Bandung — Sebanyak 1.700 atlet taekwondo dari berbagai daerah dan negara bertanding
Kompetisi tahun ini mencatat rekor partisipasi tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan. Dari total 1.700 peserta, sebanyak 1.450 atlet berasal dari 28
Kompetisi tahun ini mencatat rekor partisipasi tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan. Dari total 1.700 peserta, sebanyak 1.450 atlet berasal dari 28 provinsi di Indonesia, sementara 250 atlet lainnya datang dari 11 negara, termasuk Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Korea Selatan, Australia, dan Amerika Serikat. Mereka bertanding dalam dua kategori utama, yaitu kyorugi (pertarungan) dan poomsae (jurus), dengan pembagian kelompok usia mulai dari kadet, junior, hingga senior.
Ketua Panitia Penyelenggara, Ahmad Rizaldi, menyatakan bahwa peningkatan jumlah peserta sebesar 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan kepercayaan yang semakin kuat terhadap standar penyelenggaraan di Indonesia. "Ini menjadi bukti bahwa taekwondo Indonesia semakin diperhitungkan di tingkat internasional. Kami menargetkan ajang ini masuk dalam kalender resmi Federasi Taekwondo Dunia pada 2027," ujarnya saat pembukaan, Jumat pagi.
Pertandingan hari pertama langsung menyajikan persaingan ketat di kelas under-54 kg putra junior dan under-46 kg putri kadet. Delegasi Vietnam dan Thailand tampil dominan dengan kecepatan tendangan dan akurasi poin tinggi, sementara kontingen Indonesia mengandalkan kekuatan fisik dan strategi bertahan. Hingga pukul 18.00 WIB, panitia mencatat telah merampungkan 127 dari total 340 partai yang dijadwalkan sepanjang akhir pekan.
Distribusi Partisipan dan Kategori Pertandingan
Berdasarkan data panitia, distribusi peserta menunjukkan dominasi kontingen Jawa Barat dengan 320 atlet, disusul DKI Jakarta (210 atlet) dan Jawa Timur (185 atlet). Dari peserta internasional, Malaysia mengirimkan delegasi terbesar dengan 58 atlet, diikuti Filipina (45 atlet) dan Vietnam (38 atlet).
| Asal Kontingen | Jumlah Atlet | Kategori Terbanyak |
|---|---|---|
| Jawa Barat | 320 | Junior Kyorugi |
| DKI Jakarta | 210 | Senior Poomsae |
| Jawa Timur | 185 | Kadet Kyorugi |
| Malaysia | 58 | Senior Kyorugi |
| Filipina | 45 | Junior Kyorugi |
| Vietnam | 38 | Senior Kyorugi |
| Negara Lain (6 negara) | 109 | Poomsae & Kyorugi |
Kategori kyorugi mendominasi dengan 980 peserta, sementara poomsae diikuti 720 peserta. Panitia menyediakan 6 lapangan pertandingan (court) yang beroperasi paralel untuk mengakomodasi volume pertandingan tinggi. Sistem penilaian menggunakan sensor elektronik Gen 3 yang telah distandardisasi World Taekwondo, menjamin objektivitas pencatatan poin.
Dampak Ekonomi dan Target Pembinaan
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung, Rina Kusumawati, memperkirakan perputaran ekonomi selama tiga hari penyelenggaraan mencapai Rp 4,2 miliar. Angka ini berasal dari akomodasi, transportasi lokal, konsumsi, dan sektor pendukung lainnya. "Hotel di sekitar venue mencatat okupansi 92 persen sejak H-2. Ini membuktikan event olahraga mampu menjadi katalis ekonomi," jelasnya.
Dari sisi pembinaan, Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) menempatkan ajang ini sebagai tolok ukur seleksi tahap pertama menuju SEA Games 2027. "Performanya di sini menjadi indikator awal. Kami memantau langsung atlet-atlet potensial untuk dipanggil mengikuti pelatihan nasional," ujar Yusuf Mahendra, pelatih kepala tim nasional taekwondo Indonesia. Ia menambahkan bahwa regenerasi atlet berjalan positif dengan munculnya bibit-bibit baru dari luar Pulau Jawa, seperti Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan yang masing-masing mengirimkan 12 atlet finalis potensial.
Sorotan khusus tertuju pada laga ekshibisi atlet difabel taekwondo yang baru pertama kali dimasukkan dalam rangkaian acara, menandai langkah inklusivitas olahraga ini.