Taj Yasin Maimoen Puncaki Survei Popularitas Calon Gubernur Jateng

JAKARTA — Lembaga survei Parameter Politik Indonesia merilis hasil elektabilitas terbaru untuk bursa bakal calon Gubernur Jawa Tengah pada Pilkada 2024. Temuan utama menempatkan mantan Wakil Gubernu...

Taj Yasin Maimoen Puncaki Survei Popularitas Calon Gubernur Jateng

JAKARTA — Lembaga survei Parameter Politik Indonesia merilis hasil elektabilitas terbaru untuk bursa bakal calon Gubernur Jawa Tengah pada Pilkada 2024. Temuan utama menempatkan mantan Wakil Gubernur periode 2018—2023, Taj Yasin Maimoen, sebagai figur paling populer di antara sejumlah nama yang beredar di masyarakat. Angka pengenalan publik terhadap Taj Yasin tercatat mencapai 85,7 persen, sekaligus mendongkrak tingkat elektabilitasnya ke posisi tertinggi dengan selisih cukup signifikan atas para pesaing.

Popularitas Sosok Pesantren dan Birokrat

Parameter Politik Indonesia melakukan survei pada rentang 5—14 Juni 2024 dengan melibatkan 1.220 responden yang tersebar di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Sampel diambil melalui metode multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Dr. Adi Syamsudin, menyampaikan bahwa popularitas Taj Yasin tidak dapat dilepaskan dari latar belakang keagamaannya sebagai putra ulama kharismatik sekaligus rekam jejak selama lima tahun mendampingi Gubernur Ganjar Pranowo.

"Taj Yasin mendapat keuntungan ganda. Secara kultural, basis massa pesantren di pesisir utara hingga selatan Jateng cukup kuat mengingat beliau adalah putra KH. Maimoen Zubair. Di sisi lain, birokrasi dan pemilih rasional melihat pengalaman wagub sebagai modal teknis yang meyakinkan,"
ujar Adi Syamsudin dalam pemaparan hasil survei secara virtual, Kamis (20/6/2024).

Peta Kompetisi dan Nama Penantang

Selain Taj Yasin, survei itu memotret sejumlah tokoh lain yang mulai intensif membangun citra menjelang kontestasi November mendatang. Secara berturut, di posisi kedua terdapat mantan Kepala LKPP yang juga politikus Gerindra, Sudaryono, dengan tingkat popularitas 62,3 persen. Hendrar Prihadi, mantan Wali Kota Semarang yang kini menjabat Kepala LKPP, berada di urutan ketiga dengan 58,4 persen. Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto dan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, meskipun santer disebut, masih memiliki tingkat pengenalan di bawah 50 persen.

Parameter Politik Indonesia juga mengukur tingkat kesukaan dan akseptabilitas publik. Dalam simulasi tertutup berpasangan, duet Taj Yasin—Sudaryono memperoleh preferensi tertinggi sebesar 37,5 persen. Adapun simulasi lainnya seperti Taj Yasin—Hendrar dan Taj Yasin—Bambang Wuryanto masing-masing mengantongi 34,1 persen dan 32,9 persen. Responden yang belum menentukan pilihan masih berkisar 18 hingga 25 persen, menunjukkan bahwa peta koalisi yang cair membuka ruang pergerakan elektoral cukup lebar.

Dinamika Koalisi dan Implikasi Elektoral

Hasil survei ini memantik perbincangan di kalangan partai politik. Fraksi-fraksi di DPRD Jawa Tengah sudah mulai merapatkan barisan, meskipun belum ada keputusan final ihwal pasangan calon yang akan diusung. PKB sebagai partai yang menaungi Taj Yasin disebut-sebut tengah menjajaki komunikasi intens dengan Gerindra. Apabila koalisi tersebut terbentuk, poros ini berpotensi mengunci lebih dari 40 persen suara parlemen.

Pengamat politik Universitas Diponegoro, Dr. Teguh Yuwono, menilai dominasi Taj Yasin dalam survei Parameter Politik Indonesia tidak serta-merta menjamin kemenangan.

"Popularitas tinggi adalah modal awal. Namun Pilkada Jateng selalu menyisakan variabel lain, seperti mesin partai di akar rumput, figur penantang yang mendadak melejit, hingga isu kedaerahan yang kadang tak terdeteksi survei nasional,"
kata Teguh saat dihubungi secara terpisah.

Dari sisi geopolitik pemilih, Jawa Tengah secara tradisional merupakan basis PDIP. Meski begitu, dua pilkada terakhir mencatatkan tren penurunan dominasi partai berlambang banteng itu di sejumlah kantong suara, khususnya eks-Keresidenan Pati, Surakarta, dan sebagian Banyumas. Kemunculan figur berlatar pesantren seperti Taj Yasin diyakini bisa mengubah peta loyalitas pemilih yang selama ini terbelah antara santri-nasionalis.

Parameter Politik Indonesia merekomendasikan agar setiap kandidat lebih agresif mengelola basis pemilih muda. Sebanyak 52 persen responden berusia 17—35 tahun menyatakan akan menentukan pilihan berdasarkan rekam jejak digital calon dan program ekonomi kerakyatan. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Taj Yasin yang selama ini lebih dikenal melalui pendekatan kultural dan tatap muka langsung di pondok-pondok pesantren.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Tengah menjadwalkan pendaftaran pasangan calon pada 27—29 Agustus 2024. Dengan dinamika yang masih cair, hasil survei ini diperkirakan akan menjadi salah satu acuan utama partai dalam merumuskan konfigurasi koalisi dan menetapkan figur pada saat Rapat Pleno internal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User