Desakan Ketegasan PDIP, Jazilul Fawaid: Jangan Abu-abu!
Jakarta – Gelombang pertanyaan kembali menghampiri Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan seiring meningkatnya sorotan terhadap posisi politik partai berlambang banteng tersebut di era pemerintahan
Jakarta – Gelombang pertanyaan kembali menghampiri Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan seiring meningkatnya sorotan terhadap posisi politik partai berlambang banteng tersebut di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sejumlah elite politik mempersoalkan konsistensi sikap PDIP yang kerap menyebut diri sebagai penyeimbang, namun dinilai belum memberikan kejelasan yang memadai. Diskursus ini mencuat setelah sejumlah aksi unjuk rasa dan dinamika koalisi memunculkan dugaan keterlibatan kader partai dalam gerakan yang dipandang kontraproduktif terhadap stabilitas pemerintahan. Padahal, dalam banyak kesempatan, PDIP mengklaim mendukung program-program strategis nasional, sehingga posisi yang diambil justru menimbulkan kebingungan di kalangan mitra koalisi dan publik luas.
Pernyataan Kontroversial Ketua Fraksi PKB
Sorotan paling tajam datang dari Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa Dewan Perwakilan Rakyat, Jazilul Fawaid. Dalam keterangan pers yang diliput oleh Apaberita.com pada Kamis, 18 Juni, saat menjawab pertanyaan tentang dugaan keterlibatan seorang kader PDIP dalam aksi demonstrasi beberapa hari sebelumnya, Jazilul secara terbuka meminta partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu untuk segera menentukan pilihan.
“Saya harap, mengambil sikap yang tegas saja. Kalau di oposisi, oposisi. Jangan abu-abu. Karena, kami semua sedang berjuang keras untuk mewujudkan apa yang menjadi janji Pak Presiden. Semua program-program sudah ditata,” ujar Jazilul seperti dikutip dari laporan Apaberita.com.
Pernyataan tersebut langsung memantik polemik. Frasa “jangan abu-abu” dianggap sebagai kritik terbuka terhadap strategi PDIP yang terkesan bermain di dua sisi. Di satu sisi, partai kerap menyuarakan dukungan terhadap agenda besar pemerintah, namun di sisi lain, sejumlah aksi dan manuver politiknya dinilai justru memperlemah langkah eksekutif. Jazilul menekankan bahwa seluruh anggota koalisi pemerintah sedang bekerja keras menata program yang telah dijanjikan presiden saat kampanye, sehingga posisi yang ambigu hanya akan menguras energi politik yang seharusnya bisa difokuskan untuk pembangunan.
Pertanyaan Lama yang Belum Terjawab
Bukan kali ini saja PDIP menuai tuntutan serupa. Sejak awal terbentuknya kabinet saat ini, berbagai pihak telah meminta kejelasan apakah partai itu masuk dalam barisan pendukung pemerintah atau mengambil jarak sebagai oposisi. Istilah “penyeimbang” yang digunakan PDIP kerap ditafsirkan secara lentur: kadang berperan sebagai pengkritik, kadang sebagai mitra. Kondisi ini memunculkan ketidakpastian dalam pengambilan kebijakan di parlemen, terutama saat menyangkut rancangan undang-undang prioritas yang membutuhkan dukungan bulat.
Menanggapi tuntutan itu, internal PDIP sendiri sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi. Sejumlah petinggi partai yang dihubungi tim Apaberita.com masih enggan berkomentar, dengan alasan akan dibahas dalam forum-forum partai yang lebih tinggi. Padahal, kejelasan sikap sangat dinanti tidak hanya oleh partai-partai mitra koalisi, melainkan juga oleh para pemilih yang sejak awal menginginkan stabilitas politik pasca pemilu.
Pengamat politik menilai langkah PDIP yang tidak kunjung menegaskan sikap bisa berimbas pada perolehan elektabilitas di masa mendatang. Publik cenderung menghukum partai yang tidak memiliki identitas politik yang jelas. Dengan semakin memanasnya perbincangan ini, semua mata kini tertuju pada sikap resmi Ketua Umum PDIP yang akan datang, yang diharapkan mampu memutus kebuntuan dan mengakhiri spekulasi yang melelahkan.
Comments (0)