Trauma Gempa Susulan, Warga Manggarai Timur Bertahan di Tenda Darurat
Ribuan warga Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan menempati tenda-tenda darurat hingga Minggu (23/8/2026). Mereka enggan segera kembali ke rumah masing-masing karena trauma p...
Ribuan warga Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan menempati tenda-tenda darurat hingga Minggu (23/8/2026). Mereka enggan segera kembali ke rumah masing-masing karena trauma pasca gempa bumi serta kekhawatiran terhadap rangkaian gempa susulan yang terus berlangsung. Berdasarkan pencatatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa susulan telah terjadi sebanyak 5.688 kali sejak bencana utama melanda wilayah tersebut.
Salah satu titik pengungsian yang menampung warga adalah posko SMK Muhammadiyah Manggarai Timur di Pota, Kecamatan Sambi Rampas. Di lokasi itu, para pengungsi menjalani aktivitas harian seperti beristirahat, merapikan barang bawaan, serta saling membantu menjaga ketertiban di dalam area tenda.
Hari Kesembilan Tanggap Darurat, Pengungsi Tembus 161 Ribu Jiwa
Memasuki hari kesembilan masa penanganan darurat, BNPB mencatat total warga terdampak yang mengungsi telah mencapai 161.084 jiwa. Rekapitulasi tersebut merupakan hasil pendataan lapangan yang dilakukan petugas di berbagai titik pengungsian yang tersebar di kawasan terdampak.
Jumlah pengungsi yang tercatat selama sembilan hari tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk di zona rawan masih memilih menetap di tempat yang dinilai lebih aman. Petugas melakukan pendataan ulang secara berkala agar kebutuhan dasar setiap pengungsi dapat disalurkan secara proporsional dan tepat sasaran.
Berbagai kebutuhan pokok, mulai dari logistik pangan, air bersih, hingga layanan kesehatan, menjadi fokus utama penyaluran bantuan di lokasi-lokasi pengungsian. Pendistribusian dilakukan secara bergiliran supaya seluruh kepala keluarga memperoleh jatah yang setara tanpa ada warga yang terlewat.
Gempa Susulan 5.688 Kali Buat Warga Enggan Pulang
Keengganan warga untuk meninggalkan lokasi pengungsian tidak lepas dari frekuensi gempa susulan yang tinggi. Hingga Minggu (23/8/2026), gempa susulan telah tercatat 5.688 kali. Kondisi itu menumbuhkan kecemasan di kalangan masyarakat bahwa hunian mereka belum sepenuhnya aman untuk ditempati kembali.
Dampak bencana tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga psikologis. Trauma akibat gempa membuat sebagian pengungsi, termasuk anak-anak dan lansia, mengalami kepanikan setiap kali terjadi getaran susulan. Oleh karena itu, pendampingan psikososial menjadi salah satu layanan penting yang perlu terus dihadirkan di posko-posko pengungsian.
Masyarakat menyatakan lebih memilih menunda kepulangan sampai situasi benar-benar dinyatakan kondusif. Sikap tersebut dipahami sebagai bentuk kehati-hatian kolektif, mengingat intensitas getaran yang masih terjadi dalam hitungan hari ini belum menunjukkan kecenderungan menurun secara signifikan.
Suasana Posko SMK Muhammadiyah Pota Relatif Tertib
Di posko SMK Muhammadiyah Manggarai Timur, Pota, Sambi Rampas, suasana pengungsian berjalan relatif tertib. Sejumlah pengungsi terlihat beraktivitas di area tenda, mulai dari berbincang sesama warga, mengurus kebutuhan keluarga, hingga turut membantu petugas memelihara kebersihan lingkungan posko.
Kehadiran posko tersebut memberikan ruang bagi warga untuk tetap menjalankan fungsi sosial meskipun harus berjauhan dengan rumah. Interaksi antarpengungsi serta keterlibatan mereka dalam pengelolaan lokasi pengungsian turut membantu menjaga kondisi kejiwaan agar tetap stabil selama masa tanggap darurat.
Anak-anak pengungsi juga tetap memperoleh ruang bermain di dalam kompleks posko. Kehadiran orang tua maupun kerabat di sekitar mereka diyakini mampu meredam rasa cemas yang timbul akibat pengalaman menghadapi bencana secara langsung.
Penanganan Darurat Terus Ditindaklanjuti
Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus menindaklanjuti kondisi lapangan melalui penyaluran bantuan bagi para pengungsi. Layanan yang difokuskan mencakup pemenuhan logistik, air bersih, kesehatan, serta kesiapan tempat peristirahatan yang layak bagi seluruh warga terdampak.
Langkah-langkah tersebut ditetapkan dalam upaya memastikan seluruh pengungsi memperoleh perlindungan selama status tanggap darurat masih diberlakukan. Pemantauan terhadap perkembangan gempa susulan juga terus dilakukan agar informasi yang sampai kepada masyarakat tetap akurat dan dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan.
Dengan catatan 161.084 jiwa pengungsi dan 5.688 kali gempa susulan, situasi di Manggarai Timur masih memerlukan perhatian penuh dari seluruh pihak. Proses pemulihan pasca bencana diperkirakan membutuhkan waktu, sehingga koordinasi antara petugas, pemerintah daerah, dan warga terdampak menjadi kunci kelancaran penanganan di hari-hari berikutnya.
Comments (0)