Alkohol dan Perselisihan Asmara Pemicu Kekerasan Kelompok

Bekasi — Kepolisian Resor Metro Bekasi Kota mengonfirmasi bahwa insiden pengeroyokan yang melibatkan kreator konten media sosial, Mondy Tatto, pada pekan lalu berakar dari perselisihan cinta segitig...

Alkohol dan Perselisihan Asmara Pemicu Kekerasan Kelompok

Bekasi — Kepolisian Resor Metro Bekasi Kota mengonfirmasi bahwa insiden pengeroyokan yang melibatkan kreator konten media sosial, Mondy Tatto, pada pekan lalu berakar dari perselisihan cinta segitiga yang dipicu konsumsi minuman beralkohol. Temuan ini kembali menyoroti bahaya lingkungan pertemanan toksik yang mudah menyulut kekerasan massal di kalangan anak muda.

Berdasarkan keterangan resmi yang dihimpun Apaberita, peristiwa nahas itu terjadi di sebuah kafe kawasan Bekasi Utara saat sekelompok pemuda terlibat cekcok mulut yang dengan cepat berubah menjadi aksi pengeroyokan. “Penyelidikan kami menunjukkan bahwa para pelaku berada dalam pengaruh alkohol sehingga kontrol diri mereka menurun drastis,” ujar seorang perwira penyidik yang enggan disebut namanya.

Kasus ini hanyalah satu dari banyak kejadian serupa yang mencuat dalam beberapa bulan terakhir. Para pakar kriminologi dan psikologi mencatat, dinamika semacam ini tidak lahir dari motif yang rumit, melainkan dari akumulasi relasi sosial beracun yang tidak segera ditangani.

Disfungsi Kontrol Diri Akibat Alkohol

Konsumsi minuman beralkohol telah lama diidentifikasi sebagai katalisator utama dalam eskalasi konflik antarpribadi. Kajian yang dilakukan oleh Ciorba dan Rada pada 2022 menegaskan bahwa zat etanol secara fisiologis dan psikologis merusak mekanisme pengaturan diri (self-regulation) seseorang. Ketika fungsi itu terhambat, kemampuan untuk menahan impuls agresif ikut lenyap, sehingga provokasi sekecil apa pun dapat berubah menjadi serangan fisik yang tidak terkendali.

“Alkohol bekerja seperti pelarut bagi pagar moral dan sosial yang biasanya menahan seseorang untuk tidak melukai orang lain. Dalam kondisi mabuk, seseorang hanya bertindak berdasarkan emosi sesaat, tanpa lagi mempertimbangkan konsekuensi hukum maupun moral,” papar rilis yang dikeluarkan oleh Divisi Psikologi Forensik Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) pada Selasa (15/5).

Dalam konteks kasus di Bekasi, polisi menemukan bahwa sekelompok pelaku telah mengonsumsi minuman keras selama berjam-jam sebelum keributan terjadi. Hal ini memperkuat dugaan bahwa kekerasan itu tidak direncanakan, melainkan dipicu oleh hilangnya kesabaran secara tiba-tiba akibat zat adiktif.

Api Cemburu yang Mudah Tersulut

Faktor pemicu lainnya yang konsisten muncul dalam berbagai laporan kepolisian adalah kecemburuan asmara. Rasa memiliki yang berlebihan terhadap pasangan sering kali menciptakan persepsi ancaman dari orang lain, bahkan dari sesama teman. Kondisi ini diperparah jika seluruh individu yang terlibat berada dalam satu geng yang sama, sehingga konflik personal dengan cepat menyebar menjadi konflik kelompok.

“Cinta segitiga bukan lagi sekadar drama remaja,” ujar seorang konselor keluarga dari Lembaga Bantuan Psikologi Nusantara yang dimintai pendapat. “Ketika rasa cemburu dibiarkan tanpa mediasi, ia akan mengendap dan sewaktu-waktu meledak. Jika saat ledakan itu terjadi pelaku berada di bawah pengaruh zat tertentu, risikonya menjadi berlipat ganda.”

Persoalan kecemburuan ini, menurut sumber yang sama, semakin berbahaya dalam lingkungan pertemanan yang tidak memiliki saluran komunikasi sehat. Sindiran, adu domba, dan persaingan tidak langsung menjadi bara dalam sekam yang tinggal menunggu pemicu untuk terbakar.

Lingkaran Pertemanan Toksik sebagai Sarang Kekerasan

Sebuah studi independen yang dirilis pada 2023 oleh lembaga riset psikososial menemukan bahwa kualitas sebuah lingkaran pertemanan sangat menentukan kemampuan individu dalam meregulasi emosi. Individu yang terjebak dalam kelompok beracun terbukti lebih mudah mengalami ledakan amarah, bahkan terhadap orang yang tidak secara langsung bersalah.

“Berteman dengan orang-orang yang biasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan akan menormalisasi perilaku tersebut. Lama-lama, seorang anggota kelompok akan menganggap bahwa pengeroyokan adalah respons yang wajar terhadap konflik,” demikian bunyi rekomendasi kebijakan yang disusun oleh Pusat Kajian Kekerasan Universitas Padjadjaran.

Laporan itu juga mencatat bahwa pengeroyokan sering kali dilakukan secara kolektif bukan karena semua pelaku memiliki dendam pribadi, melainkan karena dorongan untuk menunjukkan solidaritas yang salah kaprah terhadap teman satu geng. Inilah yang membuat tindakan tersebut sulit dicegah tanpa intervensi yang menyasar norma sosial dalam kelompok.

Data dari Biro Pengendalian Operasi Mabes Polri menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga April 2025, sedikitnya 47 kasus pengeroyokan di wilayah hukum Polda Metro Jaya melibatkan unsur minuman keras dan konflik asmara. Angka ini naik sekitar 14 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Perwira menengah Divisi Humas Polri, dalam keterangannya di Jakarta, menegaskan bahwa pihaknya akan memperketat pengawasan terhadap tempat hiburan malam yang kerap menjadi lokasi awal pertikaian. “Kami tidak akan mentoleransi peredaran miras ilegal yang menjadi pemicu utama hilangnya kesadaran para pelaku,” ujarnya.

Sementara itu, para tersangka pengeroyokan di Bekasi kini mendekam di sel tahanan Mapolres Metro Bekasi Kota. Mereka dijerat dengan Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP tentang pengeroyokan yang mengakibatkan luka berat, dengan ancaman pidana penjara maksimal sembilan tahun. Polisi juga menyita barang bukti berupa rekaman kamera pengawas dan sejumlah ponsel yang diduga digunakan untuk merekam aksi kekerasan.

Dengan terungkapnya motif di balik kasus Mondy Tatto, publik kembali diingatkan bahwa kekerasan jalanan bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan buah dari gagalnya mekanisme pengendalian diri, lemahnya literasi emosi, dan tumbuh suburnya lingkungan pergaulan yang merayakan konflik. Tanpa langkah pencegahan yang sistematis, peristiwa serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk terulang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User