Dishub Bandung Gelar Uji Coba Rekayasa Lalu Lintas Bandara Husein

KOTA BANDUNG — Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung akan menggelar uji coba rekayasa lalu lintas di kawasan Bandara Husein Sastranegara guna mengantisip

Jul 08, 2026 - 13:43
0 0
KOTA BANDUNG — Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung akan menggelar uji coba rekayasa lalu lintas di kawasan Bandara Husein Sastranegara guna mengantisipasi lonjakan aktivitas penerbangan yang berpotensi mencapai 21 penerbangan dari sejumlah maskapai. Simulasi ini menjadi langkah strategis untuk memastikan akses keluar-masuk bandara tetap lancar meski volume kendaraan meningkat tajam. Uji coba tersebut merupakan hasil koordinasi lintas instansi: kepolisian, pengelola Bandara Husein Sastranegara, Lanud Husein Sastranegara, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), dan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat. Kolaborasi ini menegaskan bahwa penataan kawasan bandara tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah kota. Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, Rasdian Setiadi, menjelaskan salah satu skenario utama adalah pembukaan dua jalur akses dari pintu utama di Jalan Pajajaran. Saat ini, pintu tersebut hanya mengandalkan satu jalur kendaraan. “Kalau di atas kertas memang mudah. Tapi saat diuji di lapangan akan terlihat titik penyempitan, antrean kendaraan, atau bottleneck yang harus dibenahi,” ujar Rasdian, Selasa (7/7/2026). Tidak hanya akses masuk, simulasi juga akan menguji pola sirkulasi di area self drop-off, termasuk titik putar balik (U‑turn) yang rawan penumpukan. Pintu keluar melalui Pintu 4 menuju Jalan Abdul Rahman Saleh akan dievaluasi efektivitasnya sebagai jalur alternatif. “Simulasi lapangan diperlukan untuk mengetahui kondisi riil yang tidak selalu tergambar dalam perencanaan,” tambahnya. Aspek infrastruktur pendukung pun menjadi perhatian. Dishub akan mengecek kebutuhan rambu penunjuk arah, rambu lalu lintas, dan marka jalan. Jika ditemukan kekurangan, pemasangan akan langsung dilakukan agar kawasan bandara lebih tertata dan siap menyambut peningkatan frekuensi penerbangan. Untuk area parkir, lahan yang tersedia saat ini tetap dikelola oleh Lanud Husein Sastranegara. Dishub hanya membantu mengatur sirkulasi kendaraan di dalam kawasan parkir agar arus masuk dan keluar berjalan lebih lancar tanpa menyebabkan penumpukan di akses utama. Pada sisi transportasi umum, angkutan kota (angkot) diperkirakan tidak akan masuk ke dalam kawasan bandara. Pemerintah Kota Bandung justru mengusulkan agar salah satu trayek angkot melintasi area bandara sebagai bagian dari integrasi dengan rencana pengembangan Bus Rapid Transit (BRT). Sementara itu, pengaturan shuttle, taksi daring, dan ojek online tetap menjadi kewenangan pemerintah pusat dan provinsi. Hasil uji coba ini akan menjadi dasar penyempurnaan rekayasa lalu lintas sebelum operasional penerbangan benar-benar meningkat. Dengan potensi melayani hingga 21 penerbangan, Bandara Husein Sastranegara membutuhkan sistem lalu lintas yang andal demi menjaga mobilitas penumpang tetap efisien.

Analisis Kesiapan Infrastruktur

Peningkatan jumlah penerbangan mendorong evaluasi menyeluruh pada infrastruktur akses bandara. Jika merujuk pada konfigurasi saat ini, potensi kemacetan sangat mungkin terjadi, terutama di pintu utama Jalan Pajajaran dan area drop-off. Pembukaan dua jalur dari sebelumnya hanya satu jalur merupakan intervensi minimal yang dapat melipatgandakan kapasitas masuk. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada desain U‑turn dan sinkronisasi dengan Pintu 4 sebagai jalur keluar alternatif. Perbaikan rambu dan marka yang dilakukan langsung saat simulasi adalah langkah taktis. Biasanya, penundaan pemasangan rambu mengakibatkan confusion di lapangan saat volume kendaraan melonjak. Dengan eksekusi cepat, risiko kebingungan pengendara dapat ditekan. Keputusan untuk tidak membiarkan angkot masuk kawasan bandara namun mengintegrasikannya dalam trayek BRT menunjukkan arah kebijakan transportasi massal yang lebih tertata di masa depan. Namun, pengelolaan taksi daring dan ojek online yang tetap berada di bawah pemerintah pusat dan provinsi menimbulkan tantangan koordinasi, karena titik kumpul kendaraan ride-hailing sering menjadi sumber kemacetan liar. Berikut perbandingan kondisi sebelum dan target setelah uji coba rekayasa lalu lintas:
AspekSebelum SimulasiSetelah Rekayasa (Target)
Akses pintu utama Jl. Pajajaran1 jalur2 jalur
Sirkulasi drop-off & U‑turnBelum tertataDiuji dan dievaluasi langsung
Pintu keluar alternatif (Pintu 4)Belum dioptimalkanDiuji akses ke Jl. Abdul Rahman Saleh
Rambu dan marka jalanBelum lengkapDipasang sesuai kebutuhan saat simulasi
Integrasi angkutan umumTidak masuk kawasanDiusulkan trayek angkot melintas; persiapan BRT
Akses keluar dari area parkirBerpotensi penumpukanSirkulasi diatur oleh Dishub
Secara keseluruhan, uji coba ini adalah fondasi penting untuk memvalidasi desain rekayasa lalu lintas sebelum lonjakan penerbangan terjadi. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada konsistensi eksekusi dan evaluasi data di lapangan, bukan sekadar perencanaan di atas kertas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User