Gempa Bumi M 5,4 Guncang Buol Sulteng, BMKG Pastikan Tanpa Tsunami

Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 5,4 mengguncang wilayah Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, pada Senin, 8 Juni 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bah...

Jul 12, 2026 - 21:44
0 0
Gempa Bumi M 5,4 Guncang Buol Sulteng, BMKG Pastikan Tanpa Tsunami

Gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 5,4 mengguncang wilayah Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah, pada Senin, 8 Juni 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa episentrum gempa terletak pada koordinat 1,17 derajat Lintang Utara dan 121,43 derajat Bujur Timur, atau sekitar 12 kilometer timur laut Kota Buol. Sumber gempa berada di darat pada kedalaman sangat dangkal, yakni 10 kilometer di bawah permukaan tanah.

Berdasarkan informasi resmi dari BMKG, getaran gempa dirasakan dalam skala intensitas III hingga IV Modified Mercalli Intensity (MMI) di sebagian besar wilayah Kabupaten Buol. Pada skala III MMI, getaran dirasakan nyata di dalam rumah, seakan-akan ada truk berlalu. Sementara pada skala IV MMI, guncangan dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, gerabah pecah, jendela dan pintu berderik, serta dinding berbunyi. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa.

Parameter dan Mekanisme Sumber Gempa

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, dalam keterangan tertulisnya menegaskan bahwa gempa Buol diklasifikasikan sebagai gempa bumi dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif di darat. “Dengan memperhatikan lokasi episentrum dan kedalaman hiposentrum, gempa bumi ini merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan mendatar (strike-slip), yang mencerminkan pelepasan akumulasi tegangan batuan di zona sesar tersebut.

Parameter gempa yang dicatat oleh sensor seismik BMKG menunjukkan bahwa guncangan utama terjadi pada pukul 14.22 WITA. Beberapa menit setelahnya, stasiun pemantau gempa BMKG di Toli-Toli dan Gorontalo ikut mencatat sinyal gempa susulan dengan magnitudo lebih kecil, namun masih dalam rentang yang tidak menimbulkan kerusakan berarti. Tim Seismological Observation and Data Processing BMKG langsung mengolah data rekaman dari 32 stasiun seismik di Sulawesi bagian utara untuk memastikan potensi dampak lanjutan.

Wilayah Kabupaten Buol sendiri secara tektonik berada pada zona dengan tingkat seismisitas tinggi. Lempeng mikro Sulawesi Utara yang bergerak relatif terhadap Lempeng Sangihe dan Lempeng Pasifik menjadikan daerah ini rawan terhadap gempa bumi dangkal berskala menengah. Peta seismotectonic BMKG menunjukkan setidaknya ada tujuh segmen sesar aktif yang melintasi daratan Sulawesi Tengah bagian utara, termasuk Sesar Gorontalo dan Sesar Buol-Kwandang. Gempa M 5,4 kali ini semakin mempertegas perlunya pemutakhiran peta risiko bencana di kabupaten tersebut.

Tidak Ada Potensi Tsunami

BMKG secara tegas menyatakan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi memicu gelombang tsunami. Pernyataan tersebut didasarkan pada tiga faktor utama yang dianalisis secara cepat oleh sistem InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System). Pertama, pusat gempa berada di darat sehingga tidak memungkinkan terjadinya deformasi vertikal dasar laut yang signifikan. Kedua, magnitudo 5,4 masih berada di bawah ambang batas umum gempa pembangkit tsunami, yaitu minimal M 6,5 dengan mekanisme naik (thrust) di laut. Ketiga, hasil pemodelan numerik propagasi tsunami menunjukkan tidak ada anomali muka air laut di seluruh titik pengamatan pasang surut terdekat, termasuk di Stasiun Pasut Ogotua dan Stasiun Pasut Paleleh.

“Kami telah melakukan verifikasi data ketinggian muka air laut di seluruh stasiun pasut sekitar episentrum. Tidak teramati adanya perubahan signifikan, sehingga kami pastikan bahwa gempa ini nihil potensi tsunami,” jelas Dr. Daryono. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buol dan BPBD Kabupaten Toli-Toli untuk memastikan bahwa sirine peringatan dini tidak perlu dibunyikan, sekaligus meredam informasi bohong yang kerap beredar pascagempa.

Imbauan Kesiapsiagaan dan Mitigasi

Meskipun ancaman tsunami sudah dikesampingkan, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan. Masyarakat di sekitar pusat gempa, khususnya di Kecamatan Biau, Bokat, dan Momunu, diminta untuk memeriksa kondisi bangunan tempat tinggal. Bangunan yang mengalami retakan, meskipun kecil, disarankan untuk dikosongkan sementara dan mendapatkan asesmen dari Dinas Pekerjaan Umum setempat sebelum kembali dihuni.

“Kami meminta warga tetap tenang dan tidak terpancing oleh isu yang sumbernya tidak jelas. Pastikan informasi hanya diperoleh dari kanal resmi BMKG melalui situs bmkg.go.id, aplikasi Info BMKG, atau akun media sosial terverifikasi @infoBMKG,” tegas Daryono. Ia juga mengingatkan pentingnya latihan evakuasi mandiri secara berkala, terutama bagi warga yang tinggal di zona sesar aktif, agar respons terhadap gempa bumi menjadi gerakan refleks yang terlatih.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Buol melalui BPBD langsung mengerahkan tim reaksi cepat ke seluruh kecamatan yang melaporkan guncangan kuat. Plt. Kepala Pelaksana BPBD Buol, Abdul Haris Mopili, menyatakan bahwa posko siaga darurat telah diaktifkan di aula Kantor Bupati Buol. “Kami sudah berkoordinasi dengan seluruh camat dan kepala desa. Saat ini situasi masih kondusif, tetapi kami terus melakukan pemantauan,” ungkapnya. Logistik dasar dan alat evakuasi juga telah disiagakan apabila terjadi gempa susulan yang lebih kuat.

BMKG juga mencatat bahwa gempa Buol kali ini bukan merupakan mainshock untuk siklus seismik yang lebih besar. Aktivitas kegempaan regional dalam 30 hari terakhir memang menunjukkan peningkatan frekuensi gempa kecil di jalur sesar Buol, namun semuanya masih dalam kategori gempa swarm dengan magnitudo di bawah 4,0. Meskipun demikian, seluruh pihak diminta untuk tidak lengah karena risiko gempa signifikan di Sulawesi Tengah tetap tinggi, mengingat sejarah gempa destruktif seperti gempa Donggala-Palu M 7,4 tahun 2018.

Hingga pukul 18.00 WITA, BMKG mencatat telah terjadi empat kali gempa susulan dengan magnitudo antara 2,7 hingga 3,9. Aktivitas gempa susulan diperkirakan akan terus menurun intensitasnya dalam 24 jam ke depan. Masyarakat diimbau untuk tetap melanjutkan aktivitas secara normal dengan tetap menerapkan protokol kesiapsiagaan gempa bumi, yaitu “Lindungi Kepala, Dekati Kolom, Jauhi Kaca” saat terjadi guncangan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User