Apaberita.com, Jakarta – Harga ayam ras pedaging dan telur ayam di tingkat peternak masih melanjutkan tren pelemahan

Ketidakseimbangan Pasokan dan Permintaan Jadi Biang Keladi Direktur Jenderal PKH, Agung Suganda, menjelaskan bahwa fluktuasi harga yang tengah terjadi merupakan cerminan langsung dari terganggunya

Jul 08, 2026 - 05:59
0 0
Apaberita.com, Jakarta  – Harga ayam ras pedaging dan telur ayam di tingkat peternak masih melanjutkan tren pelemahan

Ketidakseimbangan Pasokan dan Permintaan Jadi Biang Keladi

Direktur Jenderal PKH, Agung Suganda, menjelaskan bahwa fluktuasi harga yang tengah terjadi merupakan cerminan langsung dari terganggunya keseimbangan antara ketersediaan (supply) dan permintaan (demand) di lapangan. Di satu sisi, suplai ayam dan telur sedang melimpah, sementara di sisi lain, permintaan dari konsumen justru mengalami penurunan. Pertemuan dua tekanan ini menciptakan kelebihan stok yang memaksa harga jatuh di bawah biaya produksi ideal peternak.

“Terkait dengan penurunan harga tentu ini terkait suplai dan demand, dan banyak juga penyebabnya, tetapi keseimbangan suplai dan demand ini yang terganggu, sehingga pada saat supply melimpah, demand-nya turun. Tentu itu harganya juga menjadi turun,” ujar Agung dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Selatan, Senin (6/7/2026).

Lebih lanjut, Agung menyebut bahwa fenomena pasokan berlebih kerap terjadi secara siklikal di industri perunggasan. Siklus produksi ayam pedaging yang relatif pendek, sekitar 30-35 hari, membuat peternak sangat responsif terhadap sinyal harga. Ketika harga sempat menguat, banyak peternak serentak memperbesar populasi, yang bermuara pada panen raya dalam waktu yang hampir bersamaan. Bersamaan dengan itu, permintaan dari rumah tangga maupun sektor horeka (hotel, restoran, katering) bisa menurun karena berbagai faktor, seperti daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih atau berakhirnya momentum konsumsi tinggi pasca-hari besar keagamaan.

Dampak pada Peternak dan Harapan Stabilisasi

Merujuk laporan media kami, kondisi saat ini sangat merugikan peternak mandiri maupun peternak plasma. Harga jual yang berada di bawah HPP memaksa sebagian peternak melakukan pemangkasan biaya operasional, bahkan ada yang terpaksa menunda pengisian kandang guna meminimalkan kerugian. Padahal, biaya pakan yang menyerap sekitar 70% dari total biaya produksi tetap tinggi, sehingga selisih negatif kian melebar.

Kementerian Pertanian melalui Dirjen PKH terus memonitor pergerakan harga live bird di tingkat kandang. Agung menegaskan bahwa pihaknya tengah mencari akar masalah yang lebih dalam, termasuk mengevaluasi rantai pasok dan distribusi. Meski belum merinci langkah intervensi pasar yang bakal dilakukan, pernyataan ini membuka ruang bagi kemungkinan pengendalian tata niaga bibit atau pengelolaan ritase pemotongan agar tekanan harga pada peternak bisa berkurang dalam waktu dekat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rizky-amelia

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan peristiwa penting.

Comments (0)

User