BMKG: Gempa NTT Tidak Berpotensi Tsunami

Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nelly Florida Riama menyatakan bahwa gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak memiliki potensi u...

BMKG: Gempa NTT Tidak Berpotensi Tsunami

Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nelly Florida Riama menyatakan bahwa gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak memiliki potensi untuk memicu tsunami. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Graha BMKG, Jakarta, pada pukul 14.00 Waktu Indonesia Barat (WIB), menindaklanjuti laporan dinamika tektonik terkini di kawasan tersebut.

Dalam paparannya, Nelly Florida Riama menegaskan bahwa kejadian gempa bumi merupakan aktivitas tektonik yang wajar mengingat lokasi NTT berada pada pertemuan tiga lempeng besar, yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempek Pasifik. Berdasarkan analisis BMKG, episenter gempa terletak pada koordinat 8,34 derajat Lintang Selatan dan 122,87 derajat Bujur Timur dengan kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer. Kekuatan gempa tercatat pada magnitudo 5,8 dengan getaran dirasakan di sejumlah wilayah di Pulau Flores dan sekitarnya.

Parameter Gempa dan Dampak Getaran

Nelly Florida Riama, yang menjabat sebagai Deputi Bidang Geofisika BMKG, menyatakan bahwa parameter gempa tersebut telah terverifikasi melalui jaringan seismograf nasional. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa mekanisme fokus gempa berasal dari deformasi batuan pada sesar aktif lokal yang memiliki karakteristik pergerakan mendatar.

"Hasil monitoring BMKG menunjukkan parameter gempa ini tidak memenuhi syarat untuk membangkitkan gelombang tsunami. Kedalaman dangkal dan mekanisme sesar mendatar menjadi dasar keputusan kami dalam menetapkan status tidak berpotensi tsunami," ujar Nelly Florida Riama dalam rapat koordinasi dengan awak media.

Getaran gempa dirasakan dalam skala intensitas III hingga IV MMI (Modified Mercalli Intensity) di wilayah terdekat dari episenter. Skala intensitas III menunjukkan getaran terasa nyata di dalam rumah dan benda ringan bergoyang, sementara intensitas IV menyebabkan getaran terasa seperti ditimbulkan oleh truk berat. BMKG mencatat setidaknya lima kali aktivitas gempa susulan dengan magnitudo lebih kecil yang terjadi dalam rentang waktu empat jam pasca gempa utama.

Rekomendasi dan Mitigasi Bencana

Dalam rapat koordinasi tersebut, BMKG menegaskan perlunya peningkatan kewaspadaan masyarakat pesisir meskipun status tsunami telah ditetapkan tidak berpotensi. Nelly Florida Riama menindaklanjuti hasil evaluasi dengan menerbitkan rekomendasi teknis kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk melakukan verifikasi kerusakan infrastruktur dan memastikan akses jalur evakuasi tetap fungsional.

"Kami meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Manfaatkan informasi resmi yang disampaikan oleh BMKG dan instansi terkait lainnya," tegas Deputi Bidang Geofisika BMKG tersebut.

Pemerintah Daerah NTT telah menyalurkan laporan awal mengenai kondisi pasca-gempa ke pusat. Berdasarkan UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, koordinasi antara BMKG, BPBD, dan TNI-Polri menjadi kewajiban dalam setiap tahapan respon bencana geologi. Fraksi di komisi VIII DPR RI juga dijadwalkan meminta penjelasan teknis terkait kesiapan mitigasi gempa di wilayah timur Indonesia dalam Pleno minggu depan.

Konteks Tektonik dan Kesiapsiagaan

Secara geologis, NTT merupakan salah satu wilayah dengan tingkat seismisitas tertinggi di Indonesia. Data BMKG menunjukkan rata-rata terjadi lebih dari 200 gempa bumi setiap tahun di sekitar Laut Banda dan Laut Flores. Deputi Bidang Geofisika BMKG menambahkan bahwa institusinya telah memperbarui peta gempa Indonesia dengan mempertimbangkan sumber gempa baru yang teridentifikasi dari hasil survei geomorfologi dan geofisika kelautan.

Nelly Florida Riama menuturkan bahwa pihaknya terus memperkuat jaringan monitoring seismik di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), termasuk penambahan tiga unit seismograf digital di Pulau Adonara, Lembata, dan Alor. Keputusan tersebut ditetapkan dalam Rapat Koordinasi Teknis Geofisika pada awal triwulan tahun ini guna memperkecil blind zone atau zona gelap deteksi gempa di kawasan perbatasan.

Dalam kesempatan yang sama, BMKG juga mengingatkan pentingnya edukasi mitigasi bencana berbasis komunitas. Masyarakat di zona rawan gempa diminta untuk memastikan kelayakan struktur bangunan hunian dan memahami prosedur evakuasi darurat. Informasi lebih lanjut mengenai perkembangan aktivitas seismik di NTT dapat diakses melalui laman resmi BMKG dan aplikasi InfoBMKG yang tersedia untuk perangkat telepon pintar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User