Dana Kelolaan Token Aset AI Capai Rp1,8 Triliun dalam Lima Pekan

Jakarta – Produk tokenisasi ekuitas yang bertumpu pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan pasar privat menorehkan pencapaian historis dengan menghimpun dana kelolaan atau assets under manageme...

Jul 12, 2026 - 14:35
0 0

Jakarta – Produk tokenisasi ekuitas yang bertumpu pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan pasar privat menorehkan pencapaian historis dengan menghimpun dana kelolaan atau assets under management (AUM) sebesar 114 juta dolar Amerika Serikat, setara dengan Rp1,82 triliun, hanya dalam kurun waktu lima pekan. Pencapaian ini sekaligus menegaskan pergeseran preferensi investor global ke instrumen keuangan digital yang selama ini dipandang sebagai komoditas finansial baru dengan daya tarik tinggi.

Berdasarkan data yang dihimpun Apaberita, lonjakan AUM tersebut tercatat pada produk rToken yang diterbitkan oleh platform perdagangan aset digital global Bitget. Instrumen ini merepresentasikan ekuitas sektor riil—khususnya perusahaan yang bergerak pada pembangunan pusat data, komputasi awan, dan ekosistem AI—yang dikemas dalam bentuk token di atas jaringan blockchain. Dalam lima pekan pertama sejak diluncurkan, animo investor melampaui proyeksi awal sehingga dana yang masuk langsung menembus angka sembilan digit dolar AS.

Infrastruktur AI Menjadi Motor Pertumbuhan

Sejumlah analis pasar modal digital yang diwawancarai Apaberita menilai bahwa sektor infrastruktur AI menjadi katalis utama dibalik percepatan pertumbuhan tokenisasi ekuitas tersebut. "Permintaan global terhadap kapasitas komputasi yang dibutuhkan untuk melatih model-model bahasa besar (large language models) dan aplikasi AI generatif terus melonjak. Investor melihat saham perusahaan infrastruktur AI—seperti penyedia pusat data dan manufaktur semikonduktor—sebagai aset yang nilainya akan terakumulasi dalam jangka panjang. Tokenisasi membuat akses ke aset-aset itu menjadi lebih demokratis," ujar Kepala Riset PT Ekuitas Digital Nusantara, Dr. Andi Prasetyo, di Jakarta, Selasa (27/5).

Ia menambahkan bahwa ekuitas yang ditokenisasi memecah hambatan tradisional berupa denominasi besar dan likuiditas rendah. Investor ritel dapat memiliki pecahan saham perusahaan infrastruktur AI kelas kakap yang sebelumnya hanya terjangkau oleh institusi raksasa. Bitget, sebagai penerbit, merancang rToken dengan mekanisme staking yang memberikan imbal hasil berbasis performa aset acuan, sehingga menggabungkan karakteristik saham dan obligasi dalam satu instrumen.

Pasar Privat Menyusul Geliat Tokenisasi

Selain infrastruktur AI, segmen pasar privat—yakni saham perusahaan yang belum melantai di bursa publik—ikut menjadi kontributor signifikan terhadap lonjakan AUM rToken. Beberapa perusahaan rintisan (startup) teknologi tahap pertumbuhan yang bergerak di bidang AI, kendaraan listrik, dan bioteknologi menawarkan ekuitasnya melalui tokenisasi untuk memperoleh pendanaan segar tanpa harus melalui proses penawaran umum perdana (IPO) yang panjang dan mahal.

Direktur Eksekutif Asosiasi Aset Digital Indonesia (AADI), Rina Marpaung, menyatakan bahwa perkembangan ini perlu disikapi oleh regulator dengan kerangka hukum yang jelas. "Tokenisasi aset privat membuka peluang pembiayaan yang sangat besar bagi perusahaan teknologi Indonesia. Tetapi sekaligus menuntut kehadiran aturan main yang melindungi investor dari risiko asimetri informasi dan gagal bayar. OJK dan Bappebti harus duduk bersama merumuskan peta jalan tokenisasi ekuitas agar tidak terjadi kekosongan hukum," tegasnya saat dihubungi terpisah.

Pernyataan Rina merujuk pada realitas bahwa hingga saat ini Indonesia belum memiliki regulasi spesifik yang mengatur penerbitan, perdagangan, dan kustodian token yang merepresentasikan kepemilikan saham perusahaan privat. Peraturan yang ada, seperti Peraturan Bappebti Nomor 8 Tahun 2021 tentang Aset Kripto, lebih berfokus pada mata uang kripto sebagai komoditas, bukan pada tokenisasi ekuitas yang memiliki karakteristik efek.

Sinyal Peralihan Lanskap Investasi Global

Pencapaian rToken Bitget sebesar 114 juta dolar AS dalam lima pekan tidak dapat dilepaskan dari konteks perang dagang teknologi antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok. Ketegangan geopolitik itu mendorong pembangunan infrastruktur AI secara masif di berbagai kawasan sebagai strategi untuk mencapai kedaulatan teknologi. Investasi pada pusat data dan fasilitas foundry chip pun melonjak, menciptakan kesempatan bagi instrumen tokenisasi untuk mengkapitalisasi momentum tersebut.

Kepala Ekonom PT Bank Pembangunan Asia, Meutia Hasan, menilai bahwa fenomena ini merupakan sinyal awal pergeseran lanskap investasi global. "Dulu investor harus menunggu perusahaan teknologi melakukan IPO di bursa efek tradisional untuk bisa menikmati pertumbuhan nilainya. Sekarang, tokenisasi memungkinkan investor masuk lebih awal pada tahap pertumbuhan, dengan likuiditas yang dapat diperdagangkan 24/7 di bursa aset digital global. Ini akan mengubah lanskap pasar modal secara fundamental dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan," paparnya.

Namun demikian, Meutia mengingatkan bahwa volatilitas dan risiko regulasi tetap menjadi momok. Ketergantungan pada infrastruktur teknologi yang kompleks, potensi peretasan, serta kemungkinan larangan mendadak dari otoritas keuangan di berbagai yurisdiksi harus dimitigasi oleh penerbit dan investor. "Kami mengamati bahwa transparansi underlying asset dan audit berkala oleh pihak ketiga yang kredibel menjadi kunci kepercayaan pasar terhadap instrumen semacam ini," tambahnya.

Respons Pemerintah dan Prospek ke Depan

Sementara itu, anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang membidangi keuangan dan perbankan, Teuku Riefky Harsya, menyatakan bahwa DPR akan mendorong percepatan pembahasan Rancangan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (RUU P2SK) yang di dalamnya memuat ketentuan tentang aset keuangan digital, termasuk tokenisasi efek. "Kami sudah mengagendakan rapat dengar pendapat dengan OJK, Bappebti, dan pelaku industri. Kita tidak bisa lagi menunda-nunda karena arus global sudah sedemikian deras. Jika Indonesia tidak segera memiliki regulasi yang forward-looking, maka kita hanya akan menjadi penonton di negeri sendiri," ujar Riefky di Kompleks Parlemen Senayan.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika juga telah memproyeksikan kebutuhan investasi infrastruktur AI nasional mencapai Rp120 triliun hingga tahun 2030. Tokenisasi aset dapat menjadi salah satu alternatif pembiayaan non-anggaran untuk mengejar ketertinggalan tersebut, dengan catatan kerangka hukum dan perlindungan investornya telah kokoh.

Dengan kapitalisasi pasar tokenisasi aset global yang diprediksi mencapai 16 triliun dolar AS pada 2030 menurut Boston Consulting Group, momentum yang ditunjukkan oleh rToken Bitget dengan AUM 114 juta dolar AS dalam sekejap mata menjadi penanda bahwa era komoditas finansial baru telah benar-benar dimulai. Kesiapan ekosistem domestik untuk menangkap peluang sekaligus memitigasi risikonya akan menentukan seberapa besar Indonesia dapat mengambil manfaat dari transformasi ini.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User