Bibit Siklon Tropis 97W Terpantau, BMKG Rilis Peringatan Dini Cuaca Ekstrem
Jakarta — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi terdeteksinya Bibit Siklon Tropis 97W di perairan Samudra Pasifik sebelah utara Papua pada Sabtu malam, yang diproyeksika...
Jakarta — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi terdeteksinya Bibit Siklon Tropis 97W di perairan Samudra Pasifik sebelah utara Papua pada Sabtu malam, yang diproyeksikan memicu hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah Indonesia pada Minggu, 12 Juli 2026. Sistem tekanan rendah ini bergerak ke arah barat-barat laut dengan kecepatan 10 knot dan menunjukkan kecenderungan penguatan dalam 24 jam ke depan.
Menurut Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Dr. Andi Eka Sakya, posisi terakhir bibit siklon tercatat di koordinat 7,8° LU dan 138,2° BT, sekitar 750 kilometer di utara Manokwari, Papua Barat. “Kami memantau adanya peningkatan konveksi yang signifikan dalam enam jam terakhir. Kecepatan angin maksimum di sekitar pusat bibit siklon telah mencapai 30 knot dengan tekanan udara minimum 1004 hPa,” jelas Dr. Andi Eka Sakya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.
Karakteristik dan Potensi Penguatan
Bibit Siklon Tropis 97W memiliki diameter area sirkulasi sekitar 300 kilometer dengan awan konvektif yang meluas hingga radius 500 kilometer dari pusat. Pemodelan numerik BMKG menunjukkan bahwa suhu permukaan laut di lintasan pergerakannya berkisar antara 29 hingga 30 derajat Celsius, kondisi yang sangat mendukung intensifikasi menjadi siklon tropis dalam 48 jam ke depan. Jika parameter lingkungan seperti vertical wind shear tetap rendah dan kelembapan relatif di lapisan menengah troposfer bertahan di atas 70 persen, bibit siklon ini berpotensi mencapai status siklon tropis kategori 1 pada Senin, 13 Juli 2026.
Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, struktur awan menunjukkan pola curved band yang semakin terorganisasi. “Kami mengamati adanya pembentukan dinding mata yang meskipun masih parsial, mengindikasikan proses intensifikasi yang cukup cepat,” tambah Dr. Andi Eka Sakya. Dampak tidak langsung dari bibit siklon ini adalah peningkatan kecepatan angin di wilayah perairan utara Papua hingga 25 knot dan tinggi gelombang signifikan 2,5 hingga 4 meter di Samudra Pasifik utara Papua dan Papua Barat.
Daftar Wilayah Terdampak Hujan Lebat
BMKG mengidentifikasi sejumlah provinsi yang akan mengalami peningkatan curah hujan pada Minggu, 12 Juli 2026 akibat pengaruh Bibit Siklon Tropis 97W yang memicu penguatan aliran massa udara basah dari Pasifik ke daratan Indonesia. Berikut rincian wilayah yang diprakirakan menerima hujan lebat hingga sangat lebat:
Papua Barat: Kabupaten Manokwari, Teluk Wondama, dan Teluk Bintuni diprediksi menerima curah hujan 50—100 mm per hari dengan puncak intensitas pada siang hingga sore hari. Potensi banjir bandang di daerah aliran sungai Wariori dan Momi dinyatakan pada level Waspada oleh Balai Besar Wilayah Sungai Papua Barat.
Papua: Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Sarmi, dan Keerom diprakirakan mengalami hujan lebat disertai petir dan angin kencang. Curah hujan harian berpotensi mencapai 80—120 mm, terutama di wilayah pesisir utara. Kondisi ini diperparah oleh pasang air laut maksimum pada 12 Juli yang dapat menyebabkan banjir rob di Muara Tami dan Hamadi.
Maluku Utara: Kabupaten Halmahera Utara, Halmahera Timur, dan Pulau Morotai berpeluang menerima hujan dengan intensitas sedang hingga lebat (30—70 mm per hari) disertai angin kencang. Gelombang tinggi di Laut Halmahera diperkirakan mencapai 2,5—4 meter sehingga nelayan tradisional diimbau tidak melaut pada 12—13 Juli.
Sulawesi Utara: Wilayah Kepulauan Sangihe, Talaud, dan Sitaro akan mengalami peningkatan hujan sejak dini hari dengan akumulasi curah hujan 40—80 mm per 24 jam. Kecepatan angin di perairan sekitar Talaud dapat mencapai 30 knot.
Peringatan Dini dan Rekomendasi BMKG
BMKG melalui Stasiun Meteorologi Maritim Kelas I Tanjung Priok mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi untuk periode 12—14 Juli 2026 di perairan utara Papua, Samudra Pasifik utara Papua Barat, Laut Halmahera, dan Laut Maluku. Tinggi gelombang di area tersebut diprediksi mencapai 2,5 hingga 4 meter dengan kategori Berbahaya bagi kapal nelayan dan kapal berukuran kecil. “Kami meminta operator pelayaran, khususnya rute antarpulau di wilayah Maluku Utara dan Papua, untuk memperketat pengawasan dan mempertimbangkan penundaan keberangkatan,” tegas Dr. Andi Eka Sakya.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal TNI Andi Santoso, menyatakan telah mengaktifkan posko siaga darurat di delapan kabupaten/kota yang diperkirakan terdampak paling parah. “Tim Reaksi Cepat telah kami siagakan di Manokwari, Jayapura, dan Ternate. Logistik dan peralatan evakuasi sudah di lokasi sejak Sabtu malam,” ucap Andi Santoso dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk memperbarui informasi cuaca setiap tiga jam melalui kanal resmi BMKG, tidak memaksakan diri berkendara saat hujan deras disertai petir, serta waspada terhadap potensi tanah longsor di lereng curam. Terkait aktivitas penerbangan, Airnav Indonesia telah menerbitkan notice to airmen (NOTAM) untuk bandara di Sentani, Manokwari, dan Ternate terkait kemungkinan gangguan jarak pandang akibat awan konvektif tebal pada Minggu siang hingga malam.
Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diinstruksikan untuk melakukan pemantauan tinggi muka air sungai secara berkala dan menyiapkan lokasi pengungsian sementara. BMKG menekankan bahwa meskipun bibit siklon ini tidak langsung melintasi daratan Indonesia, efek tidak langsung berupa hujan lebat dan gelombang tinggi tetap berpotensi menimbulkan risiko signifikan terhadap keselamatan dan aktivitas masyarakat.
Baca juga:
Comments (0)