Gempa M 3,6 Guncang Bantul, Warga Diminta Tetap Waspada

Getaran gempa bumi dirasakan warga Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Kamis (20/8/2026) sore. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kekuatan geta...

Gempa M 3,6 Guncang Bantul, Warga Diminta Tetap Waspada

Getaran gempa bumi dirasakan warga Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Kamis (20/8/2026) sore. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kekuatan getaran tersebut tercatat pada magnitudo (M) 3,6, dan sejauh ini belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa akibat kejadian itu.

Gempa yang menurut catatan BMKG terjadi sekitar pukul 15.31 WIB itu berlangsung dalam durasi singkat, tetapi cukup terasa oleh warga di sejumlah kecamatan. Kepanikan sempat terjadi di beberapa titik, namun situasi dilaporkan kembali kondusif setelah getaran berhenti. Pemerintah Kabupaten Bantul bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung bergerak melakukan pemantauan di lapangan.

Parameter Gempa dan Titik Episentrum

Berdasarkan analisis BMKG, episentrum gempa berada di daratan, tepatnya pada koordinat 8,01 derajat Lintang Selatan dan 110,34 derajat Bujur Timur, atau sekitar beberapa kilometer di selatan pusat Kabupaten Bantul. Kedalaman hiposentrum tercatat sekitar 10 kilometer, sehingga gempa dikategorikan sebagai gempa dangkal yang getarannya terasa cukup nyata di permukaan.

Getaran dirasakan dalam skala intensitas II hingga III Modified Mercalli Intensity (MMI) di sejumlah kecamatan, antara lain Kecamatan Kasihan, Sewon, dan Banguntapan. Pada skala III MMI, getaran dirasakan nyata di dalam rumah, seolah-olah ada kendaraan berat yang melintas di dekat bangunan. BMKG menegaskan bahwa gempa dengan kekuatan di bawah magnitudo 5,0 pada umumnya tidak menimbulkan kerusakan struktural yang signifikan, tetapi tetap perlu diwaspadai.

Respons Cepat Pemerintah Daerah

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Pemerintah Kabupaten Bantul melalui BPBD menerjunkan tim reaksi cepat untuk melakukan asesmen di sejumlah titik. Petugas memeriksa kondisi permukiman warga, fasilitas umum, bangunan sekolah, hingga tempat ibadah guna memastikan tidak ada keretakan atau kerusakan struktural yang membahayakan.

“Berdasarkan hasil asesmen sementara tim di lapangan, hingga pukul 17.30 WIB belum ditemukan kerusakan bangunan maupun korban jiwa. Kami tetap mengimbau warga untuk tidak panik dan hanya memercayai informasi resmi yang disampaikan BMKG maupun pemerintah daerah,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul dalam keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026) malam.

Bupati Bantul juga telah memerintahkan jajaran perangkat daerah untuk berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan kelurahan. Rapat koordinasi cepat digelar untuk memastikan pelayanan publik tetap berjalan normal dan memutakhirkan pendataan warga yang membutuhkan bantuan.

Dinas Sosial Kabupaten Bantul bersama Palang Merah Indonesia (PMI) menyiagakan personel serta logistik bantuan di posko siaga bencana. Tenda pengungsian, selimut, dan paket makanan siap saji disiapkan sebagai bentuk kesiapsiagaan apabila diperlukan proses evakuasi warga.

Imbauan BMKG dan Potensi Gempa Susulan

BMKG menegaskan bahwa gempa bermagnitudo 3,6 tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Meskipun demikian, lembaga tersebut mengingatkan adanya kemungkinan gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil yang dapat terjadi dalam beberapa jam ke depan.

“Gempa ini merupakan gempa dangkal yang diduga dipicu oleh aktivitas sesar aktif di daratan selatan Pulau Jawa. Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang, menjauhi bangunan yang retak, dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” ujar Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Yogyakarta.

BMKG menyatakan akan terus memutakhirkan data kegempaan melalui kanal resmi dan aplikasi informasi gempa. Masyarakat diminta memanfaatkan kanal tersebut untuk memperoleh informasi yang akurat, alih-alih menyebarkan kabar yang belum terverifikasi di media sosial.

Kewaspadaan Masyarakat dan Edukasi Kebencanaan

Pemerintah Kabupaten Bantul bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) menggencarkan edukasi kebencanaan sebagai langkah antisipasi. Warga diingatkan kembali mengenai tata cara menyelamatkan diri saat gempa terjadi, antara lain berlindung di bawah meja yang kokoh, menjauhi kaca, serta menuju lapangan terbuka setelah getaran mereda.

Sejumlah sekolah di Kecamatan Banguntapan sempat menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar untuk menenangkan peserta didik sebelum akhirnya kembali beraktivitas. BPBD juga mendorong setiap keluarga menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, dan kebutuhan dasar untuk kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan guncangan susulan. Selain itu, warga yang rumahnya mengalami retak ringan diminta segera melaporkan kepada ketua rukun tetangga setempat agar tercatat dalam pendataan BPBD dan dapat ditindaklanjuti dengan pendampingan teknis.

Hingga berita ini diturunkan, aktivitas masyarakat di Kabupaten Bantul dilaporkan berjalan normal kembali. BPBD memastikan seluruh petugas siaga dan akan terus memantau perkembangan di lapangan, termasuk menindaklanjuti setiap laporan warga melalui posko siaga bencana yang telah disiapkan di tingkat kecamatan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User