Final Genera-Z Berbakti 2026: Mahasiswa Adu Gagasan Pemberdayaan Desa Wisata

JAKARTA, Apaberita – Babak final program Genera-Z Berbakti 2026 yang digelar Bakti BCA pada Senin (16/6/2026) di Jakarta mempertemukan sepuluh tim mahasiswa dari berbagai universitas untuk mempresen...

Jul 13, 2026 - 21:31
0 0

JAKARTA, Apaberita – Babak final program Genera-Z Berbakti 2026 yang digelar Bakti BCA pada Senin (16/6/2026) di Jakarta mempertemukan sepuluh tim mahasiswa dari berbagai universitas untuk mempresentasikan strategi pemberdayaan desa wisata. Ajang ini merupakan puncak dari proses seleksi proposal yang menantang peserta merancang solusi inovatif berbasis potensi lokal, sejalan dengan agenda nasional pengembangan 3.000 desa wisata berkelanjutan.

Direktur Eksekutif Bakti BCA, Andreas Gunawan, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk mengaktifkan peran generasi muda dalam mewujudkan kemandirian ekonomi desa. “Kami percaya, mahasiswa memiliki perspektif segar dan kemampuan adaptasi digital yang dapat menjawab tantangan di lapangan. Ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan inkubasi gagasan yang nantinya akan diimplementasikan di desa dampingan,” ujarnya dalam sambutan pembuka.

Finalis Unjuk Konsep Inovatif

Sepuluh tim yang lolos ke final menyodorkan beragam pendekatan. Tim Universitas Indonesia, misalnya, mengusung model desa wisata berbasis budaya digital yang memanfaatkan teknologi realitas tertambah (AR) untuk memperkenalkan situs sejarah lokal. Sementara itu, tim Institut Teknologi Bandung menawarkan sistem pengelolaan sampah terpadu menggunakan insinerator ramah lingkungan yang diklaim mampu mengurangi limbah hingga 80 persen di kawasan wisata pesisir.

Universitas Gadjah Mada mengajukan konsep “Wisata Agro-Edukasi 4.0” yang mengintegrasikan pertanian presisi dengan wisata petik buah dan edukasi pertanian urban bagi wisatawan. Tidak kalah menarik, tim Universitas Brawijaya merancang aplikasi “DesaKu” yang menghubungkan wisatawan langsung dengan pelaku usaha mikro di desa, lengkap dengan fitur pemesanan homestay, kuliner, dan pemandu lokal.

Masing-masing tim diberi waktu 20 menit untuk memaparkan gagasan di hadapan dewan juri yang terdiri dari akademisi, praktisi pemberdayaan masyarakat, dan perwakilan pemerintah. Presentasi mencakup analisis masalah, rancangan solusi, model bisnis sosial, serta rencana implementasi selama satu tahun pasca-kompetisi.

Dewan Juri dan Kriteria Penilaian

Dewan juri diketuai oleh Prof. Dr. Retno Andriani, Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB University, yang menekankan pentingnya keberlanjutan dan partisipasi warga. “Kami tidak hanya menilai kecemerlangan ide, tetapi juga kelayakan sosial, dampak ekonomi, dan potensi replikasi di desa-desa lain. Mahasiswa harus membuktikan bahwa gagasan mereka dapat berjalan di lapangan, bukan hanya indah di atas kertas,” tuturnya.

Anggota dewan juri lainnya mencakup Ir. Bambang Setyawan, M.Si., Direktur Pengembangan Desa Wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Dewi Lestari, praktisi pemberdayaan masyarakat dari Lembaga Swadaya Masyarakat Lokalita. Bambang menambahkan bahwa sejalan dengan instruksi Presiden, pemerintah menargetkan penambahan 1.000 desa wisata baru pada 2026–2027, dan kontribusi mahasiswa sangat dinantikan.

Penilaian dilakukan berdasarkan empat indikator utama: orisinalitas gagasan (30 persen), kelayakan implementasi (30 persen), dampak ekonomi lokal (25 persen), dan kemampuan presentasi (15 persen). Setiap juri memberikan skor secara independen, dan hasil akhir diumumkan pada malam pengumuman pemenang yang diselenggarakan setelah sesi presentasi.

Para Pemenang dan Gagasan Terpilih

Setelah melalui diskusi yang ketat, dewan juri menetapkan tim dari Universitas Gadjah Mada sebagai juara pertama dengan gagasan Wisata Agro-Edukasi 4.0. Tim yang digawangi oleh Aditya Pratama, Rina Mulyani, dan Fajar Ramadhan ini dinilai memiliki rencana bisnis yang paling matang dan potensi dampak ekonomi yang terukur. “Kami merancang konsep ini setelah melakukan survei di tiga desa di Sleman. Petani setempat sangat antusias karena model ini bisa mendongkrak pendapatan mereka hingga 40 persen,” ujar Aditya dalam paparan kemenangannya.

“Kemenangan ini bukanlah akhir, tetapi awal dari kerja nyata. Kami akan segera memulai pilot project di Desa Wisata Kembangarum, bekerja sama dengan dinas pariwisata setempat dan kelompok tani,” tegas Aditya.

Juara kedua diraih oleh tim Institut Teknologi Bandung dengan gagasan pengelolaan sampah terpadu, sementara posisi ketiga ditempati tim Universitas Indonesia dengan model budaya digital. Masing-masing pemenang memperoleh dana pengembangan proyek senilai Rp200 juta, Rp125 juta, dan Rp75 juta, serta kesempatan pendampingan selama enam bulan dari Bakti BCA dan mitra inkubasi bisnis.

Dukungan Ekosistem Desa Wisata

Program Genera-Z Berbakti 2026 merupakan bagian dari komitmen Bakti BCA dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Desa, khususnya pada pilar ekonomi inklusif dan pelestarian lingkungan. Sepanjang tahun 2025, Bakti BCA telah mendampingi 25 desa wisata di 10 provinsi, dengan fokus pada pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan digitalisasi pemasaran.

Andreas Gunawan menegaskan bahwa tahun ini pihaknya sengaja membuka ruang bagi mahasiswa untuk berkontribusi langsung. “Kami tidak ingin program ini berhenti pada seremoni. Setiap proposal pemenang akan kami kawal hingga benar-benar memberikan dampak. Kami juga menggandeng pemerintah daerah untuk memastikan sinkronisasi dengan rencana pembangunan desa,” pungkasnya.

Ke depan, Bakti BCA berencana mengintegrasikan hasil kompetisi ini ke dalam platform Desa Digital BCA yang telah menjangkau 150 desa binaan. Dengan demikian, inovasi mahasiswa tidak hanya menjadi wacana, melainkan solusi nyata yang memperkuat ekosistem desa wisata nasional.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User