Aplikasi Edukasi MAKA Buatan Anak Negeri Resmi Diluncurkan

Jakarta – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama konsorsium akademisi dan industri resmi meluncurkan aplikasi edukasi digital MAKA, Senin (10/3). Acara ...

Jul 13, 2026 - 07:13
0 1

Jakarta – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bersama konsorsium akademisi dan industri resmi meluncurkan aplikasi edukasi digital MAKA, Senin (10/3). Acara yang digelar di Auditorium GKBI, Jakarta Pusat, dihadiri ratusan undangan dari kalangan pendidik, pengembang teknologi, dan perwakilan sekolah. Aplikasi ini disebut menjadi tonggak baru bagi ekosistem pembelajaran daring yang inklusif dan sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia.

“MAKA bukan sekadar aplikasi, melainkan wujud nyata hilirisasi riset perguruan tinggi yang langsung menyentuh masalah klasik pendidikan kita: akses dan mutu. Kami berharap inovasi ini segera diadopsi di seluruh penjuru negeri,” ujar Menteri Nadiem Anwar Makarim dalam sambutannya.

Lahir dari Kolaborasi Riset dan Industri

Aplikasi MAKA merupakan produk kerja sama antara Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan mitra industri PT Teknologi Edukasi Nusantara (TEN). Selama dua tahun, puluhan peneliti multidisiplin—mulai dari pakar pedagogi, psikolog pendidikan, hingga insinyur perangkat lunak—bahu-membahu merancang platform ini. Proyek mendapat hibah penelitian dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan dukungan teknis dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Kami menggabungkan kurikulum Merdeka Belajar dengan pendekatan kecerdasan buatan yang adaptif. Setiap materi didesain berdasarkan analisis kebutuhan siswa di berbagai zona,” jelas Prof. Dr. Budi Santoso, Dekan Fasilkom UI yang memimpin tim akademik. Ia menambahkan, seluruh konten telah melalui uji validasi oleh Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP).

Sementara itu, PT TEN berkontribusi membangun infrastruktur cloud yang aman serta aplikasi mobile yang ringan. “Kami ingin aplikasi ini tetap bisa digunakan di ponsel kelas menengah ke bawah, dengan konsumsi data sangat hemat. Bahkan, mode luring memungkinkan siswa belajar tanpa internet sama sekali,” ujar Andi Wijaya, CEO PT TEN.

Fitur Canggih untuk Pembelajaran Personal

MAKA dibekali lebih dari 8.000 modul pembelajaran interaktif yang mencakup mata pelajaran inti SD-SMA: matematika, sains, bahasa Indonesia dan Inggris, serta pendidikan kewarganegaraan. Tak ketinggalan, keterampilan abad ke-21 seperti pemrograman, desain grafis, kewirausahaan, dan literasi keuangan juga tersedia dalam unit khusus.

Mesin rekomendasi berbasis AI menjadi otak dari personalisasi pembelajaran. Sistem akan memetakan kelemahan setiap siswa melalui asesmen awal, lalu menyajikan soal dan video penjelasan yang sesuai tingkatan. Fitur gamifikasi—seperti lencana dan papan skor—dirancang untuk memacu motivasi belajar. Guru dan orang tua bisa memantau perkembangan melalui dasbor yang menampilkan data real-time.

“Fitur luring ini sangat penting. Saya sudah uji di sekolah kami di pelosok Sumba. Anak-anak bisa belajar sambil guru berinteraksi lewat diskusi kelompok, tanpa tergantung sinyal,” kata Siti Nurhayati, guru SDN 02 Katikutana, yang turut hadir dalam peluncuran.

Respons Positif dan Rencana Integrasi

Kemendikbudristek menyambut MAKA sebagai bagian dari strategi digitalisasi pendidikan nasional. Nadiem menegaskan bahwa aplikasi ini akan diintegrasikan ke dalam ekosistem Merdeka Belajar, khususnya platform Rapor Pendidikan dan akun belajar.id. Uji coba telah dilakukan di 500 sekolah pada semester genap 2024/2025, dengan hasil: tingkat penyelesaian modul naik 42 persen dan skor asesmen meningkat 18 persen dibanding metode konvensional.

“Data ini cukup kuat untuk merekomendasikan MAKA ke seluruh dinas pendidikan. Kami juga telah mengalokasikan dana BOS Kinerja untuk mendukung sekolah yang berminat mengadopsi,” ujar Dirjen PAUD Dikdasmen, Iwan Syahril.

Menjangkau Pelosok dan Masa Depan MAKA

Untuk mengatasi hambatan geografis, pengembang menggandeng operator seluler guna menyediakan akses data gratis bagi pengguna MAKA hingga akhir 2025. Selain itu, program “Satu Siswa Satu Perangkat” akan menyalurkan 10.000 tablet ke daerah 3T melalui kerja sama dengan Kemendes PDTT.

Target ambisius ditetapkan: 2 juta pengguna dalam satu tahun dan pengembangan konten vokasi untuk SMK serta kursus keterampilan kerja. “Kami sudah menyiapkan modul otomotif, perhotelan, dan digital marketing. MAKA akan menjadi teman belajar sepanjang hayat,” tutup Andi Wijaya.

Acara ditutup dengan demonstrasi aplikasi oleh siswa SMPN 1 Jakarta yang telah merasakan manfaat MAKA. Aplikasi kini dapat diunduh gratis di Play Store dan App Store, sementara versi web tersedia di laman resmi make.id.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User