Oct 15, 2026
Politik

145 Warga Serpong Alami Muntaber, Air Tercemar Diduga Penyebab

TANGERANG SELATAN — Sebanyak 145 warga di kawasan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dilaporkan mengalami gejala muntah dan berak (muntaber) dalam kurun waktu beberapa hari terakhir. ...

145 Warga Serpong Alami Muntaber, Air Tercemar Diduga Penyebab

TANGERANG SELATAN — Sebanyak 145 warga di kawasan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dilaporkan mengalami gejala muntah dan berak (muntaber) dalam kurun waktu beberapa hari terakhir. Dugaan awal mengarah pada konsumsi air yang tercemar sebagai penyebab utama kejadian luar biasa tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, Pilar, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan mengenai warga yang terdampak dan langsung melakukan penelusuran epidemiologi di lapangan. "Saat ini warga yang terdampak sebagian menjalani pengobatan di rumah sakit, sementara yang lain sudah sembuh hingga hanya menjalani rawat jalan," ujar Pilar dalam keterangan resminya, Jumat.

Berdasarkan data sementara yang dihimpun Dinas Kesehatan, jumlah pasien terus bertambah sejak laporan pertama masuk. Pemerintah daerah telah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) di tingkat kelurahan untuk mempercepat penanganan dan mencegah perluasan wabah.

Penelusuran Sumber Penularan

Tim surveilans Dinas Kesehatan bersama Puskesmas setempat melakukan pengambilan sampel air dari sejumlah titik, termasuk sumber air bersih yang digunakan warga sehari-hari. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan indikasi pencemaran bakteriologis pada sampel air yang diuji di laboratorium kesehatan daerah.

"Kami masih menunggu hasil uji laboratorium secara lengkap. Namun berdasarkan gejala klinis dan pola penyebaran, dugaan kuat mengarah pada konsumsi air yang tercemar," tegas Pilar.

Selain pengambilan sampel, petugas kesehatan juga melakukan penyelidikan terhadap kondisi sanitasi lingkungan, jarak septic tank dengan sumber air, serta kemungkinan kebocoran pada jaringan perpipaan air bersih. Koordinasi dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan instansi terkait tengah dilakukan untuk memastikan keamanan pasokan air bagi warga.

Langkah Penanganan dan Penanggulangan

Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Kesehatan telah mengerahkan tenaga medis tambahan ke puskesmas dan rumah sakit rujukan. Obat-obatan, cairan rehidrasi oral, serta logistik kesehatan lainnya didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan penanganan pasien.

"Kami menindaklanjuti laporan ini dengan melakukan penyuluhan kepada warga mengenai pentingnya memasak air hingga mendidih sebelum dikonsumsi, serta menjaga kebersihan lingkungan," jelas Pilar.

Dinas Kesehatan juga menginstruksikan seluruh fasilitas kesehatan di wilayah terdampak untuk melakukan pencatatan dan pelaporan harian kasus muntaber. Hal ini dilakukan agar perkembangan situasi dapat dipantau secara real-time dan langkah intervensi dapat dilakukan secara cepat.

Selain itu, pemerintah daerah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan penyemprotan disinfektan di area permukiman, serta memperbaiki akses air bersih yang layak bagi warga terdampak.

Imbauan kepada Masyarakat

Masyarakat diimbau untuk sementara tidak mengonsumsi air mentah dari sumber yang diduga tercemar. Warga diminta menggunakan air yang telah dimasak hingga mendidih atau air kemasan sebagai langkah pencegahan sementara.

"Kepada warga yang mengalami gejala muntah, diare, demam, atau dehidrasi, kami minta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan menunggu kondisi memburuk," tegas Pilar.

Dinas Kesehatan juga mengingatkan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk mencuci tangan dengan sabun, mengolah makanan secara higienis, serta menjaga kebersihan jamban dan saluran air limbah rumah tangga.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa akibat kejadian tersebut. Pemerintah Kota Tangerang Selatan menyatakan akan terus memperbarui informasi terkait perkembangan penanganan wabah muntaber ini secara berkala kepada publik.

Kasus ini menjadi peringatan bagi pemerintah daerah lain untuk memperkuat sistem pengawasan kualitas air bersih dan sanitasi lingkungan, terutama di kawasan padat penduduk, guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS bagus-nugroho

Reporter Kebijakan Publik. Fokus pada APBN, otonomi daerah, dan reformasi birokrasi.

Comments (0)

User