Erlina Burhan Sebut Pelacakan 100% Kontak TB Kunci Putus Penularan

Jakarta – Dokter spesialis paru Erlina Burhan menegaskan bahwa penelusuran menyeluruh terhadap seluruh individu yang pernah berkontak erat dengan penderita tuberkulosis (TB) merupakan instrumen vita...

Jul 12, 2026 - 07:02
0 1

Jakarta – Dokter spesialis paru Erlina Burhan menegaskan bahwa penelusuran menyeluruh terhadap seluruh individu yang pernah berkontak erat dengan penderita tuberkulosis (TB) merupakan instrumen vital untuk memutus rantai penularan penyakit yang masih menjadi beban kesehatan nasional ini. Dalam pernyataannya, Erlina menyebut kebijakan pemerintah yang mewajibkan pelacakan kontak hingga 100 persen sebagai langkah strategis yang tak bisa ditawar.

“Kita tidak bisa lagi sekadar menunggu pasien datang. Pendekatan pasif itu membuat kita terus berkejaran dengan mata rantai penularan yang tak terlihat. Pelacakan kontak erat secara tuntas adalah bagian dari deteksi aktif yang harus dijalankan dengan disiplin tinggi,” ujar Erlina Burhan di Jakarta, Kamis.

Dasar Kebijakan dan Cakupan Pelacakan

Kewajiban investigasi kontak hingga 100 persen ini tertuang dalam regulasi terbaru yang diterbitkan Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Aturan tersebut menindaklanjuti hasil evaluasi program TB nasional yang mencatat tingkat keberhasilan pelacakan kontak pada tahun-tahun sebelumnya masih berkisar 43–57 persen dari total kontak teridentifikasi. Angka itu dinilai terlalu rendah untuk sebuah upaya eliminasi yang menargetkan Indonesia bebas TB pada tahun 2030.

Dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan TB yang digelar pekan lalu, Kementerian Kesehatan menyatakan akan memperkuat peran puskesmas dan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) sebagai garda terdepan investigasi kontak. Setiap petugas diminta mencatat, mengunjungi, dan memeriksa seluruh kontak serumah maupun non-serumah, termasuk rekan kerja dan kontak sosial lain yang memiliki pajanan minimal delapan jam dalam ruang tertutup.

Data dan Beban Nasional

Merujuk pada Laporan Tuberkulosis Global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2024, Indonesia masih menempati posisi kedua sebagai negara dengan beban TB tertinggi di dunia, setelah India. Estimasi insiden TB pada tahun 2023 mencapai 1.060.000 kasus baru, dengan angka kematian berkisar 134.000 jiwa per tahun. Sebagian besar kasus baru berasal dari lingkungan domestik atau tempat kerja yang padat, di mana kontak erat berlangsung tanpa perlindungan memadai.

“Setiap satu pasien TB paru basil tahan asam (BTA) positif yang tidak terlacak kontaknya berpotensi menularkan kepada 10–15 orang lain dalam waktu satu tahun. Maka, menelusuri dan memeriksa seluruh kontak erat bukan lagi pilihan, melainkan keharusan program,” jelas Erlina Burhan.

Tantangan Lapangan dan Respons Tenaga Medis

Di sejumlah daerah dengan beban TB tinggi seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Papua, persoalan geografis dan stigma sosial kerap menjadi kendala. Namun Erlina menilai hal itu tak bisa dijadikan alasan untuk menurunkan target pelacakan. Ia mengusulkan penguatan logistik, insentif bagi kader kesehatan, serta pendekatan komunikasi risiko yang lebih masif agar masyarakat tak lagi mengucilkan penderita dan kontaknya.

“Kader TB di komunitas, bidan desa, hingga posyandu harus dilengkapi dengan pemahaman teknis dan suplai alat pelindung diri yang cukup. Mereka adalah ujung tombak yang sehari-hari berhadapan langsung dengan keluarga pasien. Tanpa dukungan itu, target 100 persen hanya akan menjadi jargon di atas kertas,” tegasnya.

Langkah Menuju Eliminasi 2030

Pelacakan kontak total, menurut Erlina, harus berjalan beriringan dengan peningkatan penemuan kasus aktif, pengobatan tuntas hingga sembuh, dan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) bagi kontak yang memenuhi syarat. Rangkaian intervensi ini menjadi pilar utama dalam Strategi End TB yang digariskan pemerintah.

“Jika pelacakan kontak berhasil menembus 100 persen, maka proporsi penemuan kasus—yang tahun lalu sekitar 75 persen dari target insiden—bisa melonjak signifikan. Pada akhirnya, kita bisa mempersempit celah antara kasus terdiagnosis dan kasus di komunitas yang luput dari pantauan,” ujarnya.

Kementerian Kesehatan menargetkan cakupan investigasi kontak mencapai 100 persen paling lambat akhir tahun fiskal 2026. Erlina mengingatkan bahwa target ambisius tersebut hanya akan terwujud bila pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat bersinergi. “Kita sudah punya alat diagnostik cepat molekuler yang sensitif. Tinggal kemauan politik dan ketekunan lapangan yang menentukan,” pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User