Festival Ngemar Kawa Jadi Panggung Kopi Tepal Go Global
MATARAM – Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, di bawah kepemimpinan Bupati Syarafuddin Jarot, semakin serius membawa Kopi Tepal dari Kecamatan Batulanteh menembus pasar internasional....
MATARAM – Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, di bawah kepemimpinan Bupati Syarafuddin Jarot, semakin serius membawa Kopi Tepal dari Kecamatan Batulanteh menembus pasar internasional. Komitmen itu dipertegas dalam gelaran Festival Ngemar Kawa yang dirancang sebagai etalase kolaboratif antara kekayaan cita rasa lokal dan jejaring dagang mancanegara.
Potensi Kopi Tepal di Kaki Gunung Batu Lanteh
Kopi Tepal tumbuh di dataran tinggi Kecamatan Batulanteh pada ketinggian 800 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini memiliki karakteristik tanah vulkanik dan iklim mikro yang menghasilkan profil rasa khas, terutama pada varietas robusta dan arabika yang dibudidayakan secara turun-temurun. Berdasarkan pendataan Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa tahun ini, luas lahan kopi di Batulanteh mencapai 1.245 hektare dengan produktivitas rata-rata 0,8 ton per hektare. Sebagian besar hasil panen selama ini diserap pasar domestik, namun potensi ekspor dinilai sangat besar jika mutu dan pengemasan ditingkatkan secara konsisten.
Kepala Dinas Pertanian Sumbawa, Andi Setiawan, menyebutkan bahwa uji cita rasa yang dilakukan pada Februari lalu oleh panelis bersertifikat nasional memberikan skor 83,5 untuk arabika Tepal, sebuah angka yang melampaui ambang batas speciality coffee. “Skor ini menjadi modal utama kami untuk memposisikan Kopi Tepal sejajar dengan kopi-kopi unggulan dari Gayo atau Toraja,” ujarnya di Sumbawa Besar, Selasa (25/6).
Ngemar Kawa: Tradisi Minum Kopi dalam Cangkir Bambu
Festival Ngemar Kawa yang digelar di Lapangan Desa Tepal pada 20–22 Juni 2024 menjadi penanda kebangkitan tradisi minum kopi masyarakat setempat. Istilah “Ngemar Kawa” merujuk pada kebiasaan menyeduh kopi robusta dalam cangkir bambu yang dipanaskan di atas bara api, menciptakan sensasi aroma karamel alami. Tradisi ini sempat meredup, namun kini dihidupkan kembali sebagai kekuatan budaya penopang promosi komoditas.
Dalam pembukaan festival, Bupati Syarafuddin Jarot menegaskan bahwa penggabungan narasi budaya dan mutu produk adalah strategi jitu menembus pasar global. “Kopi Tepal bukan sekadar minuman, melainkan cerita tentang petani di lereng Batu Lanteh yang pantang menyerah. Narasi inilah yang akan kita bawa ke kancah internasional,” kata Bupati di hadapan ratusan pengunjung dan perwakilan mitra dagang.
Festival ini diisi dengan pameran kopi dari 15 kelompok tani, loka karya pengolahan pascapanen, serta kompetisi seduh manual yang dinilai langsung oleh juri internasional dari Specialty Coffee Association (SCA) perwakilan Asia Pasifik. Sesi temu bisnis turut mempertemukan para petani dengan pembeli dari Malaysia dan Singapura yang secara khusus diundang oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB.
Dukungan Multi-Pihak dan Peta Jalan Ekspor
Pemerintah kabupaten tidak berjalan sendiri. Dalam Rapat Koordinasi Tim Pengembangan Ekspor Daerah yang berlangsung pada awal Juni, disepakati alokasi anggaran senilai Rp2,3 miliar untuk perbaikan infrastruktur pengolahan dan sertifikasi organik di sentra kopi Batulanteh. Dana tersebut bersumber dari APBD Perubahan 2024 dan Dana Alokasi Khusus dari pemerintah pusat. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumbawa, Rahman Hadi, menyatakan lembaganya telah menyetujui penuh program tersebut. “Kami mendorong eksekutif agar tepat waktu dalam merealisasikan rumah kemasan dan laboratorium mutu yang menjadi syarat wajib ekspor,” tegasnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sumbawa, Lina Marlina, menyebutkan bahwa roadmap ekspor kopi Tepal menargetkan penetrasi pasar Eropa melalui kerja sama dengan koperasi spesialti di Belanda dan Jerman. “Kami sedang menyelesaikan dokumen Indikasi Geografis untuk Kopi Batulanteh. Setelah sertifikat itu terbit, negosiasi kuota ekspor akan segera dimulai,” jelasnya. Saat ini, volume panen yang bisa dialokasikan untuk ekspor diperkirakan mencapai 200 ton green bean per tahun, dengan nilai potensial sekitar USD 1,2 juta berdasarkan harga spesialti global.
Dukungan juga datang dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) NTB yang menawarkan pendampingan kemitraan dan akses pembiayaan melalui program Kemitraan Strategis Kopi Nusantara. Ketua Kadin NTB, Haji Faisal, mengungkapkan telah menjajaki kerjasama dengan importir di Timur Tengah. “Pasar Dubai dan Riyadh sangat terbuka untuk kopi single origin Indonesia. Mereka mencari traceability dan nilai budaya, dua hal yang kuat pada Kopi Tepal,” ujarnya di Mataram.
Suara Petani dan Harapan Besar
Ketua Kelompok Tani Makmur Sejahtera Desa Tepal, Ahmad Zulkifli, mengungkapkan bahwa harga jual kopi mereka sebelumnya hanya berkisar Rp40.000 per kilogram dalam bentuk ceri. Setelah pendampingan dan masuknya akses pasar premium, petani kini bisa menjual green bean dengan harga Rp120.000 per kilogram. “Pendapatan kami naik tiga kali lipat. Sekarang anak-anak bisa lanjut kuliah dari hasil kebun kopi,” akunya dengan nada syukur.
Festival Ngemar Kawa, menurut Bupati Jarot, tidak akan menjadi acara seremonial belaka. Ia berjanji bahwa setiap tahunnya akan ada evaluasi berbasis indikator: pertumbuhan volume ekspor, peningkatan jumlah petani tersertifikasi, dan masuknya Kopi Tepal ke sedikitnya tiga negara baru pada 2025. “Kita buktikan bahwa dari desa di punggung gunung, kopi kita bisa menembus kafe-kafe di Melbourne, Seoul, dan Amsterdam. Itu bukan mimpi, itu rencana,” pungkas Bupati.
Dengan sinergi antara pemerintah, petani, dan sektor swasta, Kopi Tepal kini berada di persimpangan bersejarah. Jika fondasi yang telah dibangun berjalan konsisten, bukan tidak mungkin nama Tepal akan bersanding dengan kopi legendaris dunia dalam satu dekade mendatang.
Comments (0)