Warga Grogol Selatan Dilatih Membuat Komposter Sampah Organik

Jakarta, 15 Juli 2024 – Pemerintah Kelurahan Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, menggelar pelatihan pembuatan komposter bagi warganya pada Sabtu (15/7). Kegiatan yang berlang...

Warga Grogol Selatan Dilatih Membuat Komposter Sampah Organik

Jakarta, 15 Juli 2024 – Pemerintah Kelurahan Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, menggelar pelatihan pembuatan komposter bagi warganya pada Sabtu (15/7). Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Kelurahan Grogol Selatan ini diikuti oleh 50 warga perwakilan dari seluruh rukun warga (RW) di wilayah tersebut. Pelatihan bertujuan menekan volume sampah organik yang selama ini mendominasi timbulan sampah harian dan mendorong kemandirian warga dalam memproduksi pupuk kompos.

Penanganan Sampah dari Sumbernya

Lurah Grogol Selatan, Drs. H. Ahmad Fauzi, M.Si., menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan langkah konkret menyikapi persoalan sampah yang semakin mendesak. Berdasarkan data Kelurahan, produksi sampah harian di Grogol Selatan mencapai 14 ton, dengan komposisi sampah organik sekitar 60 persen. “Selama ini sampah organik hanya berakhir di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tanpa pengolahan. Padahal, jika diolah sejak dari rumah tangga menggunakan komposter, kita bisa mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPS hingga 30 persen,” ujar Ahmad Fauzi di sela-sela acara.

Pelatihan ini merupakan bagian dari program nasional pengurangan sampah dari sumbernya, yang diperkuat oleh Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 4 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah. Dalam kesempatan tersebut, pihak kelurahan menggandeng tim teknis dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Mereka memaparkan materi tentang jenis-jenis sampah organik yang dapat diolah, prinsip pengomposan aerob, serta tahapan pembuatan komposter sederhana dari drum plastik.

Teknik Pembuatan Komposter Drum

Instruktur pelatihan, Ir. Budi Santoso, menjelaskan bahwa komposter yang diajarkan tergolong sederhana dan dapat dirakit warga dengan biaya terjangkau. Bahan utama yang digunakan adalah drum plastik bekas berkapasitas 200 liter, pipa PVC untuk aerasi, keran kecil untuk mengeluarkan lindi, serta biostarter atau aktivator pengurai. “Warga kita ajari memotong drum, memasang pipa udara secara vertikal di tengah drum, dan membuat lubang pada tutup drum. Lalu kita susun lapisan kompos dasar, masukkan sampah organik, taburi biostarter, dan tutup rapat. Dalam waktu tiga hingga empat minggu, kompos sudah bisa dipanen,” papar Budi Santoso.

Antusiasme peserta terlihat saat sesi praktik. Setiap peserta diberi satu unit drum dan peralatan pendukung. Mereka langsung mencoba merakit komposter di bawah bimbingan instruktur. Siti Maryam (45), warga RW 05, mengaku teknik ini mudah diikuti. “Saya kira sulit, ternyata cuma butuh drum dan pipa. Saya akan segera membuat di rumah supaya sampah dapur bisa jadi pupuk,” tuturnya. Selain sampah dapur, warga diimbau untuk mengumpulkan dedaunan kering dari lingkungan sekitar sebagai campuran agar proses dekomposisi lebih optimal.

Dorongan Ekonomi Sirkular

Pelatihan ini tidak hanya berorientasi pada kebersihan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga. Lurah Ahmad Fauzi menyampaikan bahwa kompos yang dihasilkan memiliki nilai jual. Saat ini, harga pupuk kompos di pasaran berkisar Rp5.000 per kilogram. “Jika setiap rumah tangga bisa memproduksi 50 kilogram kompos per bulan, tambahan pendapatan yang bisa diperoleh mencapai Rp250.000 per bulan. Kami akan fasilitasi pembentukan kelompok usaha bersama untuk pemasaran,” ujarnya.

Untuk mempercepat adopsi, Pemerintah Kelurahan Grogol Selatan telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp75 juta dari Dana Alokasi Umum (DAU) kelurahan. Dana ini digunakan untuk pengadaan 500 unit drum komposter dan biostarter yang akan didistribusikan secara bertahap kepada warga yang berminat. Targetnya, dalam enam bulan ke depan seluruh RW di Grogol Selatan memiliki unit percontohan komposter yang aktif beroperasi.

Target dan Evaluasi

Camat Kebayoran Lama, H. Muhammad Idris, S.Sos., M.Si., yang turut hadir membuka acara, memberikan apresiasi terhadap inisiatif Kelurahan Grogol Selatan. Ia berharap program ini dapat direplikasi di kelurahan lain. “Pengelolaan sampah organik dengan komposter adalah solusi murah dan mudah ditiru. Jika semua kelurahan menerapkan, pengurangan sampah dari sumbernya akan signifikan. Kami akan evaluasi dampaknya dalam tiga bulan ke depan,” ungkapnya.

Evaluasi akan dilakukan melalui pemantauan jumlah sampah organik yang berhasil dialihkan dari TPS. Selain itu, keberhasilan program juga diukur dari jumlah warga yang memproduksi kompos secara mandiri. Dengan kolaborasi antara pemerintah, instruktur, dan masyarakat, Grogol Selatan diharapkan menjadi contoh wilayah urban yang berhasil mengintegrasikan pengelolaan sampah mandiri ke dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus memperkuat ketahanan pangan melalui pemanfaatan pupuk organik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User