasi. Pernyataan Trump bahwa selat terbuka bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan, di mana hanya segelintir kapal yang nekat melintas. Sementara itu, tindakan Iran menghentikan kapal secara paksa menambah daftar panjang insiden yang mengancam kebebasan pelayaran di jalur internasional.

Pengamat keamanan maritim menekankan bahwa selain ancaman serangan langsung, penggunaan amunisi presisi oleh AS di sekitar wilayah sipil juga dapat menimbulkan risiko tambahan bagi kapal yang melintas. Kompleksitas ini membuat banyak perusahaan asuransi menaikkan premi bagi kapal yang beroperasi di Teluk Persia, yang pada akhirnya membebani biaya logistik global.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda bahwa situasi akan membaik dalam waktu dekat. Data pelacakan kapal terus menunjukkan aktivitas yang jauh di bawah normal, sementara ketegangan antara AS dan Iran masih belum menunjukkan titik temu. Selat Hormuz, yang biasanya dipadati oleh kapal tanker dan kargo raksasa, kini lebih sunyi dari biasanya, menjadi cermin suram dari konflik yang kian memanas.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User