Aug 28, 2026
Politik

Banjir Bandang Nepal, 392 Orang Tewas dan 1.400 Hilang

Upaya pencarian korban banjir bandang dan longsor lumpur di Nepal serta wilayah perbatasan China terus dilakukan hingga Kamis, 27 Agustus 2026, setelah bencana tersebut menyebabkan sedikitnya 392 oran...

Banjir Bandang Nepal, 392 Orang Tewas dan 1.400 Hilang

Upaya pencarian korban banjir bandang dan longsor lumpur di Nepal serta wilayah perbatasan China terus dilakukan hingga Kamis, 27 Agustus 2026, setelah bencana tersebut menyebabkan sedikitnya 392 orang meninggal dunia dan sekitar 1.400 orang masih belum ditemukan. Operasi penyelamatan dipusatkan di sejumlah kawasan terdampak, termasuk Trishuli di Distrik Nuwakot, Nepal, serta Pelabuhan Gyirong di Daerah Otonomi Tibet, China.

Pencarian Korban Masih Berlangsung

Aparat keamanan Nepal melaporkan telah menemukan 389 jenazah dari wilayah yang diterjang banjir bandang. Selain korban meninggal, sebanyak 910 orang masih dinyatakan hilang. Data tersebut mencakup 517 wisatawan asing yang belum diketahui keberadaannya setelah bencana melanda sejumlah jalur dan permukiman di kawasan pegunungan.

Jumlah korban dan orang hilang masih dapat berubah karena tim penyelamat menghadapi kondisi lapangan yang berat. Lumpur tebal menutup permukiman, sementara sejumlah ruas jalan terputus akibat arus deras dan material longsor. Hambatan tersebut memperlambat proses evakuasi serta menyulitkan petugas untuk menjangkau daerah yang terisolasi.

Pemerintah Nepal mengerahkan personel penyelamat dan aparat kepolisian untuk menyisir kawasan terdampak. Pencarian dilakukan terhadap warga setempat maupun wisatawan yang sebelumnya berada di jalur perjalanan menuju wilayah perbatasan. Pemeriksaan terhadap daftar penduduk dan laporan keluarga juga dilakukan untuk memperbarui data korban.

Dampak Bencana Menjangkau Wilayah Tibet

Di wilayah Tibet, China, bencana longsor lumpur di sekitar Pelabuhan Gyirong menewaskan tiga orang. Sebanyak 558 orang masih dilaporkan hilang, termasuk 260 warga negara asing. Angka tersebut menambah perhatian terhadap keselamatan orang-orang yang berada di kawasan lintas batas Nepal-China ketika bencana terjadi.

China juga melaporkan 100 warganya belum ditemukan di Nepal. Pemerintah kedua negara menghadapi tantangan dalam melakukan identifikasi korban, memastikan keselamatan warga asing, dan menyatukan informasi dari berbagai titik terdampak. Koordinasi antarotoritas menjadi bagian penting dalam menindaklanjuti laporan kehilangan serta mempercepat penyampaian informasi kepada keluarga.

Kawasan pegunungan di sekitar perbatasan Nepal dan China memiliki akses yang terbatas. Kerusakan jalan, timbunan lumpur, serta kemungkinan adanya bangunan yang tertutup material bencana membuat proses pencarian harus dilakukan secara bertahap. Petugas juga perlu memastikan lokasi cukup aman sebelum memasuki area terdampak.

Pemerintah Nepal Percepat Bantuan

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah mengunjungi sejumlah lokasi yang mengalami kerusakan paling parah. Dalam kunjungan tersebut, pemerintah pusat meminta pemerintah daerah segera menyalurkan bantuan kepada keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan membuka kembali akses jalan yang tertutup.

Langkah tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak, termasuk tempat berlindung, makanan, air bersih, serta layanan kesehatan. Pemerintah daerah juga diminta memperbarui pendataan warga yang mengungsi dan memastikan keluarga korban memperoleh informasi mengenai proses pencarian.

Selain menangani korban, pembukaan jalur transportasi menjadi prioritas karena akses darat diperlukan untuk mengirim peralatan penyelamatan dan bantuan kemanusiaan. Jalan yang tertutup lumpur menghambat pergerakan kendaraan serta memperpanjang waktu yang dibutuhkan tim untuk mencapai permukiman yang berada di sepanjang aliran sungai.

Dalam penanganan bencana, pemerintah Nepal perlu mengintegrasikan kerja kepolisian, petugas kesehatan, pemerintah daerah, dan relawan. Pendataan yang konsisten diperlukan agar angka korban meninggal, hilang, dan selamat dapat ditetapkan secara akurat berdasarkan laporan lapangan serta verifikasi keluarga.

China Kerahkan Personel dan Peralatan

Perdana Menteri China Li Qiang mengunjungi wilayah terdampak di Tibet untuk memantau langsung penanganan bencana. Pemerintah China mengerahkan hampir 800 personel darurat dalam operasi penyelamatan di sekitar Pelabuhan Gyirong.

Tim tersebut diperkuat anjing pelacak dan perahu cepat. Anjing pelacak digunakan untuk membantu menemukan korban yang kemungkinan tertimbun material longsor, sedangkan perahu cepat dikerahkan untuk mendukung mobilitas di wilayah yang tergenang atau sulit dijangkau melalui jalur darat.

Pengerahan sumber daya itu dilakukan untuk mempercepat pencarian terhadap ratusan orang yang masih hilang. Tim darurat juga memantau kondisi infrastruktur dan jalur transportasi agar operasi penyelamatan dapat berlangsung tanpa menambah risiko bagi petugas.

Otoritas China dan Nepal terus menghadapi kebutuhan untuk memperkuat komunikasi mengenai warga asing yang terdampak. Informasi mengenai kewarganegaraan korban, lokasi terakhir, dan status pencarian harus diverifikasi melalui koordinasi resmi sebelum diumumkan kepada publik.

Hingga Kamis, operasi penyelamatan masih menjadi fokus utama di kedua negara. Pemerintah Nepal dan China menegaskan bahwa pencarian korban akan dilanjutkan, sementara bantuan bagi warga yang kehilangan rumah serta pemulihan akses menuju kawasan terdampak terus dilakukan secara bertahap.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User