Survei Parameter Politik: Taj Yasin Maimoen Puncaki Bursa Pilgub Jateng

Jakarta, Apaberita – Mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2018-2023, Taj Yasin Maimoen, menempati posisi teratas dalam bursa pencalonan gubernur pada Pilkada Serentak 2024 yang dijadwalkan berl...

Survei Parameter Politik: Taj Yasin Maimoen Puncaki Bursa Pilgub Jateng

Jakarta, Apaberita – Mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2018-2023, Taj Yasin Maimoen, menempati posisi teratas dalam bursa pencalonan gubernur pada Pilkada Serentak 2024 yang dijadwalkan berlangsung 27 November mendatang. Temuan ini terungkap dalam survei terbaru Lembaga Parameter Politik Indonesia yang dirilis secara resmi di Jakarta pada Selasa (27/8).

Dalam survei tersebut, putra ulama kharismatik almarhum KH Maimoen Zubair itu mencatatkan tingkat popularitas mencapai 87,3 persen. Angka ini jauh meninggalkan nama-nama tokoh lain yang digadang-gadang bakal bertarung memperebutkan kursi Jawa Tengah 1.

Dominasi Elektoral Taj Yasin

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, mengungkapkan bahwa keunggulan Taj Yasin tidak hanya terletak pada tingkat pengenalan publik, melainkan juga berdampak langsung pada elektabilitas. “Dalam simulasi tertutup yang diikuti 15 nama kandidat, Taj Yasin Maimoen meraih elektabilitas 32,5 persen, unggul signifikan dari pesaing terdekatnya yang hanya memperoleh 18,7 persen,” ujar Adi saat memaparkan hasil survei. Ia menambahkan bahwa selisih tersebut merupakan yang tertinggi yang pernah tercatat dalam pengukuran Parameter Politik untuk kontestasi Pilgub Jateng.

“Faktor popularitas Taj Yasin sebagai mantan wagub, ditambah kedekatan emosional dengan basis massa kiai di wilayah pesisir utara, menjadi fondasi elektoral yang sulit ditandingi. Ini keunggulan yang terstruktur dan mengakar,” jelas Adi Prayitno.

Survei dengan tingkat kepercayaan 95 persen ini menggunakan metodologi multistage random sampling yang menjaring 2.400 responden di 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah. Wawancara tatap muka dilakukan pada periode 15–22 Agustus 2024 dengan margin of error kurang lebih 2 persen.

Peta Kekuatan dan Pesaing Utama

Selain Taj Yasin, survei juga memotret sejumlah tokoh lain yang diprediksi bakal meramaikan kontestasi Pilgub Jateng. Mantan Kapolda Jawa Tengah, Inspektur Jenderal (Purn) Ahmad Luthfi, menduduki peringkat kedua dengan elektabilitas 18,7 persen. Di posisi ketiga, muncul nama Bupati Kendal Dico Ganinduto yang berhasil mengantongi 11,3 persen suara responden. Nama-nama lain, seperti mantan Walikota Semarang Hendrar Prihadi dan Ketua DPW PAN Jawa Tengah, masih berada di bawah 5 persen.

Adi menjelaskan bahwa meskipun Ahmad Luthfi memiliki latar belakang keamanan yang kuat dan dikenal luas melalui program-program kepolisian, tingkat preferensi publik masih berada jauh di bawah Taj Yasin yang sudah memiliki jaringan politik berbasis kekerabatan dan keagamaan. “Masyarakat Jateng sangat dipengaruhi oleh figur kiai dan tokoh agama. Ini yang berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh Taj Yasin melalui sang ayah, almarhum Mbah Moen,” paparnya.

Sementara itu, Dico Ganinduto yang merupakan generasi muda politisi dari Partai Golkar menunjukkan tren peningkatan popularitas dalam beberapa bulan terakhir. Akan tetapi, jangkauan elektoralnya dinilai masih terbatas di wilayah-wilayah tertentu, terutama di basis-basis Golkar di Pantura Barat dan belum mampu menembus zona pedesaan di selatan Jawa Tengah.

Tantangan dan Dinamika Koalisi

Meski unggul secara popularitas dan elektabilitas, Taj Yasin Maimoen masih menghadapi dinamika koalisi partai politik yang belum sepenuhnya solid. Saat ini, partai asal Taj Yasin, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), baru mengantongi sejumlah kecil kursi di DPRD Jateng, sehingga membutuhkan dukungan dari partai lain seperti Partai Gerindra, PKB, atau Golkar untuk mengusung pasangan calon gubernur. Tanpa koalisi minimal 20 persen kursi DPRD, pencalonan Taj Yasin terancam kandas di tengah jalan.

“Taj Yasin memang unggul di survei, tetapi koalisi partai menjadi kunci pencalonan. Dia harus mampu meyakinkan partai-partai besar untuk berlabuh padanya. Ini ujian politik yang sesungguhnya,” ujar Adi.

Peneliti Politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Firman Noor, dalam tanggapan terpisah menilai bahwa sosok Taj Yasin memiliki modal sosial yang kuat, tetapi perlu memperkuat platform programatik. “Elektabilitas tinggi seringkali didorong oleh popularitas, tetapi pemilih Jawa Tengah kini semakin rasional. Mereka akan mempertimbangkan rekam jejak dan program konkret calon, terutama dalam menjawab persoalan kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi di provinsi ini,” katanya.

Firman menambahkan, kontestasi di Jawa Tengah merupakan pertarungan antara representasi kultural dan birokratik. “Taj Yasin merepresentasikan kekuatan kultural, Ahmad Luthfi merepresentasikan kekuatan birokratik-polisionil, sementara Dico mewakili generasi muda teknokratis. Ini akan menjadi kompetisi ideologis yang menarik sekaligus menentukan arah pembangunan Jateng ke depan,” imbuhnya.

Profil Singkat dan Langkah Politik Selanjutnya

Taj Yasin Maimoen lahir di Rembang pada 15 Mei 1986. Sebelum menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Tengah mendampingi Ganjar Pranowo, ia adalah Ketua DPC PPP Kabupaten Rembang. Pengalamannya sebagai kepala daerah di tingkat provinsi memberinya keunggulan pengenalan yang luas di seluruh kabupaten/kota di Jateng, sebuah modal yang tidak dimiliki kandidat-kandidat lain.

Selama menjabat wagub, Taj Yasin dikenal aktif dalam program-program pemberdayaan pesantren, ekonomi umat, serta sering terjun langsung menangani berbagai bencana alam yang kerap melanda wilayah Jateng. Faktor sentimen emosional terhadap almarhum KH Maimoen Zubair, yang memiliki jutaan jemaah dan santri di Nusantara, menjadi kekuatan politik tak terlihat yang tidak bisa diabaikan oleh kontestan mana pun.

Menghadapi tenggat pendaftaran calon pada 27–29 Agustus 2024, Taj Yasin mulai intensif melakukan safari politik ke berbagai daerah sekaligus menjajaki komunikasi dengan pimpinan partai di tingkat pusat. Para pengamat memprediksi, jika ia berhasil mengamankan tiket dan memilih wakil yang tepat—terutama dari kalangan birokrat atau teknokrat—peluangnya untuk merebut kemenangan pada 27 November sangat terbuka lebar. Namun, hingga mesin politik benar-benar bergerak, survei tetaplah sekadar potret sesaat di tengah lika-liku kontestasi elektoral yang masih panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User