Suyudi Ario Seto, Jenderal Pemburu Buronan Narkoba Interpol
JAKARTA, Apaberita – Badan Narkotika Nasional (BNN) di bawah kepemimpinan Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mengamankan seorang buronan internasional yang tercatat dalam Daftar Pencarian Or...
JAKARTA, Apaberita – Badan Narkotika Nasional (BNN) di bawah kepemimpinan Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mengamankan seorang buronan internasional yang tercatat dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Interpol. Operasi yang digelar pada Selasa (2/4/2025) di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan itu menangkap seorang warga negara Thailand berinisial S.P. (48), yang diduga menjadi otak penyelundupan 150 kilogram sabu-sabu melalui jalur laut dari Malaysia ke Indonesia.
Penangkapan itu merupakan hasil kerja sama BNN dengan Narcotics Suppression Bureau (NSB) Thailand dan Kepolisian Diraja Malaysia yang telah berlangsung sejak Januari 2025. S.P. dilaporkan masuk ke Indonesia pada Maret 2025 dengan menggunakan identitas palsu. "Kami mengamankan S.P. tanpa perlawanan berarti di kediamannya di Cilandak. Tersangka kini ditahan untuk proses penyidikan lebih lanjut," ujar Suyudi dalam konferensi pers di Gedung BNN, Jakarta Timur, Rabu (3/4/2025).
Perjalanan Karier Komjen Suyudi Ario Seto
Suyudi Ario Seto lahir di Magelang, Jawa Tengah, pada 12 Maret 1967. Jenderal bintang tiga itu merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1989. Sejak awal pengabdiannya, ia dikenal sebagai perwira yang meniti karier di bidang intelijen dan reserse. Sejumlah posisi strategis pernah diembannya, antara lain Kepala Satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Barat, Wakil Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, hingga Kepala Bagian Analis Bareskrim Polri.
Pada 2021, Suyudi dipercaya sebagai Kepala BNN Provinsi DKI Jakarta. Di masa jabatannya itu, ia berhasil mengungkap beberapa laboratorium gelap narkoba dan menyita puluhan kilogram sabu-sabu. Keberhasilannya itu menjadi pintu masuk bagi karier selanjutnya. Setelah menjabat sebagai Kapolda Banten (2022-2023) dan Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Baintelkam) Polri (2023), ia kemudian diangkat menjadi Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri pada Februari 2024.
Dari Hubinter ke Pimpinan BNN
Sebelum menjadi Kepala BNN, Suyudi sempat memimpin Divisi Hubungan Internasional (Hubinter) Polri. Pengalaman di Hubinter inilah yang memperkuat kemampuannya dalam menjalin kerja sama luar negeri, terutama dalam penanganan kejahatan transnasional. Selama bertugas di Hubinter, Suyudi aktif memfasilitasi pertukaran informasi intelijen dengan Interpol dan Europol, yang kemudian menjadi bekal penting saat ia memimpin BNN.
Presiden Prabowo Subianto melantik Suyudi sebagai Kepala BNN pada 10 Januari 2025, menggantikan Komjen Pol (Purn.) Petrus Reinhard Golose. Dalam pidato pelantikannya, Suyudi menegaskan komitmennya untuk memperkuat BNN sebagai leading sector dalam perang melawan narkoba. "Prioritas kami adalah memutus mata rantai sindikat narkotika internasional. Tidak ada tempat bagi pelaku kejahatan luar biasa ini di Indonesia," tegasnya.
Agresivitas Memburu Buronan
Di bawah kendali Suyudi, BNN menunjukkan agresivitas tinggi dalam memburu buronan narkoba kelas kakap. Selain S.P., dalam tiga bulan pertama kepemimpinannya, BNN telah meringkus dua buronan Interpol lainnya: seorang warga negara Nigeria berinisial O.C. yang ditangkap di Medan pada Februari 2025 dan seorang warga India yang diamankan di Batam pada Maret 2025. Seluruh operasi itu melibatkan koordinasi erat dengan NCB Interpol Indonesia dan kepolisian negara asal.
"Sinergi dengan instansi internasional tidak bisa ditawar. Jaringan narkoba bersifat lintas batas, maka penanganannya harus melewati batas-batas negara pula," kata Suyudi. Ia menambahkan bahwa BNN terus memperkuat peran Indonesia dalam kerangka kerja sama ASEAN Ministerial Meeting on Drug Matters (AMMD) dan Joint Investigation Team (JIT) di kawasan Asia Tenggara.
Keberhasilan penangkapan buronan Interpol ini sekaligus menegaskan posisi BNN sebagai garda terdepan pemberantasan narkotika. Suyudi memastikan bahwa BNN tidak akan berhenti pada penangkapan saja. "Kami akan terus mengembangkan penyidikan hingga ke akar untuk membongkar jaringan pemodal dan bandar yang bersembunyi di balik sindikat internasional," pungkasnya.
Comments (0)