Duka mendalam menyelimuti vokalis Kangen Band, Andika Mahesa, setelah mengetahui putra kandungnya
Kronologi Perundungan yang Dialami Putra Andika Kejadian bermula pada awal semester ganjil lalu, tepatnya di bulan September, ketika putra Andika yang kini
Kronologi Perundungan yang Dialami Putra Andika
Kejadian bermula pada awal semester ganjil lalu, tepatnya di bulan September, ketika putra Andika yang kini duduk di kelas lima sekolah dasar swasta di kawasan Jakarta Timur mulai menunjukkan perubahan perilaku. Bocah berusia 10 tahun itu kerap pulang dengan mata sembab, seragam kusut, dan enggan bercerita tentang aktivitas sekolahnya. Kecurigaan Andika dan sang istri semakin memuncak saat sang anak mengalami mimpi buruk dan tiba-tiba mogok sekolah selama tiga hari berturut-turut.
Setelah melalui komunikasi intens, akhirnya sang anak bercerita bahwa ia menjadi sasaran perundungan fisik dan verbal oleh sekelompok teman sekelas. Bentuk kekerasan yang dialami meliputi pemukulan ringan di area perut, ejekan fisik karena tubuhnya yang lebih kecil, hingga isolasi sosial di jam istirahat. Puncaknya, sang anak didorong dari tangga saat jam olahraga, mengakibatkan lecet pada lutut dan trauma psikologis yang berkepanjangan.
Respons Pihak Sekolah yang Dianggap Lamban
Andika mengaku telah menempuh jalur mediasi dengan pihak sekolah sebanyak tiga kali pertemuan. Dalam pertemuan pertama, ia hanya mendapatkan janji pemanggilan terhadap para siswa yang diduga sebagai pelaku. Namun, hingga dua pekan kemudian, tidak ada tindakan tegas yang terlihat; pelaku hanya menerima teguran lisan tanpa konsekuensi berarti.
"Saya datang sebagai orang tua yang berharap sekolah bisa menjadi tempat aman bagi anak saya. Tapi respons wali kelas sangat mengecewakan, mereka cenderung menyepelekan dan menyebutnya sebagai kenakalan anak-anak biasa. Padahal anak saya sudah tidak mau makan dan selalu ketakutan berangkat ke sekolah," ujar Andika dengan nada kecewa, saat ditemui di kediamannya, Senin (18/3).
Kepala sekolah, yang dihubungi terpisah, menyampaikan bahwa pihaknya sedang melakukan pembinaan internal dan meminta waktu untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Namun, belum ada kejelasan sanksi yang diberikan kepada para pelaku hingga berita ini diturunkan.
Langkah Tegas Andika Mahesa: Pindah Sekolah
Kesabaran Andika akhirnya habis. Per 1 Februari lalu, ia resmi memindahkan putranya ke sebuah sekolah swasta berbasis kurikulum internasional di kawasan Jakarta Selatan. Sekolah ini dikenal memiliki kebijakan ketat terhadap perundungan, lengkap dengan program konseling rutin dan sistem pelaporan insiden berbasis aplikasi yang terintegrasi dengan orang tua.
"Saya tidak mau ambil risiko lagi. Kesehatan mental anak saya adalah prioritas utama. Biaya bukan masalah, yang penting dia bisa belajar dengan aman dan bahagia. Saya juga mengajak semua orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan emosi anak—jangan sampai terlambat seperti yang saya alami," tegas Andika.
Keputusan ini mendapat dukungan luas dari rekan sesama musisi dan para penggemar. Banyak yang menyampaikan simpati melalui media sosial, mengapresiasi keberanian Andika mengungkap kasus ini demi memberi pelajaran berharga tentang bahaya perundungan di lingkungan pendidikan.
Dukungan Netizen dan Pesan Anti-Bullying
Di akun Instagram pribadinya, Andika mengunggah foto putranya yang kembali ceria di sekolah baru dengan keterangan singkat penuh makna. Unggahan itu dibanjiri lebih dari 200 ribu tanda suka dan ribuan komentar positif dalam waktu 24 jam. Banyak orang tua bercerita pengalaman serupa, menjadikan kasus ini sebagai momentum untuk mendorong transparansi dan ketegasan setiap sekolah dalam menangani perundungan.
Pengamat pendidikan anak, Dr. Ratna Sari Dewi dari Universitas Indonesia, menyayangkan lambatnya respons pihak sekolah yang seharusnya menjadi lini terdepan perlindungan anak. "Sekolah perlu memiliki prosedur operasional standar yang jelas, melibatkan psikolog, dan memberlakukan sanksi edukatif yang konsisten. Perundungan yang dibiarkan bisa berdampak pada gangguan kecemasan dan depresi jangka panjang pada anak," ujarnya dalam wawancara terpisah.
Kini, putra Andika mulai menunjukkan kemajuan berarti. Ia kembali aktif mengikuti pelajaran dan bahkan bergabung dengan klub musik di sekolah barunya. Bagi Andika, pengalaman pahit ini menjadi cambuk untuk lebih vokal menyuarakan gerakan anti-bullying di berbagai kesempatan, termasuk melalui program sekolah aman yang tengah ia inisiasi bersama yayasannya.
Comments (0)