BNN Tekankan Resiliensi Generasi Muda Lawan Narkotika
JAKARTA - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Komjen Pol Suyudi Ario Seto, menegaskan pentingnya resiliensi atau ketahanan diri generasi muda dalam menolak segala bentuk penyalahgunaan narkotika...
JAKARTA - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Komjen Pol Suyudi Ario Seto, menegaskan pentingnya resiliensi atau ketahanan diri generasi muda dalam menolak segala bentuk penyalahgunaan narkotika. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara sosialisasi yang digelar di Universitas Maulana Malik (UNMA) Malang pada Kamis, 6 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya strategis BNN dalam membangun benteng pertahanan nasional dari ancaman narkoba yang kian masif.
Dalam pemaparannya, Suyudi Ario Seto menyatakan bahwa generasi muda merupakan sasaran utama jaringan peredaran gelap narkotika. Ia mengutip data BNN yang menunjukkan bahwa kelompok usia produktif, yaitu 15 hingga 35 tahun, mendominasi angka penyalahgunaan narkoba di Indonesia. "Resiliensi bukan sekadar kemampuan menolak, tetapi juga kapasitas untuk bangkit dan bertahan dalam tekanan sosial yang mendorong pada perilaku menyimpang," ujar Suyudi di hadapan ratusan mahasiswa dan akademisi UNMA.
Ancaman Narkotika Semakin Kompleks
Kepala BNN menjelaskan bahwa modus operandi peredaran narkotika terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Transaksi kini banyak dilakukan melalui pasar gelap digital, dengan pembayaran menggunakan mata uang kripto. Selain itu, muncul jenis narkotika baru atau New Psychoactive Substances (NPS) yang kerap disamarkan sebagai produk konsumsi sehari-hari. "Kita menghadapi musuh yang tidak terlihat dan terus bermutasi. Karena itu, kewaspadaan dan pengetahuan harus diperbarui secara berkelanjutan," tegasnya.
Suyudi menambahkan bahwa penyalahgunaan narkotika tidak hanya merusak kesehatan individu, tetapi juga menggerus ketahanan nasional. Data BNN mencatat kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan narkoba mencapai Rp84,7 triliun per tahun, termasuk biaya rehabilitasi, kehilangan produktivitas, dan biaya penegakan hukum. Angka tersebut belum termasuk dampak sosial seperti perpecahan keluarga dan meningkatnya angka kriminalitas.
Peran Kampus dalam Penguatan Resiliensi
Acara di UNMA ini merupakan bagian dari rangkaian program BNN yang bertajuk "Kampus Bersinar" (Bersih Narkoba). Dalam kesempatan tersebut, Suyudi mengajak seluruh sivitas akademika untuk aktif menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Ia mendorong pembentukan satuan tugas anti-narkoba di tingkat fakultas dan unit kegiatan mahasiswa. "Kampus adalah laboratorium pemikiran. Di sinilah lahir generasi yang kritis dan berintegritas. Jangan biarkan ruang ini dinodai oleh barang haram," ujarnya.
Rektor UNMA, Prof. Dr. Ahmad Zainuddin, dalam sambutannya menyatakan dukungan penuh terhadap program BNN. Ia mengungkapkan bahwa pihak kampus telah mengintegrasikan materi pencegahan penyalahgunaan narkotika ke dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dan mata kuliah wajib lainnya. "Kami berkomitmen menciptakan lingkungan kampus yang sehat dan bebas dari narkoba, sejalan dengan visi universitas dalam mencetak lulusan yang unggul dan berakhlak mulia," kata Prof. Ahmad.
Strategi Pencegahan Berbasis Masyarakat
Kepala BNN juga menyoroti pentingnya pendekatan berbasis masyarakat dalam pencegahan penyalahgunaan narkotika. Ia menegaskan bahwa BNN tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan seluruh elemen bangsa. Program Desa Bersinar dan Kampung Tangguh Anti Narkoba menjadi contoh konkret kolaborasi antara BNN, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat. "Kita harus membangun sistem deteksi dini di tingkat komunitas. Jika ada warga yang menunjukkan gejala penyalahgunaan, segera laporkan dan fasilitasi untuk rehabilitasi," imbaunya.
Suyudi menambahkan, BNN telah menyediakan layanan rehabilitasi gratis bagi pecandu narkotika melalui 34 balai rehabilitasi yang tersebar di seluruh provinsi. Ia mengingatkan bahwa pecandu adalah korban yang membutuhkan pertolongan medis dan psikologis, bukan kriminal yang harus dihukum. "Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika mengamanatkan rehabilitasi bagi pengguna. Ini adalah bentuk keadilan restoratif yang harus kita junjung tinggi," jelasnya.
Pada akhir acara, Suyudi menekankan bahwa upaya pencegahan harus dimulai dari kesadaran individu. Ia mengajak generasi muda untuk mengisi waktu dengan kegiatan produktif, seperti olahraga, seni, dan kegiatan keagamaan. "Resiliensi adalah perisai yang tidak bisa dibeli. Ia tumbuh dari kebiasaan baik, dukungan lingkungan, dan keyakinan spiritual. Jadilah generasi yang tangguh, karena masa depan Indonesia ada di pundak kalian," tutupnya.
Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 500 mahasiswa dari berbagai fakultas, perwakilan organisasi kepemudaan, serta jajaran pejabat BNN Provinsi Jawa Timur. Diskusi interaktif berlangsung hangat dengan sesi tanya jawab seputar strategi penolakan terhadap tawaran narkoba dan mekanisme pelaporan kasus di lingkungan kampus. BNN berencana memperluas program serupa ke 100 universitas lain di Indonesia hingga akhir tahun 2026.
Comments (0)