Waka MPR Dorong Edukasi Mitigasi Bencana Lewat Tri Pusat Pendidikan

Jakarta — Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Lestari Moerdijat menyerukan penguatan kesadaran publik terhadap mitigasi bencana melalui jalur pendidikan yang terintegrasi. Ia menegaskan...

Jul 16, 2026 - 09:26
0 0
Waka MPR Dorong Edukasi Mitigasi Bencana Lewat Tri Pusat Pendidikan

Jakarta — Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Lestari Moerdijat menyerukan penguatan kesadaran publik terhadap mitigasi bencana melalui jalur pendidikan yang terintegrasi. Ia menegaskan, ajaran Tri Pusat Pendidikan yang digagas Ki Hajar Dewantara harus menjadi kerangka utama dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami.

Dalam sebuah diskusi kebangsaan yang digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, politikus yang akrab disapa Rerie itu menyatakan bahwa budaya siaga bencana tidak bisa ditanamkan hanya melalui satu institusi. "Keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat harus bergerak bersama. Ini adalah amanat luhur Ki Hajar Dewantara yang sangat relevan dengan kondisi geografis kita," ujarnya, mengutip konsep tiga pusat pendidikan yang menempatkan rumah, ruang kelas, dan komunitas sebagai laboratorium pembelajaran.

Mengakar di Tiga Pilar

Pendekatan Tri Pusat Pendidikan, menurut Rerie, menawarkan solusi sistemik yang kerap terabaikan dalam penyusunan kebijakan penanggulangan bencana. Di lingkup keluarga, orang tua didorong untuk membiasakan anak mengenal jalur evakuasi dan titik kumpul sejak dini. Sekolah diberi peran menyusun kurikulum kebencanaan berbasis praktik, bukan sekadar teori di buku paket. Sementara masyarakat di tingkat rukun tetangga dan desa perlu diperkuat melalui pelatihan rutin serta simulasi yang melibatkan seluruh warga.

"Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah pusat atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Kalau setiap rumah sudah paham apa yang harus dilakukan saat sirine berbunyi, maka risiko jatuhnya korban jiwa bisa ditekan drastis," tegasnya. Ia mencontohkan keberhasilan Jepang yang menanamkan kesadaran seismik sejak taman kanak-kanak, sebuah model yang bisa diadaptasi tanpa harus menyalin sepenuhnya karena Indonesia memiliki kearifan lokal tersendiri.

Data yang Mencemaskan

Dorongan ini muncul di tengah data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mencatat lebih dari 4.000 kali gempa bumi mengguncang wilayah Indonesia sepanjang tahun 2025, dengan belasan di antaranya berkekuatan di atas magnitudo 5,0. Zona subduksi di selatan Jawa serta megathrust Selat Sunda terus menjadi perhatian para ahli karena berpotensi memicu tsunami besar yang bisa mencapai pesisir dalam hitungan menit.

Rerie menekankan bahwa literasi kebencanaan bukan sekadar pengetahuan, melainkan keterampilan bertahan hidup yang harus dimiliki setiap warga negara. "Kalau kita lihat hasil survei, masih banyak masyarakat pesisir yang tidak tahu arah evakuasi vertikal atau tidak mengenali tanda-tanda alam sebelum tsunami. Ini yang harus kita kejar," katanya. Survei yang dirujuk adalah kajian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2024 yang menunjukkan bahwa hanya 43 persen penduduk di lima provinsi rawan yang memiliki pemahaman memadai tentang prosedur evakuasi.

Kolaborasi Lintas Sektor

Legislator dari Partai NasDem ini juga mengingatkan bahwa implementasi Tri Pusat Pendidikan dalam mitigasi bencana memerlukan sinergi antara kementerian. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah didorong untuk merevisi modul ajar agar memuat simulasi kebencanaan sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib. Kementerian Dalam Negeri diminta menerbitkan surat edaran kepada pemerintah daerah agar mengalokasikan anggaran untuk pelatihan tanggap darurat di tingkat desa dan kelurahan.

"Parlemen akan mengawal agar program ini tidak berhenti sebagai wacana. Rapat koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan kementerian terkait sudah mulai kami agendakan pada masa sidang mendatang," ungkapnya. Ia menambahkan, peran media massa dan platform digital juga krusial untuk menyebarluaskan konten edukatif yang mudah dipahami oleh semua kalangan usia.

Penutup pidatonya, Rerie menegaskan kembali bahwa mitigasi bencana adalah investasi jangka panjang yang menentukan kelangsungan generasi mendatang. "Bukan saatnya lagi kita panik saat terjadi gempa. Saatnya kita tenang karena sudah tahu apa yang harus dilakukan. Pendidikan adalah kuncinya, dan pendidikan itu harus dimulai dari rumah, dikuatkan di sekolah, dan dibiasakan di tengah masyarakat," pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User