Teheran — Media Iran Rilis Daftar Target Balas Dendam Pasca Wafat Ali Khamenei
Teheran, Apaberita.com — Harian berpengaruh asal Iran, Hamshahri, mengejutkan dunia dengan memublikasikan daftar sejumlah tokoh internasional yang disebut-
Teheran, Apaberita.com — Harian berpengaruh asal Iran, Hamshahri, mengejutkan dunia dengan memublikasikan daftar sejumlah tokoh internasional yang disebut-sebut sebagai target balas dendam atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (11/7). Langkah provokatif ini langsung memicu gelombang kecaman dan meningkatkan suhu geopolitik di kawasan Timur Tengah serta global.
Ali Khamenei yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dekade mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif akibat komplikasi penyakit yang dirahasiakan. Meskipun belum ada pengumuman resmi penyebab kematian, faksi garis keras di Iran sejak awal menuduh adanya konspirasi asing. Publikasi daftar ini menjadi eskalasi retorika balas dendam yang selama ini hanya muncul dalam pidato-pidato tertutup.
“Darah syahid agung kita tidak akan kering sebelum dijawab dengan pedang keadilan. Nama-nama ini adalah pengingat bagi mereka yang bersekongkol melawan Republik Islam,” tulis Hamshahri dalam tajuk utamanya.
Daftar Menyasar Figur Politik dan Militer Global
Daftar yang dipublikasikan itu memuat tujuh nama, termasuk pemimpin negara, mantan pejabat tinggi, dan komandan militer. Berikut rincian target yang disebut-sebut dalam laporan tersebut:
- Benjamin Netanyahu – Perdana Menteri Israel yang dianggap sebagai otak utama operasi sabotase program nuklir Iran.
- Donald Trump – Mantan Presiden AS yang memerintahkan serangan drone menewaskan Jenderal Qasem Soleimani.
- Mohammed bin Salman – Putra Mahkota Arab Saudi yang dituduh mendanai gerakan oposisi Sunni di Iran.
- Mike Pompeo – Eks Menteri Luar Negeri AS yang mengarsiteki kampanye “tekanan maksimum” terhadap Teheran.
- Yossi Cohen – Mantan Kepala Mossad yang kerap membanggakan operasi intelijen di dalam negeri Iran.
- John Bolton – Penasihat keamanan nasional era Trump yang blak-blakan menyerukan perubahan rezim.
- Aviv Kochavi – Kepala Staf Militer Israel yang memimpin sejumlah serangan udara ke posisi Iran di Suriah.
Publikasi ini disertai foto setiap tokoh dengan latar warna merah serta kaligrafi Arab bernada ancaman. Media tersebut juga menyematkan simbol-simbol perlawanan seperti pedang Zulfikar dan panah merah yang mengarah ke jantung setiap figur.
Reaksi Global: Kecaman dan Kesiagaan Penuh
Gedung Putih melalui juru bicara Dewan Keamanan Nasional mengecam keras langkah tersebut. “Ini bukan sekadar propaganda—ini adalah hasutan terbuka untuk melakukan pembunuhan terhadap mantan dan pejabat tinggi AS. Kami menganggap ini sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional kami,” ujarnya dalam taklimat darurat.
Israel langsung menaikkan status siaga di seluruh kedutaan besarnya. Kantor Perdana Menteri Netanyahu merilis pernyataan singkat namun tegas: “Negara Yahudi tidak akan tinggal diam. Kami akan bertindak sebelum ancaman menjadi kenyataan.”
“Publikasi daftar seperti ini melanggar semua norma diplomasi internasional. Ini adalah langkah sembrono yang bisa memicu konflik langsung,” kata Javad Zarif, mantan Menlu Iran yang dikenal moderat, melalui akun media sosial pribadinya. Ia mendesak pemerintah transisi untuk segera menarik kembali publikasi tersebut.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengeluarkan pernyataan mengecam “tindakan tak bertanggung jawab” yang dapat merusak stabilitas regional. Beberapa analis menyebut langkah ini sebagai strategi internal—upaya faksi garis keras mengalihkan perhatian publik dari krisis ekonomi dan perebutan kekuasaan pasca-Khamenei.
Konteks: Perebutan Panggung Pasca-Khamenei
Wafatnya Ali Khamenei membuka babak baru yang penuh ketidakpastian di Iran. Majelis Ahli sedang memproses suksesi, dengan putra Khamenei—Mojtaba—dan Presiden Ebrahim Raisi sebagai kandidat kuat. Namun faksi Garda Revolusi (IRGC) dan milisi Quds dikabarkan mendorong Mohammed Mokhber, sosok garis keras yang dekat dengan IRGC, untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan.
Publikasi daftar ini, menurut pengamat politik Universitas Teheran, Dr. Hossein Alizadeh, merupakan manuver IRGC untuk memperkuat posisi tawar. “Mereka ingin menunjukkan bahwa Iran pasca-Khamenei tidak akan melunak—justru akan lebih agresif. Ini pesan kepada dunia, tapi juga kepada para pesaing di dalam negeri: bahwa merekalah pemegang kendali sejati,” jelasnya.
Sementara itu, Pentagon mengonfirmasi peningkatan pengawasan di seluruh instalasi militer dan kedutaan besar di Timur Tengah. Komando Pusat AS (CENTCOM) dilaporkan telah mengaktifkan protokol perlindungan tingkat tinggi untuk personel yang namanya tercantum dalam daftar.
Ancaman Nyata atau Gimmick Politik?
Sejarah mencatat, Iran pernah melancarkan operasi balas dendam transnasional. Pembunuhan terhadap penulis Salman Rushdie dan serangan terhadap diplomat Israel di berbagai negara adalah bukti bahwa ancaman semacam ini tidak bisa dianggap enteng. Namun banyak pihak menilai publikasi terbuka ini justru kontraproduktif karena membongkar target yang biasanya dirahasiakan.
“Biasanya operasi intelijen Iran bekerja dalam diam. Memublikasikan nama justru membuat target meningkatkan kewaspadaan dan memperkecil peluang keberhasilan. Ini mungkin lebih bernilai propaganda ketimbang rencana operasional,” kata analis intelijen dari International Crisis Group, Sarah Helm.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sesi darurat tertutup untuk membahas perkembangan ini. Sementara itu, Interpol telah dihubungi oleh delegasi Amerika Serikat dan Israel untuk mendiskusikan langkah hukum internasional terkait hasutan kekerasan lintas negara.
Publikasi ini memanaskan hubungan yang sudah rapuh antara Iran dan blok Barat, di tengah upaya diplomatik yang sedang dirintis oleh pemerintahan AS pasca-pemilu untuk menghidupkan kembali negosiasi nuklir. Kini inisiatif tersebut berada di ujung tanduk.
Posisi Resmi Pemerintah Transisi Iran
Menariknya, pemerintah transisi yang dibentuk pasca-wafatnya Khamenei mengambil sikap ambigu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Saeed Khatibzadeh menyatakan bahwa artikel Hamshahri “tidak mewakili kebijakan resmi pemerintah” namun menolak untuk mengutuk atau meminta media tersebut menarik kembali publikasinya.
Di dalam negeri, sentimen anti-Barat melonjak tajam selama masa berkabung nasional. Puluhan ribu pelayat yang memadati jalan-jalan Teheran membawa spanduk bertuliskan “Kami adalah Pedang Pembalas” dan membakar bendera Amerika Serikat dan Israel. Suasana duka berubah menjadi mobilisasi massa yang siap dikerahkan untuk agenda tertentu.
Observatorium jurnalisme global, Reporters Without Borders, justru menyoroti dilema etis yang dihadapi Hamshahri. Media yang didanai pemerintah kota Teheran ini dinilai melanggar kode etik jurnalistik dengan menjadi corong hasutan kekerasan. “Ini mencoreng wajah jurnalisme Iran yang sebenarnya memiliki tradisi profesional panjang,” demikian pernyataan resmi lembaga tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan langsung dari keenam tokoh yang masuk dalam daftar, kecuali Mike Pompeo yang melalui juru bicaranya menyatakan telah meningkatkan pengamanan pribadi dan menuntut perlindungan penuh dari pemerintah AS.
Masyarakat internasional kini menanti langkah konkret pemerintah transisi Iran. Akankah mereka mengekang manuver media yang bisa memicu konflik terbuka, atau justru memanfaatkannya sebagai kartu negosiasi di panggung global? Satu hal yang pasti: kematian Ali Khamenei bukanlah akhir dari ketegangan, melainkan awal dari babak yang lebih panas dan penuh perhitungan.
[SOCIAL_FB]: ⚠️ DUNIA GEMPAR! Media terkemuka Iran, Hamshahri, secara terbuka memublikasikan daftar "target balas dendam" atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Siapa saja yang masuk daftar mematikan ini? Mulai dari Benjamin Netanyahu, Donald Trump, hingga Putra Mahkota Arab Saudi. Apa ini sekadar propaganda atau ancaman nyata? Reaksi global langsung memanas. Simak analisis lengkapnya di Apaberita.com! [SOCIAL_THREADS]: 🧵 Thread: Situasi memanas pasca wafatnya Ali Khamenei. Media Iran justru mempublikasikan daftar target balas dendam yang melibatkan pemimpin dunia. Ini bukan film thriller—ini kenyataan. (1/5) Saya akan bedah siapa targetnya, mengapa mereka diincar, dan bagaimana respons global yang bisa mengubah stabilitas Timur Tengah. Stay tuned. 🕊️🗡️
Comments (0)