Deteksi Dini Gangguan Mata Kunci Lansia Pertahankan Penglihatan
Kementerian Kesehatan baru-baru ini merilis data yang menunjukkan peningkatan signifikan jumlah lansia yang mengalami gangguan penglihatan akibat penuaan. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) ter...
Kementerian Kesehatan baru-baru ini merilis data yang menunjukkan peningkatan signifikan jumlah lansia yang mengalami gangguan penglihatan akibat penuaan. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terbaru, prevalensi kebutaan dan gangguan penglihatan berat pada kelompok usia di atas 60 tahun mencapai 4,6 persen, dengan katarak sebagai penyebab utama. Angka ini, menurut para ahli, bisa ditekan secara drastis jika deteksi dini dan pemeriksaan mata rutin dilakukan secara teratur.
Ancaman Senyap di Usia Lanjut
Gangguan penglihatan pada lansia sering kali berjalan tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. dr. Mayang Sari, Sp.M(K), dokter spesialis mata konsultan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, menjelaskan bahwa penyakit seperti glaukoma sering dijuluki "the silent thief of sight" karena dapat merusak saraf mata secara perlahan tanpa disadari penderita. "Lansia kerap merasa penglihatannya hanya buram biasa, padahal itu bisa jadi indikasi awal degenerasi makula atau retinopati diabetik," ujarnya dalam sebuah seminar kesehatan di Jakarta, Selasa (16/10). Selain itu, presbiopi atau rabun dekat akibat penuaan alami juga sering dianggap wajar padahal memerlukan koreksi lensa yang tepat agar tidak mengganggu aktivitas harian. Tanpa intervensi, kondisi-kondisi tersebut berpotensi menurunkan kualitas hidup lansia secara drastis, mulai dari risiko jatuh, isolasi sosial, hingga ketergantungan pada orang lain.
Pemeriksaan Berkala Sebagai Solusi Preventif
Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) menegaskan bahwa pemeriksaan mata komprehensif setidaknya sekali setahun sangat dianjurkan bagi mereka yang berusia di atas 60 tahun, terlepas ada tidaknya keluhan. Pemeriksaan ini meliputi pengukuran tajam penglihatan, pemeriksaan segmen anterior dan posterior mata, serta pengukuran tekanan intraokular untuk mendeteksi glaukoma. "Dengan rutin memeriksakan mata, kita bisa menemukan katarak yang belum matang, glaukoma di stadium awal, atau perubahan pada retina akibat diabetes yang bisa segera ditangani sebelum menimbulkan kerusakan permanen," jelas dr. Budi Wirawan, Ketua Bidang Ilmiah PERDAMI. Intervensi dini, seperti operasi katarak yang kini semakin aman dan terjangkau, mampu mengembalikan penglihatan hingga mendekati normal. Data dari Kementerian Kesehatan mencatat, operasi katarak dengan teknologi fakoemulsifikasi telah berhasil meningkatkan kualitas penglihatan lebih dari 85 persen pasien lansia di fasilitas kesehatan tingkat lanjut.
Kendala Akses dan Upaya Pemerintah
Meski manfaatnya besar, akses terhadap pemeriksaan mata masih menjadi tantangan, terutama bagi lansia di daerah terpencil. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dr. Yunita Dyah Suminar, M.Kes., menyatakan bahwa keterbatasan tenaga spesialis mata dan mahalnya biaya pemeriksaan sering menjadi penghalang. "Kami terus mengoptimalkan program mobil klinik mata keliling dan operasi katarak gratis yang bekerja sama dengan puskesmas di 35 kabupaten/kota," katanya saat dihubungi. Pemerintah pusat melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebenarnya telah menanggung biaya pemeriksaan mata dasar hingga operasi katarak, namun sosialisasi yang merata masih diperlukan. Dalam Rapat Koordinasi Nasional Kesehatan Indra Juni lalu, Kementerian Kesehatan menargetkan penambahan 50 unit alat pemeriksaan fundus di puskesmas sentinel untuk memperkuat deteksi dini retinopati diabetik, salah satu komplikasi diabetes yang banyak menyerang lansia.
Peran Keluarga dan Komunitas
Di luar aspek medis, dukungan keluarga dan lingkungan berperan vital dalam mendorong lansia memeriksakan mata secara teratur. Studi yang dipublikasikan di Jurnal Oftalmologi Indonesia edisi Maret lalu menunjukkan bahwa lansia yang mendapat ajakan dan pendampingan dari anggota keluarga memiliki tingkat kepatuhan pemeriksaan mata tahunan hingga tiga kali lipat lebih tinggi dibanding yang tidak. "Anak dan cucu harus peka terhadap perubahan perilaku lansia, misalnya sering menyipitkan mata, menjatuhkan benda, atau mengurangi aktivitas membaca. Itu bisa jadi alarm untuk segera memeriksakan ke dokter mata," ujar psikolog geriatri, Hana Pertiwi, M.Psi. Beberapa komunitas lansia di Jakarta dan Bandung bahkan telah membentuk program 'Lansia Awas' yang secara rutin mengadakan kegiatan skrining mata sederhana bekerja sama dengan fakultas kedokteran setempat, menjadikan pemeriksaan mata sebagai bagian dari gaya hidup sehat di usia senja.
Dengan meningkatnya angka harapan hidup di Indonesia yang kini mencapai 73,5 tahun, menjaga kualitas penglihatan menjadi investasi penting bagi kemandirian lansia. Pemeriksaan mata berkala, ketersediaan alat bantu penglihatan, dan edukasi yang masif menjadi kunci untuk memastikan para lansia dapat terus membaca, bersosialisasi, dan menikmati masa tuanya secara bermartabat.
Comments (0)