China Uji Coba Rudal dari Kapal Selam Nuklir di Samudra Pasifik

Apaberita.com – Pemerintah Amerika Serikat menyatakan keprihatinan mendalam atas perkembangan program nuklir China setelah Beijing kembali melakukan uji coba rudal dari kapal selam bertenaga nuklir

Jul 08, 2026 - 04:26
0 0
China Uji Coba Rudal dari Kapal Selam Nuklir di Samudra Pasifik

Apaberita.com – Pemerintah Amerika Serikat menyatakan keprihatinan mendalam atas perkembangan program nuklir China setelah Beijing kembali melakukan uji coba rudal dari kapal selam bertenaga nuklir. Langkah ini menjadi sinyal terbaru dari modernisasi militer China yang berlangsung dengan tempo tinggi dan semakin mengkhawatirkan Washington.

Reaksi Keras Washington

Menurut laporan yang dihimpun Apaberita.com, uji coba yang berlangsung di kawasan Samudra Pasifik pada Senin (6/7) itu langsung menuai respons keras dari AS. Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS yang berbicara secara anonim menggambarkan uji coba tersebut sebagai “eskalasi yang sangat mengkhawatirkan” terhadap stabilitas strategis di kawasan Indo-Pasifik. Kekhawatiran utama terletak pada semakin canggihnya kemampuan serang kedua (second-strike capability) China yang dapat menjangkau daratan Amerika Serikat.

Detail Uji Coba dan Kemampuan Baru

Uji coba ini dilaksanakan hanya dua tahun setelah Beijing menembakkan rudal balistik antarbenua (ICBM) ke perairan dekat Polinesia Prancis pada 2023—peluncuran pertama jenis itu di atas perairan internasional dalam lebih dari empat dekade. Para analis militer menilai bahwa kedua uji coba ini menunjukkan lompatan signifikan dalam kemampuan penangkalan strategis China. Peluncuran dari kapal selam nuklir memperlihatkan bahwa armada bawah laut China kini mampu beroperasi secara lebih senyap dan sulit dideteksi, sehingga menambah lapisan kompleksitas bagi sistem pertahanan rudal Amerika.

Paradoks Rekonsiliasi Trump dan Modernisasi Militer China

Kontras dengan memanasnya aktivitas militer China, hubungan diplomatik AS-China justru berada dalam fase yang relatif lebih hangat di bawah Presiden Donald Trump. Sejak kembali menjabat pada awal 2025, Trump secara terbuka menyatakan keinginan untuk “hidup berdampingan secara damai” dengan Beijing dan membuka jalur negosiasi ekonomi yang lebih luas. Namun, langkah China ini seolah menegaskan bahwa meskipun ada upaya rekonsiliasi di permukaan, percepatan pembangunan kekuatan militer—khususnya di ranah nuklir dan kapal selam—tetap berjalan tanpa terpengaruh dinamika politik jangka pendek.

“Kami melihat pola yang konsisten di mana China terus membangun kemampuan ofensif dan defensif yang melampaui kebutuhan pertahanan normal,” ujar seorang analis dari lembaga kajian strategis yang berbasis di Washington. “Uji coba di Samudra Pasifik adalah pesan bahwa mereka tidak akan ragu menunjukkan otot bahkan di saat dialog sedang berlangsung.”

Situasi ini menempatkan Washington dalam posisi dilematis: di satu sisi ingin menjaga momentum perbaikan hubungan, di sisi lain harus menyikapi ancaman nyata dari perluasan jangkauan dan kemampuan pemukul strategis Tentara Pembebasan Rakyat China. Para pengamat memperkirakan bahwa Pentagon akan mendorong penyesuaian doktrin pertahanan rudal dan mempercepat modernisasi armada kapal selam AS sendiri sebagai respons terhadap perkembangan ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rizky-amelia

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan peristiwa penting.

Comments (0)

User