Dokter Ungkap Penyebab Kulit dan Rambut Berubah saat Perimenopause
JAKARTA, Apaberita — Fase perimenopause yang dialami perempuan tidak hanya menandai perubahan siklus menstruasi, tetapi juga memicu transformasi signifikan pada kondisi kulit dan rambut. Dokter Spes...
JAKARTA, Apaberita — Fase perimenopause yang dialami perempuan tidak hanya menandai perubahan siklus menstruasi, tetapi juga memicu transformasi signifikan pada kondisi kulit dan rambut. Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer Konsultan Functional, Orthomolecular, and Metabolic Care dari Primaya Hospital, Dr. dr. Komang Ardi Wahyuningsih, M.Biomed (AAM)., Sp.KKLP, Subsp.FOMC, menegaskan bahwa perubahan biologis selama masa transisi menuju menopause menjadi akar permasalahan utama.
Dalam keterangan resmi yang diterima redaksi, dr. Komang yang akrab disapa dr. Nining menjelaskan bahwa penurunan kadar hormon estrogen menjadi pemicu utama perubahan tersebut. Menurutnya, estrogen memiliki peran krusial dalam menjaga kesehatan kulit, terutama dalam mempertahankan produksi kolagen, elastin, dan asam hialuronat yang berfungsi menjaga kekenyalan, elastisitas, dan kelembapan kulit.
“Perubahan hormon bisa berdampak pada kesehatan kulit dan rambut. Penurunan estrogen menyebabkan produksi kolagen dan elastin berkurang sehingga kulit menjadi lebih tipis, kering, dan kehilangan elastisitas. Sementara itu, memendeknya fase pertumbuhan rambut menyebabkan rambut jadi tipis. Namun tak perlu khawatir, kondisi ini merupakan proses biologis yang dapat dikelola,” ujarnya.
dr. Nining menambahkan bahwa perempuan kerap merasakan kulit lebih kering, munculnya garis halus, hingga rambut yang semakin mudah rontok saat memasuki perimenopause. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukanlah hal yang perlu ditakuti, melainkan bagian dari proses biologis yang dapat dikelola dengan pendekatan yang tepat.
Penurunan Kolagen dan Elastin
Menurut dr. Nining, estrogen berperan penting dalam menjaga kesehatan kulit. Hormon ini membantu mempertahankan produksi kolagen, elastin, dan asam hialuronat yang berfungsi menjaga kulit tetap kenyal, elastis, dan lembap. Saat kadar estrogen mulai menurun, produksi ketiga komponen tersebut ikut berkurang sehingga kulit menjadi lebih tipis, kehilangan kekencangan, dan terasa lebih kering.
Di saat yang sama, proses regenerasi sel juga melambat sehingga tanda-tanda penuaan lebih mudah terlihat. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya radikal bebas dan peradangan kronis yang dapat merusak kolagen, elastin, hingga DNA sel kulit. dr. Nining mengungkapkan data yang mengejutkan mengenai tingkat kehilangan kolagen pada perempuan pascamenopause.
“Sekitar 30 persen kolagen kulit dapat hilang dalam lima tahun pertama setelah menopause. Setelah itu, jumlah kolagen terus berkurang sekitar 2 persen setiap tahunnya,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat kulit tampak lebih kendur dan garis-garis halus menjadi semakin jelas. dr. Nining menekankan bahwa proses ini merupakan konsekuensi alami dari perubahan hormonal yang terjadi dalam tubuh perempuan.
Dampak pada Fase Pertumbuhan Rambut
Tidak hanya kulit, perubahan hormonal selama perimenopause juga berdampak pada kesehatan rambut. dr. Nining menjelaskan bahwa penurunan estrogen menyebabkan memendeknya fase pertumbuhan rambut. Akibatnya, rambut menjadi lebih tipis dan mudah rontok dibandingkan dengan kondisi sebelumnya.
Fase pertumbuhan rambut yang normalnya berlangsung selama beberapa tahun menjadi lebih singkat, sehingga rambut tidak memiliki cukup waktu untuk tumbuh panjang dan kuat. Perempuan yang mengalami perimenopause seringkali mengeluhkan volume rambut yang berkurang secara signifikan.
Meskipun demikian, dr. Nining memberikan pesan optimisme kepada para perempuan yang mengalami kondisi ini. Ia menegaskan bahwa penuaan adalah hal yang tidak dapat dihindari, namun percepatan proses penuaan dapat dicegah dengan pengelolaan yang tepat.
“Aging is inevitable. Looking older faster is not,” tambah dokter yang akrab disapa Nining tersebut.
Pengelolaan dan Langkah Preventif
dr. Nining menyarankan agar perempuan yang memasuki fase perimenopause tidak panik menghadapi perubahan kulit dan rambut. Ia merekomendasikan pendekatan holistik yang mencakup pola makan sehat, hidrasi yang cukup, serta perawatan kulit yang tepat untuk meminimalkan dampak penurunan estrogen.
Konsumsi makanan kaya antioksidan dan nutrisi pendukung kolagen seperti vitamin C, zinc, dan protein berkualitas menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan kulit dari dalam. Selain itu, penggunaan produk perawatan kulit yang mengandung bahan aktif seperti retinol dan asam hialuronat dapat membantu mempertahankan kelembapan dan elastisitas kulit.
Untuk kesehatan rambut, dr. Nining menyarankan agar perempuan menghindari perawatan rambut yang terlalu keras seperti pewarnaan berlebihan atau penggunaan alat penata rambut bersuhu tinggi. Perawatan rambut yang lembut dan penggunaan produk yang mengandung biotin serta nutrisi rambut lainnya dapat membantu mengurangi kerontokan.
dr. Nining juga menekankan pentingnya konsultasi dengan dokter spesialis untuk mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Setiap perempuan memiliki respons yang berbeda terhadap perubahan hormonal, sehingga pendekatan personal menjadi kunci keberhasilan pengelolaan kondisi ini.
Dengan pemahaman yang baik mengenai penyebab perubahan kulit dan rambut saat perimenopause, perempuan dapat mengambil langkah proaktif untuk menjaga kesehatan dan penampilan mereka. dr. Nining mengingatkan bahwa fase ini adalah bagian alami dari kehidupan perempuan yang dapat dijalani dengan percaya diri dan perawatan yang tepat.
Comments (0)