JAKARTA — Kecelakaan beruntun yang dipicu kendaraan GWM Tank di kawasan Jakarta Barat meninggalkan dampak berkepanjangan bagi sejumlah pekerja informal di sekitar lokasi. Dua tukang las, Samsudin dan Darto, menyatakan kebingungan mencari nafkah setelah peralatan kerja utama mereka berupa gerobak las mengalami kerusakan parah akibat tertabrak dalam insiden tersebut.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, kedua pekerja tersebut sehari-hari menggantungkan penghasilan dari jasa pengelasan keliling yang mereka tawarkan di wilayah sekitar Jalan Panjang, Jakarta Barat. Gerobak las yang menjadi tumpuan hidup mereka kini tidak dapat dioperasikan karena sejumlah komponen penting rusak, mulai dari rangka, mesin las, hingga tabung gas.
"Saya bingung besok mau cari duit bagaimana. Semua alat saya rusak, tidak bisa dipakai lagi," ujar Samsudin saat ditemui di lokasi kejadian.
Senada dengan Samsudin, Darto menyatakan bahwa peralatan las merupakan satu-satunya aset produktif yang ia miliki untuk menafkahi keluarga. Ia menegaskan tidak memiliki cadangan modal untuk segera mengganti peralatan yang rusak akibat kecelakaan tersebut.
Dampak Ekonomi bagi Pekerja Informal
Insiden kecelakaan beruntun yang melibatkan kendaraan GWM Tank ini tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik pada kendaraan, tetapi juga berdampak langsung terhadap keberlangsungan usaha para pekerja sektor informal. Samsudin dan Darto termasuk di antara sejumlah warga yang peralatan usahanya menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
Menurut keduanya, penghasilan harian dari jasa las keliling berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp300 ribu, tergantung jumlah pesanan. Pendapatan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk biaya pendidikan anak dan kebutuhan pokok sehari-hari. Kini, dengan peralatan yang tidak berfungsi, mereka kehilangan sumber penghasilan utama.
"Setiap hari kami keliling cari orderan. Kalau alatnya rusak begini, otomatis tidak ada pemasukan sama sekali," kata Darto.
Kedua pekerja tersebut berharap ada perhatian dari pihak-pihak terkait, baik dari pemilik kendaraan yang memicu kecelakaan maupun dari pemerintah daerah, untuk membantu pemulihan peralatan kerja mereka. Mereka mengaku belum mengetahui mekanisme pengajuan ganti rugi atas kerusakan aset yang dialami.
Perlunya Perhatian terhadap Korban Non-Kendaraan
Kasus Samsudin dan Darto menyoroti pentingnya perhatian terhadap korban kecelakaan lalu lintas yang bukan pengguna jalan raya secara langsung, namun terdampak secara ekonomi. Dalam banyak insiden kecelakaan, fokus penanganan kerap hanya tertuju pada korban luka atau kerusakan kendaraan, sementara dampak terhadap pelaku usaha kecil di sekitar lokasi sering terabaikan.
Pengamat kebijakan sosial menilai perlunya mekanisme kompensasi yang jelas bagi pekerja informal yang aset produktifnya rusak akibat kecelakaan. Selama ini, pekerja sektor informal umumnya tidak memiliki jaminan sosial ketenagakerjaan yang memadai, sehingga sangat rentan ketika terjadi musibah.
Samsudin dan Darto menyatakan telah melaporkan kerusakan yang mereka alami kepada pihak berwenang di lokasi kejadian. Namun, hingga saat ini, mereka belum menerima informasi resmi mengenai proses penggantian kerugian atas peralatan las yang rusak.
Harapan Pemulihan Usaha
Kedua tukang las tersebut menyatakan berharap proses hukum dan penanganan kecelakaan dapat berjalan transparan, termasuk terkait tanggung jawab ganti rugi. Mereka menegaskan bahwa tanpa peralatan kerja, kemampuan untuk bangkit kembali sangat terbatas.
"Kalau bisa ada bantuan supaya kami bisa kerja lagi. Anak-anak masih butuh makan," ujar Samsudin.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dampak kecelakaan lalu lintas bersifat berlapis, menjangkau kelompok masyarakat yang paling rentan secara ekonomi. Penanganan yang komprehensif, mencakup pemulihan mata pencaharian korban terdampak, dinilai penting agar kejadian serupa tidak meninggalkan persoalan sosial berkepanjangan. Pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum diharapkan dapat memastikan hak-hak para pekerja informal tersebut terpenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.
Comments (0)