Gubernur Jabar Pertanyakan Minimnya Pengawasan di Bendungan Jatiluhur
PURWAKARTA, Apaberita – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melontarkan kritik tajam terhadap manajemen Perum Jasa Tirta (PJT) II menyusul insiden tewasnya seorang petugas keamanan di kawasan Bendungan...
PURWAKARTA, Apaberita – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melontarkan kritik tajam terhadap manajemen Perum Jasa Tirta (PJT) II menyusul insiden tewasnya seorang petugas keamanan di kawasan Bendungan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, pada Sabtu dini hari (26/7). Korban, yang diketahui bernama Ade Setiawan (43), ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dengan posisi tangan terborgol di area Pos Jaga 3, dekat saluran irigasi primer. Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara yang dilakukan Kepolisian Resor Purwakarta, korban diduga kuat ditenggelamkan oleh pelaku pencurian kabel instalasi listrik milik bendungan.
Gubernur yang akrab disapa KDM itu tiba di lokasi pada Minggu pagi (27/7) untuk meninjau langsung titik kejadian. Dalam kunjungan tersebut, ia mengungkapkan keterkejutannya atas ketiadaan kamera pemantau atau closed-circuit television (CCTV) di area strategis yang menjadi pos penjagaan satpam. “Saya sangat menyayangkan, di fasilitas vital nasional seperti Bendungan Jatiluhur, yang menjadi sumber air baku bagi jutaan warga dan penggerak PLTA, justru tidak dilengkapi CCTV di titik-titik rawan. Ini kelalaian serius dalam tata kelola keamanan aset negara,” tegas Dedi Mulyadi.
Kejanggalan Sistem Keamanan
Dedi Mulyadi menyatakan bahwa hasil penelusuran sementara menunjukkan absennya perangkat pengawasan elektronik di Pos Jaga 3, lokasi terakhir korban bertugas. Menurutnya, situasi ini menciptakan celah besar bagi aksi kriminal. “Bagaimana mungkin petugas yang menjaga aset strategis tidak didukung alat pemantau yang memadai? Kalau ada CCTV, mungkin pelaku dapat segera teridentifikasi, atau setidaknya pergerakan mencurigakan bisa terdeteksi lebih awal oleh petugas lain di pos utama,” ujarnya.
Data yang dihimpun di lapangan memperlihatkan bahwa kawasan Bendungan Jatiluhur memiliki luas lebih dari 8.300 hektare, namun hanya sebagian kecil titik yang dilengkapi CCTV. Mayoritas kamera terpasang di area perkantoran dan pintu air utama, sementara zona perbatasan dan pos-pos jaga terpencil nyaris tanpa pengawasan. Korban Ade Setiawan sendiri diketahui bertugas seorang diri pada malam kejadian, sesuai jadwal regu jaga yang hanya menempatkan satu personel di tiap pos terluar.
Tuntutan Evaluasi Menyeluruh
Gubernur meminta agar manajemen Perum Jasa Tirta II segera melakukan audit keamanan secara menyeluruh dan menerapkan sistem pengawasan terintegrasi. “Saya menindaklanjuti peristiwa ini dengan menginstruksikan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jabar bersama Dinas Komunikasi dan Informatika untuk membantu asesmen kebutuhan CCTV berbasis kecerdasan buatan di seluruh titik vital bendungan. Tidak boleh ada lagi pos jaga yang gelap dari pantauan,” perintahnya.
Dedi Mulyadi juga mendesak agar manajemen PJT II meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan bagi tenaga keamanan. Dalam rapat koordinasi terbatas yang digelar di Pendopo Purwakarta, Gubernur mengungkapkan bahwa sebagian besar satpam di lingkungan PJT II masih berstatus tenaga alih daya dengan fasilitas terbatas. “Mereka adalah garda terdepan. Negara tidak boleh abai terhadap keselamatan mereka. Saya akan membawa persoalan ini ke rapat koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian BUMN, karena Perum Jasa Tirta II adalah BUMN di bawah naungan Kementerian PU,” tegasnya.
Langkah Polisi dan Respons Manajemen
Kepala Kepolisian Resor Purwakarta, AKBP Lilik Ardhiansyah, menyampaikan bahwa pihaknya telah memeriksa empat orang saksi dan mengumpulkan barang bukti berupa borgol, seutas tali, serta potongan kabel instalasi yang diduga menjadi sasaran pencurian. “Korban mengalami luka memar di bagian kepala, dan berdasarkan pemeriksaan awal, kematian disebabkan oleh proses mati lemas akibat tenggelam. Kami menduga pelaku berjumlah lebih dari satu orang karena korban dalam kondisi terborgol kedua tangannya,” jelas AKBP Lilik dalam keterangan pers pada Senin (28/7).
Sementara itu, Direktur Utama Perum Jasa Tirta II, Imam Santoso, dalam pernyataan tertulisnya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan berjanji akan mengevaluasi standar operasional prosedur keamanan. “Kami telah membentuk tim investigasi internal dan akan berkoordinasi penuh dengan aparat. Terkait CCTV, kami akan segera melakukan pemetaan ulang titik rawan dan menganggarkan pemasangan perangkat pemantau tambahan di tahun anggaran berjalan,” tulis Imam.
Insiden ini menjadi peristiwa ketiga dalam dua tahun terakhir yang melibatkan keamanan aset vital di wilayah Jawa Barat, setelah sebelumnya terjadi pencurian kabel di Waduk Cirata dan percobaan pencurian di Bendungan Saguling. Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen untuk mendorong penerapan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Keamanan Aset Vital yang mewajibkan pemasangan sistem pemantau 24 jam di seluruh fasilitas strategis.
Rencana pemasangan CCTV di kawasan Bendungan Jatiluhur ditargetkan rampung sebelum triwulan keempat tahun ini, dengan total 120 unit kamera yang akan tersebar di 30 titik, termasuk pos-pos jaga terluar. Sementara itu, jenazah Ade Setiawan telah diserahkan kepada pihak keluarga dan dimakamkan di TPU Desa Kutamanah, Purwakarta, pada Minggu sore (27/7) setelah sebelumnya menjalani autopsi di RSUD Bayu Asih.
Comments (0)