140 Mahasiswa dari 13 Negara Ikuti Program Keberlanjutan UMN 2026
Tangerang, 15 Juni 2026 — Universitas Multimedia Nusantara (UMN) resmi membuka Sustainability Immersion Program (SIP) 2026, program imersi keberlanjutan yang diikuti oleh 140 mahasiswa dari 13 negar...
Tangerang, 15 Juni 2026 — Universitas Multimedia Nusantara (UMN) resmi membuka Sustainability Immersion Program (SIP) 2026, program imersi keberlanjutan yang diikuti oleh 140 mahasiswa dari 13 negara. Agenda dua pekan ini dirancang untuk memperdalam wawasan peserta tentang pembangunan berkelanjutan melalui pendekatan multidisiplin yang memadukan teori, praktik lapangan, dan kolaborasi antarbudaya.
Acara pembukaan berlangsung di Auditorium Utama UMN dengan dihadiri oleh jajaran pimpinan kampus, perwakilan kementerian, duta besar, serta mitra korporasi. Rektor UMN dalam pidato kuncinya menekankan urgensi gerakan pemuda global dalam menjawab krisis iklim. "Dunia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan ekologis dan solidaritas global. SIP 2026 hadir sebagai kawah candradimuka bagi calon pemimpin tersebut," tegasnya.
Peserta Lintas Benua dan Proses Seleksi
Berdasarkan data panitia, ke-140 peserta berasal dari Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Jepang, Korea Selatan, India, Australia, Belanda, Jerman, Mesir, Kenya, dan Brasil. Mereka merupakan mahasiswa jenjang sarjana hingga magister yang berhasil lolos dari total 521 pendaftar. Seleksi dilakukan melalui penilaian esai orisinal tentang inovasi keberlanjutan, rekam jejak keterlibatan di komunitas, serta surat rekomendasi dari profesor pembimbing. Panel seleksi independen melibatkan akademisi UMN bersama perwakilan dari World Resources Institute (WRI) Indonesia dan UNDP Indonesia. Antusiasme global terhadap program ini tampak dari jumlah pendaftar yang melonjak 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan meningkatnya kesadaran pemuda terhadap isu keberlanjutan. Peserta berasal dari berbagai universitas ternama, antara lain University of Tokyo, Seoul National University, University of Melbourne, University of Amsterdam, dan University of São Paulo.
Ketua Program SIP, Dr. Rina Wardhani, mengungkapkan bahwa proporsi peserta perempuan mencapai 62 persen, mencerminkan komitmen kesetaraan gender. "Kehadiran para pemimpin muda perempuan ini sangat penting karena mereka sering kali menjadi agen perubahan di komunitas akar rumput," ujarnya. Ia menambahkan bahwa setiap delegasi membawa pengalaman spesifik, mulai dari proyek restorasi mangrove di Filipina hingga platform edukasi limbah makanan di Jerman.
Metode Imersif dan Studi Lapangan
Selama 14 hari, peserta menjalani sesi kelas interaktif, lokakarya keterampilan, diskusi panel, serta kunjungan lapangan ke dua lokasi percontohan. Kurikulum mencakup topik ekonomi sirkular, transisi energi bersih skala komunitas, pertanian perkotaan, dan komunikasi perubahan perilaku. Tim pengajar terdiri dari dosen UMN, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), praktisi dari Danone Indonesia, PT Surya Energi Nusantara, serta perwakilan Greeneration Foundation. Setiap peserta dibekali modul digital interaktif yang dapat diakses seumur hidup sebagai referensi lanjutan.
Sesi diskusi panel pertama menghadirkan narasumber dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Bappenas yang membahas kebijakan pengelolaan sampah nasional. Panel kedua mendiskusikan peran media dalam mengamplifikasi isu lingkungan, dengan pembicara dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan praktisi komunikasi digital. "Kami ingin peserta memahami bahwa solusi teknis harus didukung oleh strategi komunikasi yang efektif," jelas Dr. Rina. Puncak pembelajaran kolaboratif diwujudkan melalui simulasi negosiasi perubahan iklim yang dipandu oleh tim dari Kementerian Luar Negeri. Peserta berperan sebagai delegasi negara untuk merancang komitmen bersama, melatih keterampilan diplomasi sekaligus memahami dinamika politik global di balik perjanjian lingkungan.
Kunjungan lapangan pada hari keempat mengarah ke Kampung Iklim di Kabupaten Bogor dan Tempat Pemrosesan Akhir Cilowong di Kota Serang. Di Kampung Iklim, peserta menyaksikan sistem pertanian terpadu yang memanfaatkan air hujan dan limbah organik. Di TPA Cilowong, mereka belajar tentang pengelolaan gas metan menjadi energi listrik untuk 300 rumah tangga sekitar. Seorang peserta asal Kenya, Amina Ochieng, mengaku terinspirasi. "Model ini sangat mungkin diterapkan di wilayah pedesaan Kenya yang belum terjangkau listrik," komentarnya. Setelah kunjungan lapangan, peserta diwajibkan menyusun laporan reflektif yang membandingkan praktik di Indonesia dengan kondisi di negara asal, yang kemudian dipresentasikan dalam forum antarkelompok.
Proyek Kolaboratif dan Skema Pendanaan
Peserta dibagi ke dalam 28 kelompok campuran yang masing-masing terdiri dari lima negara berbeda. Setiap kelompok diwajibkan menyusun proposal solusi berbasis komunitas yang mencakup analisis kelayakan, peta pemangku kepentingan, dan indikator dampak. Proposal akan dipresentasikan pada hari ke-13 di hadapan dewan juri yang terdiri dari perwakilan UMN, Kemendikti Saintek, Bank DBS Indonesia, Unilever Indonesia Foundation, serta UNDP.
Tiga proposal terbaik akan memperoleh pendanaan awal masing-masing hingga Rp50 juta serta pendampingan teknis selama enam bulan pascaprogram. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Dr. Andi Patiware, menjelaskan bahwa mekanisme ini dirancang sebagai inkubator ide. "Kami tidak ingin program hanya berhenti di sertifikat. Kami ingin ada dampak konkret yang lahir dari kolaborasi mahasiswa lintas negara," tegasnya. Tahun lalu, proposal alumni tentang bank sampah digital berhasil memperoleh hibah lanjutan dari salah satu mitra dan kini beroperasi di tiga kota di Vietnam.
Apresiasi Pemerintah dan Dukungan Internasional
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, menyampaikan sambutan virtual yang mengapresiasi langkah UMN. "Inisiatif semacam ini merupakan wujud nyata internasionalisasi pendidikan tinggi yang berorientasi pada pencapaian SDGs," ucapnya. Ia juga mengimbau perguruan tinggi lain untuk mengembangkan program serupa yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam peta pendidikan global.
Dukungan juga mengalir dari para duta besar. Duta Besar Brasil untuk Indonesia menyoroti kesamaan tantangan deforestasi antara Indonesia dan Brasil serta pentingnya pertukaran pengetahuan antarpemuda. Duta Besar Kenya menekankan peluang penelitian bersama di sektor energi bersih dan berharap program ini membuka jalan bagi kolaborasi riset yang lebih intensif antara universitas di Kenya dan Indonesia. Perwakilan UNDP Indonesia turut hadir dan menyatakan kesiapan mendukung implementasi proposal terbaik melalui jaringan global mereka. Peserta dari Jepang, Haruto Tanaka, mengungkapkan bahwa ia mendaftar SIP untuk mempelajari kearifan lokal Indonesia dalam menjaga hutan. 'Konsep subak di Bali dan tradisi sasi di Maluku adalah contoh luar biasa bagaimana budaya bisa menjadi instrumen konservasi,' ujarnya.
Transformasi Kampus Berbasis Keberlanjutan
Komitmen UMN terhadap keberlanjutan tidak hanya tampak pada program ini. Kampus di Tangerang telah mengimplementasikan sejumlah inisiatif hijau, seperti pemasangan panel surya berkapasitas 120 kWp, sistem pengolahan air limbah terintegrasi, dan kebijakan pengelolaan sampah berbasis Reduce-Reuse-Recycle. Sejak 2024, UMN berhasil memangkas emisi karbon kampus hingga 27 persen dan menargetkan net zero emission pada tahun 2030. Wakil Rektor Bidang Sarana dan Prasarana menyatakan bahwa transformasi ini menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa domestik maupun peserta SIP untuk belajar langsung.
Jejaring Alumni dan Rencana Ke Depan
Setelah program berakhir, seluruh peserta akan terdaftar dalam Jaringan Alumni SIP yang telah memiliki 340 anggota dari tiga angkatan sebelumnya. Jaringan ini memfasilitasi kolaborasi riset, publikasi bersama, dan akses pendanaan melalui platform digital. Alumni SIP 2025, Maria Santos dari Brasil, menceritakan bahwa pengalaman di program ini menginspirasinya mendirikan perusahaan rintisan bernama Recicla Já yang mengolah botol plastik menjadi bahan bangunan. 'SIP membuka mata saya bahwa solusi bisa dimulai dari hal sederhana dan kolaborasi lintas negara,' tuturnya via video call. Jaringan alumni juga menyediakan mentoring berkelanjutan dari para profesional di bidang keberlanjutan, termasuk dari UNEP dan Bank Dunia.
Pada tahun 2027, UMN berencana menambah kuota peserta menjadi 200 orang dan membuka jalur beasiswa penuh bagi pelajar dari negara-negara Afrika Sub-Sahara dan Amerika Latin. Dr. Andi Patiware menegaskan bahwa target jangka panjang adalah menjadikan SIP sebagai model program imersi yang direplikasi oleh konsorsium universitas ASEAN. "Kami sudah menjalin pembicaraan dengan universitas di Thailand dan Malaysia untuk mengadopsi format serupa," ungkapnya.
Penutupan dan Malam Budaya
Rangkaian acara akan ditutup pada 28 Juni 2026 dengan sesi presentasi proposal final dan penganugerahan penghargaan. Sebagai simbol perayaan keberagaman, panitia menyelenggarakan malam budaya yang menampilkan Tari Saman dari Aceh, Tari Kecak dari Bali, serta pertunjukan dari masing-masing delegasi asing. Panitia berharap momen ini menandai awal dari aksi kolektif pemuda global untuk masa depan bumi yang lebih lestari.
Comments (0)