Amerika Serikat — Lonjakan Tarif Listrik 90% Picu Protes Warga dan Ancaman Kebangkrutan Pabrik
Senja di Mansfield, Ohio, biasanya menghadirkan ketenangan khas kota industri kecil. Namun, pekan ini, langit senja itu diiringi gemuruh amarah dan keputus
Senja di Mansfield, Ohio, biasanya menghadirkan ketenangan khas kota industri kecil. Namun, pekan ini, langit senja itu diiringi gemuruh amarah dan keputusasaan. Di depan gedung data center Meta yang menjulang, puluhan warga berkumpul dengan poster bertuliskan “AI Membunuh Kami” dan “Listrik untuk Rakyat, Bukan Robot.” Mereka adalah wajah-wajah korban dari krisis energi babak baru yang dipicu oleh perlombaan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Otoritas regulasi energi Amerika Serikat, dalam keputusan mengejutkan pada Kamis (22/5/2026), mengumumkan kenaikan tarif listrik hingga 90% untuk wilayah-wilayah dengan konsentrasi pusat data AI tinggi. Kebijakan yang berlaku segera ini didorong oleh defisit pasokan energi masif yang diakibatkan oleh ekspansi agresif infrastruktur AI, bersamaan dengan krisis kelangkaan chip yang memaksa pusat data mengonsumsi daya lebih besar untuk komputasi yang kurang efisien.
Ledakan Permintaan, Jaringan Kelistrikan Tercekik
Dewan Keandalan Listrik Amerika Utara (NERC) dalam laporan terbarunya menyebutkan, permintaan listrik dari pusat data AI diproyeksikan melonjak tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir. Namun, yang terjadi di Mansfield dan kota-kota serupa melampaui semua proyeksi. Sebuah pusat data tunggal kini bisa menyedot daya setara dengan kebutuhan 400.000 rumah tangga. Ketika chip efisiensi tinggi produksi TSMC dan NVIDIA mengalami kelangkaan akut sejak akhir 2025, operator pusat data terpaksa mengoperasikan chip generasi lama yang boros energi, menciptakan efek domino katastropik pada jaringan listrik.
“Ini bukan kenaikan, ini pembunuhan massal ekonomi,” ujar Maria Gonzales, seorang ibu dua anak yang tagihan listriknya melonjak dari $120 menjadi $228 per bulan. “Kami harus memilih antara membayar listrik atau membeli obat. Sementara itu, pusat data di seberang kota menyala 24 jam tanpa henti.”
Eskalasi biaya energi ini diperparah oleh mekanisme pasar listrik yang cacat. Selama dua dekade, pusat data AI mendapat potongan harga dan prioritas jaringan. Kini, ketika pasokan menipis, beban justru ditimpakan ke pundak warga dan industri kecil melalui skema penetapan harga berbasis permintaan yang baru.
Pabrik di Ujung Tanduk
Sektor manufaktur yang baru pulih dari gelombang pandemi dan resesi kini menghadapi pukulan telak. Di kawasan industri Rust Belt, puluhan pabrik kecil dan menengah melaporkan kenaikan biaya operasional hingga 70% hanya dalam satu bulan. Pabrik komponen otomotif, pengolahan logam, dan tekstil adalah yang paling terpukul.
“Kami harus menutup tiga dari lima shift produksi. Dua ratus pekerja sudah dirumahkan,” kata David Chen, pemilik Chen Manufacturing di Cleveland. “Pinjaman bank tak mungkin menutup defisit operasional sebesar ini. Dalam enam minggu, jika tak ada intervensi, kami bangkrut.”
Asosiasi Manufaktur Nasional (NAM) mencatat, setidaknya 1.200 pabrik di seluruh Amerika Serikat terancam gulung tikar dalam kuartal ini jika tarif listrik tidak direvisi. Sementara itu, raksasa teknologi pemilik pusat data—Meta, Google, Microsoft, dan Amazon—dikabarkan sedang melakukan pembicaraan dengan Gedung Putih untuk solusi substansial, termasuk membangun infrastruktur listrik mandiri. Namun, pembangkit listrik tenaga nuklir modular yang mereka janjikan paling cepat beroperasi pada 2030.
Kekesalan publik pun mendidih. Unjuk rasa spontan menjamur di kota-kota yang menjadi tuan rumah pusat data: Mansfield, Prineville, Altoona, dan Council Bluffs. Para demonstran menuntut moratorium segera untuk semua pembangunan pusat data baru hingga audit energi tuntas dilakukan dan beban tarif direstrukturisasi.
Situasi ini menjadi babak baru dalam dilema fundamental era digital: kemajuan teknologi yang dikebut justru mengorbankan fondasi ekonomi dan sosial yang menyokongnya. Dengan tarif yang kini mencekik dan ribuan pabrik di ambang kehancuran, pertanyaannya bukan lagi seberapa cepat AI berkembang, tetapi seberapa besar harga yang harus dibayar manusia biasa.
Comments (0)