Begadang Demi Dracin Rusak Kualitas Tidur Warga
Jakarta, Apaberita -- Kebiasaan menonton drama seri asal Tiongkok yang kerap disebut dracin hingga larut malam memicu kekhawatiran serius di kalangan pakar kesehatan. Fenomena ini dinilai mengganggu s...
Jakarta, Apaberita -- Kebiasaan menonton drama seri asal Tiongkok yang kerap disebut dracin hingga larut malam memicu kekhawatiran serius di kalangan pakar kesehatan. Fenomena ini dinilai mengganggu siklus tidur alami dan berpotensi memunculkan beragam penyakit kronis jika tidak segera diatasi.
Fenomena Marathon Dracin di Malam Hari
Maraknya platform streaming digital membuat akses terhadap dracin semakin mudah. Alur cerita yang memikat dan jumlah episode yang panjang mendorong penonton untuk terus melanjutkan tayangan tanpa memperhatikan waktu. Tidak sedikit warga yang baru beranjak tidur setelah pukul 02.00 dini hari, hanya untuk menamatkan beberapa episode sekaligus.
Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2024 menunjukkan bahwa 47% pengguna internet mengakses layanan video on demand antara pukul 22.00 hingga 03.00, dengan proporsi tertinggi pada kelompok usia 18-34 tahun. Meski belum ada pemetaan khusus untuk konsumsi dracin, psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Mulyani, menyebut kebiasaan ini sebagai bentuk pelarian dari stres harian yang justru menciptakan lingkaran setan kurang tidur.
Gangguan Tidur dan Risiko Kesehatan
Kurang tidur yang disebabkan oleh kebiasaan menonton dracin hingga larut berdampak langsung pada penurunan fungsi kognitif. Seseorang yang hanya tidur empat hingga lima jam setiap malam akan mengalami kesulitan berkonsentrasi, mudah tersinggung, dan produktivitas menurun. Dalam jangka panjang, kekurangan tidur meningkatkan risiko hipertensi, diabetes tipe 2, obesitas, dan gangguan jantung.
Studi yang dipublikasikan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada awal 2025 menekankan bahwa tidur malam yang berkualitas setidaknya berdurasi tujuh jam pada orang dewasa. Kualitas itu tidak hanya diukur dari lamanya waktu berbaring, tetapi juga dari kestabilan siklus tidur-REM dan non-REM. Kebiasaan menatap layar ponsel atau tablet sebelum tidur menghambat pelepasan hormon melatonin karena paparan cahaya biru, sehingga otak tetap terjaga lebih lama.
Dr. Rina Mulyani mengatakan, “Otak memerlukan sinyal lingkungan yang jelas untuk memulai fase istirahat. Jika seseorang terus menerima rangsangan visual dan emosional dari drama hingga detik terakhir, proses transisi menuju tidur lelap akan terputus.”
Transisi Pradurasi: Kunci dari Para Ahli
Untuk mengatasi masalah ini, para ahli kesehatan merekomendasikan penerapan transisi pradurasi atau wind-down period. Praktik ini mengacu pada jeda waktu tanpa layar dan aktivitas yang menenangkan selama 30 hingga 60 menit sebelum waktu tidur yang ditargetkan.
Berdasarkan panduan yang diterbitkan oleh otoritas kesehatan masyarakat, masa transisi ini berfungsi menurunkan kadar kortisol dan memberi kesempatan otak untuk memproduksi melatonin secara alami. Aktivitas yang disarankan meliputi membaca buku cetak, mendengarkan musik instrumental, meditasi ringan, atau sekadar melakukan rutinitas perawatan tubuh seperti mandi air hangat.
“Menetapkan batas jam menonton bukan berarti harus meninggalkan hobi sepenuhnya. Penonton bisa mengalokasikan dua hingga tiga episode di awal malam, lalu berhenti pukul 21.30 dan memulai transisi. Cara ini tetap memungkinkan menikmati dracin tanpa mengorbankan kesehatan,” ujar Dr. Andi Firmansyah, spesialis kedokteran tidur dari RS Cipto Mangunkusumo, dalam konferensi pers akhir pekan lalu.
Langkah Menghentikan Kebiasaan Begadang Dracin
Selain penerapan transisi pradurasi, sejumlah strategi praktis bisa ditanamkan untuk memperbaiki kualitas tidur. Pertama, gunakan fitur pengingat waktu pada aplikasi streaming untuk membatasi durasi menonton. Kedua, letakkan perangkat seluler di luar kamar tidur atau di tempat yang tidak mudah dijangkau dari tempat tidur. Ketiga, ganti kebiasaan menonton dengan aktivitas relaksasi lain yang juga menyenangkan.
Psikolog Rina Mulyani menambahkan bahwa dukungan keluarga sangat penting. “Pasangan atau anggota keluarga bisa saling mengingatkan dan menciptakan lingkungan kamar tidur yang bebas layar. Ini bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan komitmen bersama demi kualitas istirahat yang lebih baik,” tuturnya.
Fenomena begadang demi dracin memang tampak sepele, tetapi dampaknya terhadap kesehatan fisik dan mental tidak bisa diabaikan. Dengan membangun disiplin waktu menonton dan menjalani transisi pradurasi yang konsisten, masyarakat tetap bisa menikmati hiburan tanpa harus mengorbankan jam tidur yang berharga.
Comments (0)