Denny Sumargo Akhirnya Terima Film Baby Udon Setelah Berkali-kali Menolak

JAKARTA - Aktor Denny Sumargo mengungkapkan bahwa dirinya sempat berkali-kali menolak untuk menggarap film Baby Udon, yang menjadi debut rumah produksinya, Sumargo Films. Pernyataan tersebut disampaik...

Denny Sumargo Akhirnya Terima Film Baby Udon Setelah Berkali-kali Menolak

JAKARTA - Aktor Denny Sumargo mengungkapkan bahwa dirinya sempat berkali-kali menolak untuk menggarap film Baby Udon, yang menjadi debut rumah produksinya, Sumargo Films. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers perilisan trailer dan poster film di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (4/8/2026), dan menjadi sorotan publik sepanjang Kamis (6/8).

Denny menjelaskan bahwa awal mula proyek ini berangkat dari wawancaranya dengan Fanny Kondoh di podcast Curhat Bang. Kisah perjuangan Fanny mendampingi mendiang suaminya, Hajime Kondoh, yang berjuang melawan kanker, membuat Denny terharu dan spontan menyatakan bahwa kisah tersebut layak diangkat menjadi film. Namun, ketika istrinya, Olivia Allan, secara resmi membeli hak cerita atau intellectual property (IP) dari Fanny Kondoh, Denny justru memilih mundur dari proyek tersebut.

Menurut pengakuannya, Denny sempat mencoba mempersulit proses produksi dengan mengajukan berbagai syarat, mulai dari mencari sutradara yang menurutnya tepat, hingga mempertanyakan kemungkinan film dari rumah produksi baru dapat masuk ke jaringan bioskop. Ia menegaskan bahwa ketakutannya yang paling besar adalah mengecewakan Fanny Kondoh dan mendiang Hajime Kondoh apabila kisah mereka tidak diterjemahkan dengan baik ke layar lebar.

Proses Negosiasi dan Keputusan Akhir

Dalam rapat koordinasi internal yang digelar beberapa kali, Denny menyatakan bahwa ia sempat bersikukuh menolak tawaran tersebut. Ia mengaku bahwa tekanan untuk menghadirkan kualitas terbaik justru membuatnya ragu. "Saya takut sekali. Ini bukan soal bisnis, tapi soal kepercayaan keluarga yang sudah berjuang melawan penyakit. Kalau saya gagal, saya tidak bisa memaafkan diri sendiri," ujar Denny dalam keterangan persnya.

Namun, setelah melalui proses panjang dan diskusi mendalam dengan Olivia Allan serta tim produksi, Denny akhirnya menerima proyek tersebut. Keputusan ini ditetapkan setelah ia menyaksikan langsung antusiasme Fanny Kondoh yang tetap percaya pada visi Sumargo Films. Denny kemudian mengambil peran ganda sebagai produser sekaligus pemeran utama Hajime Kondoh.

Menindaklanjuti keputusan tersebut, Sumargo Films menetapkan jadwal produksi dan merilis teaser poster serta trailer perdana pada Selasa (4/8/2026). Film ini dijadwalkan tayang di bioskop tanah air pada akhir tahun 2026. Dalam kesempatan yang sama, Denny menegaskan bahwa ia akan memberikan yang terbaik untuk menghormati kisah nyata yang diangkat.

Serial The Bombing of Pan Am 103 Mendominasi Netflix

Di sisi lain, berita populer lainnya sepanjang Kamis (6/8) adalah kesuksesan serial thriller kriminal terbaru Netflix berjudul The Bombing of Pan Am 103. Hanya dalam waktu tiga hari setelah dirilis secara global, miniseri dokumenter fiksi ini langsung mendominasi layar kaca penonton dunia. Serial tersebut menceritakan kembali peristiwa ledakan pesawat Pan Am 103 di atas Lockerbie, Skotlandia, pada 21 Desember 1988, yang menewaskan 270 orang.

Berdasarkan data internal platform streaming tersebut, serial ini menempati posisi teratas di lebih dari 40 negara, termasuk Indonesia. Kesuksesan ini dinilai tidak terlepas dari pendekatan naratif yang menggabungkan elemen dokumenter dan fiksi untuk menghadirkan perspektif baru terhadap tragedi tersebut. Para kritikus menyebutkan bahwa penggambaran detail proses investigasi internasional menjadi daya tarik utama.

Hindia Ungkap Pengaruh My Chemical Romance

Berita populer lainnya yang menyita perhatian adalah pernyataan musisi Hindia yang mengungkapkan pengaruh besar band asal Amerika Serikat, My Chemical Romance (MCR), terhadap perjalanan musiknya. Dalam wawancara eksklusif, pelantun lagu "Secukupnya" tersebut menyatakan bahwa album The Black Parade dari MCR menjadi titik balik dalam cara pandangnya terhadap bermusik.

Hindia mengakui bahwa ia mulai mendengarkan MCR sejak masa sekolah menengah dan terinspirasi oleh keberanian mereka dalam mengemas tema-tema gelap dengan aransemen yang megah. "MCR mengajarkan saya bahwa musik bisa menjadi ruang aman untuk mengekspresikan kegelisahan tanpa harus kehilangan nilai artistik," ujarnya dalam kesempatan tersebut.

Pernyataan ini memicu diskusi luas di kalangan penggemar musik Indonesia, terutama generasi yang tumbuh di era 2000-an. Hindia juga menambahkan bahwa pengaruh tersebut tidak secara langsung terlihat dalam karya-karyanya, tetapi membentuk fondasi emosional dalam proses penulisan lagu. Ia berharap dapat terus menghadirkan musik yang jujur dan relevan dengan kondisi sosial saat ini.

Rangkaian berita populer tersebut menunjukkan dinamika industri kreatif dan budaya yang terus berkembang di Indonesia. Dari dunia perfilman hingga musik, para pelaku industri menegaskan komitmen mereka untuk menghadirkan karya berkualitas yang mampu menyentuh publik secara luas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
putri-anggraini

Fact Checker Politik. Memverifikasi klaim publik, pidato pejabat, dan informasi viral. Anggota jaringan cek fakta Indonesia.

Comments (0)

User