Tiran Nusantara dan Conch Teken Investasi Rp 10 Triliun

PT Tiran Nusantara Grup resmi menandatangani perjanjian kerja sama investasi tahap awal dengan Conch Investment Holdings (Hong Kong) Ltd., perusahaan yang berada di bawah Pemerintah Republik Rakyat Ti...

Oct 11, 2026 - 17:06
0 0
Tiran Nusantara dan Conch Teken Investasi Rp 10 Triliun

PT Tiran Nusantara Grup resmi menandatangani perjanjian kerja sama investasi tahap awal dengan Conch Investment Holdings (Hong Kong) Ltd., perusahaan yang berada di bawah Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok, senilai Rp 10 triliun pada Jumat, 9 Oktober 2026 di Anhui, Tiongkok. Penandatanganan tersebut mencakup sektor industri manufaktur dan energi hijau, sekaligus menegaskan komitmen kedua belah pihak untuk memperkuat hilirisasi industri di Indonesia.

Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Operasional Tiran Nusantara Grup Andi Karyadi dan Direktur Conch Li Xin. Prosesi tersebut disaksikan langsung oleh Presiden Komisaris Tiran Nusantara Grup Andi Amar Mar'uf Sulaiman. Berdasarkan dokumen kerja sama yang disepakati, ruang lingkup investasi meliputi pembangunan pabrik bahan anoda baterai litium, pabrik kemasan plastik, pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), serta pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).

Conch Bukan Pemain Baru di Indonesia

Conch merupakan salah satu korporasi terbesar di Tiongkok yang telah mendiversifikasi usaha ke sektor energi baru, pengolahan limbah, serta material industri dan konstruksi berteknologi tinggi. Perusahaan tersebut bukan pendatang baru di pasar Indonesia. Nilai investasi Conch yang telah berjalan di Tanah Air disebut telah mencapai Rp 30 triliun, sehingga kerja sama dengan Tiran Nusantara Grup dipandang sebagai kelanjutan komitmen jangka panjang perusahaan Tiongkok itu terhadap perekonomian nasional.

"Kerja sama ini menegaskan kepercayaan mitra internasional terhadap iklim investasi Indonesia dan kapasitas industri nasional. Kami berkomitmen membangun industri hilir yang mampu menyerap tenaga kerja 5.000 orang dan memperkuat kemandirian ekonomi," ujar Rezki Mulyadi, Humas PT Tiran Nusantara Grup, dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.

"Kerja sama ini menegaskan kepercayaan mitra internasional terhadap iklim investasi Indonesia dan kapasitas industri nasional," ujar Rezki Mulyadi.

Menurut Rezki, nilai kerja sama tersebut direncanakan berkembang secara bertahap pada tahap-tahap berikutnya. Pihaknya menyatakan bahwa skema pengembangan akan disesuaikan dengan kesiapan lahan, perizinan, serta kebutuhan pasar terhadap produk hilir yang dihasilkan.

Struktur Kepemilikan Disesuaikan per Proyek

Dalam kemitraan bersama Conch, struktur kepemilikan saham disusun berdasarkan karakter masing-masing proyek. Pada sebagian usaha patungan, Tiran Nusantara Grup memegang porsi kepemilikan 49 persen dan Conch 51 persen. Pada usaha patungan lainnya, komposisi tersebut dibalik, yakni Tiran Nusantara Grup 51 persen dan Conch 49 persen.

Pola kepemilikan yang berbeda pada tiap proyek disebut mencerminkan pembagian peran sesuai kompetensi masing-masing pihak, baik pada aspek teknologi, pembiayaan, maupun pengelolaan operasional. Tiran Nusantara Grup berperan pada sisi penyediaan lahan, kemitraan lokal, dan pengelolaan tenaga kerja, sementara Conch menyediakan dukungan teknologi serta jaringan pemasaran internasional.

Berawal dari Inovasi Pengendalian Hama

Tiran Nusantara Grup merupakan kelompok usaha yang didirikan oleh Menteri Pertanian Amran. Perjalanan perusahaan bermula dari riset Amran mengenai serangan hama tikus yang kemudian melahirkan inovasi pengendalian tikus bernama Tiran, singkatan dari "Tikus Diracun Amran". Pada 1995, Amran mengurus hak paten atas inovasinya, antara lain Tiran 58PS dan Alpostran.

Hingga kini, Amran tercatat memiliki tujuh hak paten di bidang inovasi pertanian, khususnya pengendalian hama. Produk tersebut telah digunakan jutaan petani di Indonesia dan dipasarkan ke Jepang, Malaysia, Vietnam, Thailand, serta sejumlah negara lain. Pada 2004, usaha tersebut berkembang menjadi embrio Tiran Nusantara Grup.

Dengan nilai investasi tahap awal Rp 10 triliun, kerja sama ini ditetapkan sebagai salah satu komitmen penanaman modal terbesar di sektor energi hijau dan manufaktur dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah diharapkan menindaklanjuti melalui percepatan perizinan dan kepastian regulasi agar realisasi investasi dapat berjalan sesuai target.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User