BANJARMASIN — Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mulai mematangkan rencana operasi pengangkatan kapal atau salvage terhadap bangkai KM Virgo yang tenggelam. Langkah teknis ini disiapkan seiring belum ditemukannya 129 korban yang masih dinyatakan hilang hingga memasuki hari keempat pencarian intensif di perairan Kalimantan Selatan.
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menegaskan bahwa tim ahli independen dan teknisi maritim diterbangkan khusus untuk melakukan asesmen menyeluruh terhadap posisi dan integritas struktural badan kapal di dasar laut. Evaluasi teknis ini menjadi kunci sebelum tim SAR gabungan mengerahkan alat berat bawah air.
"Tim ahli yang dihadirkan mayoritas berasal dari Jakarta. Sebagian personel telah tiba di Banjarmasin, sementara tim pendukung lainnya dijadwalkan tiba lengkap pada Kamis pagi guna mematangkan skema evakuasi," ujar Syafii dalam konferensi pers di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin.
Kronologi dan Tahapan Penanganan SAR KM Virgo
Operasi penyelamatan dan pencarian korban dilakukan melalui koordinasi bertahap untuk memastikan keselamatan penyelam sekaligus efektivitas evakuasi:
- Hari ke-1 hingga ke-3: Tim SAR gabungan memetakan titik koordinat tenggelamnya kapal, mengerahkan armada kapal patroli, serta melakukan penyisiran permukaan secara paralel di sektor pencarian seluas puluhan mil laut.
- Hari ke-4: Penyelam khusus diterjunkan ke titik bangkai kapal di tengah kendala jarak pandang dan gelombang laut, sementara tim udara melakukan asesmen visual dari helikopter SAR.
- Tahap Lanjutan (Rencana Operasi): Pelaksanaan rapat koordinasi terpadu di Banjarmasin guna menentukan metode salvage terbaik berdasarkan hasil survei batimetri dan visual dasar laut.
Opsi Pengangkatan Kapal dengan Balon Apung
Syafii menjelaskan bahwa metode salvage menjadi prioritas darurat apabila faktor cuaca buruk terus menghalangi penyelam masuk ke kompartemen tertutup kapal. Salah satu skenario utama yang disiapkan adalah membalikkan atau menegakkan posisi bangkai kapal menggunakan teknologi kantung udara atau balon apung (lifting bags).
Dengan teknik tersebut, akses pintu dan lorong kabin di bagian dalam kapal dapat terbuka lebar, memudahkan personel SAR menyisir area yang diduga menjadi lokasi terjebaknya para korban. Peralatan penunjang hidrolik dan kompresor berkapasitas besar akan didatangkan dari berbagai wilayah penyangga, termasuk Surabaya dan Balikpapan.
Proses reposisi badan kapal diperkirakan memakan waktu sekitar 24 jam apabila tidak terkendala arus bawah laut yang ekstrem. Kendati demikian, durasi dapat bertambah bergantung pada tingkat sedimentasi lumpur yang mengubur sebagian badan kapal.
Temuan Barang Bukti dan Keterlibatan TNI AL
Di sisi lain, operasi bawah laut yang melibatkan tim penyelam Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Dinas Penyelaman Bawah Air (Dislambair) TNI AL mulai menemukan titik terang terkait sebaran material kapal. Sejumlah barang penting di sekitar lambung kapal telah berhasil diamankan sesuai prosedur hukum maritim.
Seluruh temuan fisik dan dokumentasi visual bawah air tersebut telah diserahkan kepada pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mendukung proses investigasi menyeluruh mengenai penyebab utama musibah tenggelamnya KM Virgo.
Comments (0)