Ancaman Rudal Trump, Warisan Hatta, dan Lukisan Cadas Muna

Beragam peristiwa menonjol melintasi panggung politik nasional dan internasional. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menggetarkan dunia dengan ancaman penghancuran terhadap Iran menggunakan...

Jul 11, 2026 - 20:57
0 0

Beragam peristiwa menonjol melintasi panggung politik nasional dan internasional. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menggetarkan dunia dengan ancaman penghancuran terhadap Iran menggunakan ribuan rudal jika keselamatannya terancam. Di sisi lain, pemikiran ekonomi kerakyatan almarhum Mohammad Hatta kembali menjadi sorotan sebagai fondasi koperasi di Indonesia. Sementara itu, warisan arkeologi Indonesia di Sulawesi Tenggara, yaitu lukisan cadas Liang Metanduno, mendapat perhatian dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang mengusulkan penggunaan replikanya sebagai ikon museum. Tak ketinggalan, Komisi III DPR mendesak Kejaksaan Agung membentuk tim penyidik independen untuk menangani kasus korupsi yang menjerat mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.

Ancaman Ribuan Rudal Trump

Presiden Donald Trump dalam sebuah pernyataan tegas mengancam akan meluncurkan ribuan rudal untuk menghancurkan Iran apabila Teheran berupaya membunuhnya. Ancaman ini disampaikan di tengah memanasnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia. “Jika Iran berani melakukan tindakan apa pun terhadap saya, kami akan segera merespons dengan kekuatan militer yang belum pernah dilihat sebelumnya. Ribuan rudal akan diluncurkan dan Iran akan dihancurkan,” tegas Trump sebagaimana dilaporkan media internasional. Pernyataan ini muncul setelah adanya laporan intelijen tentang dugaan rencana pembunuhan terhadap mantan presiden itu. Ketegangan antara Washington dan Teheran memang kembali meningkat pasca-kegagalan perundingan nuklir dan sanksi ekonomi yang diperketat. Kehadiran armada Angkatan Laut AS di Teluk Persia dan aksi penangkapan kapal tanker oleh Iran semakin menambah panas situasi. Para analis menilai ancaman retorika ekstrem ini berisiko memicu konfrontasi langsung berskala besar.

Warisan Ekonomi Kerakyatan Bung Hatta

Di dalam negeri, pemikiran Mohammad Hatta tentang ekonomi kerakyatan kembali diulas oleh para akademisi dan pegiat koperasi. Dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, Hatta meletakkan landasan konstitusional bagi gerakan koperasi melalui Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Koperasi, menurut Hatta, adalah soko guru perekonomian nasional yang mampu menjauhkan Indonesia dari kapitalisme dan liberalisme ekonomi. Visinya mengakar pada semangat gotong royong dan keadilan sosial, menjadikan koperasi sebagai wadah bagi rakyat kecil untuk mandiri secara ekonomi. Hatta sendiri terlibat aktif dalam pembentukan koperasi pertama di masa pendudukan Jepang dan terus memperjuangkannya hingga akhir hayat. Hingga kini, semangat Hatta terus dikenang setiap peringatan Hari Koperasi Nasional, meski tantangan modernisasi dan globalisasi menjadi ujian bagi eksistensi koperasi di era digital.

Jejak Peradaban di Liang Metanduno

Sementara itu, kekayaan arkeologi Indonesia kembali mencuat lewat lukisan cadas di Liang Metanduno, Muna, Sulawesi Tenggara, yang diyakini sebagai salah satu gambar gua tertua di dunia. Lukisan yang menggambarkan berbagai figur manusia, hewan, dan simbol-simbol prasejarah ini diperkirakan berusia puluhan ribu tahun, menyaingi penemuan serupa di Eropa. Situs tersebut menjadi saksi bisu peradaban awal Austronesia yang mendiami wilayah Nusantara sebelum kedatangan pengaruh Hindu-Buddha. Para peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan lembaga internasional terus meneliti teknik pembuatan, pigmen, dan makna di balik goresan yang bertahan melewati zaman. Keberadaan Liang Metanduno memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat peradaban purba dunia yang layak dilestarikan dan dipromosikan sebagai warisan budaya global.

Replika Lukisan Cadas untuk Museum Sultra

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dalam kunjungannya ke Sulawesi Tenggara mengusulkan agar replika lukisan cadas dari Liang Metanduno dipasang di Museum Sulawesi Tenggara (Sultra) sebagai ikon utama. Menurutnya, hal ini dapat menjadi daya tarik wisatawan yang ingin menyaksikan kekayaan prasejarah tanpa harus menempuh perjalanan sulit ke lokasi asli yang berada di tebing karst terpencil. “Replika ini akan menjadi etalase kebudayaan kita, memudahkan generasi muda dan pengunjung untuk mengagumi kecerdasan leluhur,” ujar Fadli Zon. Ia juga berencana mendukung revitalisasi Museum Sultra serta mendorong pengakuan internasional terhadap situs karst Muna. Langkah ini diharapkan sejalan dengan upaya pemerintah memajukan pariwisata berbasis budaya dan sejarah yang kini makin diminati.

Desakan Tim Independen untuk Kasus Febrie

Di bidang penegakan hukum, Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat mendesak Kejaksaan Agung untuk segera membentuk tim penyidik independen guna mengusut kasus dugaan korupsi yang melibatkan mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah. Desakan ini disampaikan dalam rapat kerja antara Komisi III dan Kejagung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Anggota Komisi III menilai bahwa penanganan internal oleh institusi yang sama berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dan meragukan objektivitas proses hukum. “Kami meminta Jaksa Agung agar mempertimbangkan pembentukan tim independen yang melibatkan unsur Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan akademisi hukum untuk mengusut kasus ini,” tegas salah satu anggota DPR. Kasus yang melibatkan Febrie Adriansyah mencuat setelah adanya laporan masyarakat terkait dugaan penyalahgunaan wewenang dan penerimaan gratifikasi selama ia menjabat sebagai Jampidsus. Kejagung berjanji akan menindaklanjuti masukan DPR dan menegaskan komitmennya untuk menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User