Wuling Pamerkan Mobil Pertama Hasil Transisi dari Pabrik Traktor

Liuzhou, Guangxi — Wuling, pabrikan otomotif yang kini masif memasarkan kendaraan elektrifikasi di Indonesia, ternyata menyimpan sejarah panjang sebagai pr

Jul 08, 2026 - 18:10
0 0
Wuling Pamerkan Mobil Pertama Hasil Transisi dari Pabrik Traktor

Liuzhou, Guangxi — Wuling, pabrikan otomotif yang kini masif memasarkan kendaraan elektrifikasi di Indonesia, ternyata menyimpan sejarah panjang sebagai produsen alat pertanian. Redaksi Apaberita yang berkesempatan mengunjungi Museum Wuling di Liuzhou, Guangxi, China, menyaksikan langsung mobil pertama buatan pabrikan tersebut yang dipajang persis setelah diorama traktor dan mesin jahit. Kendaraan itu menjadi saksi bisu transformasi Wuling dari pabrik traktor menjadi raksasa otomotif.

Museum Wuling menempatkan mobil pertama itu di area transisi, tepat di belakang deretan traktor kecil dan mesin jahit yang diproduksi perusahaan pada era 1960–1970-an. Penempatan tersebut menegaskan bahwa mobil perdana Wuling lahir dari rahim pabrik yang sebelumnya tidak punya pengalaman membuat kendaraan bermotor. “Ini adalah bagian paling penting dari sejarah kami. Tanpa mobil ini, Wuling tidak akan seperti sekarang,” ujar seorang pemandu museum kepada Apaberita.

Dari Traktor dan Mesin Jahit ke Minitruck

Sebelum memproduksi mobil, Wuling—yang saat itu masih bernama Liuzhou Wuling Motor Co., Ltd.—adalah pabrik alat pertanian yang membuat traktor tangan dan mesin jahit merek “Dongfeng”. Pada awal 1980-an, perusahaan melihat peluang di sektor kendaraan niaga ringan. Tahun 1982, Wuling meluncurkan mobil pertamanya, sebuah minitruck LZ 110 yang mengadopsi lisensi dari Mitsubishi Minicab. Kendaraan ini kemudian menjadi tulang punggung transportasi barang skala kecil di berbagai kota di China.

Minitruck LZ 110 diproduksi secara sederhana dengan kapasitas mesin 550 cc, mampu mengangkut muatan hingga setengah ton. Meski berstatus “mobil pertama”, LZ 110 langsung mendapat sambutan hangat karena dibutuhkan oleh pedagang dan pengusaha kecil. Keberhasilan model itu mendorong Wuling terus mengembangkan lini kendaraan niaga, yang kemudian menjadi fondasi bisnis perusahaan.

Menurut catatan museum, Wuling memproduksi lebih dari 50.000 unit LZ 110 sepanjang masa produksinya. Angka itu terbilang tinggi untuk sebuah pabrik yang baru beralih dari membuat traktor. Keberhasilan komersial minitruck tersebut meyakinkan manajemen Wuling untuk sepenuhnya fokus pada industri otomotif dan meninggalkan produksi alat pertanian pada akhir 1980-an.

Jejak Sejarah di Museum Wuling

Museum Wuling yang terletak di kompleks pabrik pusat di Liuzhou menyimpan seluruh evolusi produk perusahaan. Pengunjung disambut oleh diorama traktor tangan, mesin jahit, dan komponen mekanis yang menjadi akar bisnis Wuling. Baru setelah itu, LZ 110 dipajang sebagai kendaraan pertama yang menjembatani masa lalu dan masa depan perusahaan.

“Wuling tidak lahir sebagai pabrik mobil. Kami memulai dari nol, dari mesin jahit dan traktor. Mobil pertama ini adalah simbol keberanian kami untuk berubah,” kata kurator museum yang menemani kunjungan Apaberita.

Setelah LZ 110, museum menampilkan serangkaian model lain yang menjadi best-seller di China, mulai dari Wuling Dragon, Wuling Sun, hingga Wuling Hongguang yang fenomenal. Semua model itu dibangun di atas fondasi pengalaman dan rantai pasok yang dirintis sejak era minitruck perdana. Kini, Wuling telah bertransformasi menjadi pemain global dengan kehadiran di lebih dari 40 negara, termasuk Indonesia melalui pabrik di Cikarang, Jawa Barat.

Di Indonesia, Wuling justru dikenal sebagai pelopor mobil listrik dengan harga terjangkau. Model seperti Air ev, Binguo EV, dan Cloud EV menjadi bukti betapa jauh lompatan teknologi perusahaan ini. Namun, jika ditarik ke belakang, semuanya berawal dari minitruck LZ 110 sederhana yang lahir dari pabrik traktor di Liuzhou.

Kisah Transisi yang Menginspirasi

Kunjungan Apaberita ke museum itu juga mengungkap fakta bahwa transformasi Wuling tidak terjadi secara instan. Proses transisi dari traktor ke mobil memakan waktu hampir tiga tahun riset dan pengembangan, dimulai pada 1979. Tim insinyur Wuling saat itu harus belajar dari pabrikan Jepang sambil menyesuaikan desain dengan kondisi jalan di China. Hasilnya adalah LZ 110, kendaraan serbaguna yang tahan banting dan mudah diperbaiki.

Kini, sisa-sisa era traktor hanya tersimpan di museum sebagai pengingat. Wuling telah menjelma menjadi perusahaan otomotif modern dengan kapasitas produksi lebih dari 1,5 juta kendaraan per tahun secara global. Namun, bagi para eksekutif Wuling, mobil pertama itu tetap menjadi artefak paling berharga—simbol bahwa perubahan bisnis yang berani bisa membawa hasil luar biasa.

Ke depan, Wuling berkomitmen terus mengembangkan kendaraan elektrifikasi, termasuk di Indonesia. Namun, sejarah panjang dari traktor ke mobil listrik akan selalu menjadi bagian dari identitas perusahaan, yang kini bisa disaksikan langsung oleh siapa pun yang berkunjung ke Museum Wuling di Liuzhou.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User