140 Mahasiswa dari 13 Negara Ikuti Program Keberlanjutan UMN
Sebanyak 140 mahasiswa dari 13 negara berpartisipasi dalam Sustainability Immersion Program (SIP) 2026 yang digelar Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada 15–25 Juli 2026. Program tahunan ini m...
Sebanyak 140 mahasiswa dari 13 negara berpartisipasi dalam Sustainability Immersion Program (SIP) 2026 yang digelar Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada 15–25 Juli 2026. Program tahunan ini menghadirkan peserta dari kawasan Asia, Eropa, dan Afrika dengan latar belakang disiplin ilmu yang beragam, mulai dari teknik, ekonomi, hingga ilmu komunikasi.
Direktur Program SIP UMN, Dr. Nina Kusuma, menyatakan bahwa edisi tahun ini mendapat respons lebih luas dibanding penyelenggaraan sebelumnya. "Kami menerima lebih dari 400 pendaftar, dan setelah proses seleksi ketat, 140 mahasiswa terpilih mewakili 13 negara," ujarnya dalam pembukaan program di Kampus UMN, Tangerang.
Latar Belakang dan Tujuan Strategis
Program SIP diluncurkan sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak akan pemimpin masa depan yang memiliki kesadaran tinggi terhadap isu keberlanjutan. UMN merancang kurikulum immersif yang memadukan teori dan praktik, dengan fokus pada empat pilar: energi terbarukan, ekonomi sirkular, keanekaragaman hayati, serta tata kelola lingkungan.
Menurut Dr. Nina, pemilihan 13 negara peserta dilakukan secara proporsional untuk mewakili keragaman tantangan keberlanjutan di masing-masing kawasan. "Kami ingin peserta tidak hanya belajar dari materi kelas, tetapi juga dari pengalaman kolega mereka yang berasal dari lingkungan sosial-ekonomi berbeda," jelasnya.
Kegiatan Pembelajaran dan Kunjungan Lapangan
Selama sepuluh hari, para peserta mengikuti rangkaian seminar, lokakarya, dan kunjungan lapangan. Sesi seminar menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi, praktisi industri, dan regulator, termasuk perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta perusahaan energi terbarukan nasional.
Kunjungan lapangan diarahkan ke dua lokasi utama: fasilitas pengolahan limbah berbasis masyarakat di Tangerang Selatan dan pembangkit listrik tenaga surya terapung di Waduk Cirata. Di setiap lokasi, mahasiswa diminta mengidentifikasi praktik terbaik serta merumuskan potensi adaptasi di negara asal mereka.
Salah satu peserta, Aisha binti Kamal dari Universiti Malaya, mengaku terkesan dengan pendekatan partisipatif di Cirata. "Program ini membuka mata saya bahwa transisi energi bukan sekadar teknologi, tetapi juga pemberdayaan komunitas," katanya.
Antusiasme dan Rencana Tindak Lanjut
Rektor UMN, Prof. Dr. Andi Suryanto, menegaskan bahwa SIP akan menjadi agenda tetap universitas dengan perluasan kemitraan global. "Kami sedang menjajaki kerja sama dengan universitas di Amerika Latin untuk edisi 2027," ungkapnya dalam pidato penutupan.
Di penghujung program, setiap peserta diwajibkan menyerahkan proposal proyek keberlanjutan yang akan mereka implementasikan di kampus masing-masing. Proposal terbaik akan memperoleh pendanaan awal hingga Rp50 juta dari UMN dan mitra industri. Para peserta juga membentuk jaringan alumni yang akan memantau kemajuan proyek secara berkala.
Program ini, menurut panitia, berhasil meningkatkan pemahaman peserta sebesar 38% berdasarkan penilaian pre-test dan post-test. Selain itu, 92% peserta menyatakan puas terhadap kualitas materi dan fasilitas yang disediakan. "Kami berharap jejaring yang terbentuk dapat menjadi katalis kolaborasi riset dan inisiatif keberlanjutan lintas negara," tutup Dr. Nina.
Comments (0)