Surplus Dagang RI 72 Bulan Beruntun Tamat! Kini Defisit US$ 1,61 Miliar
Jakarta, Apaberita.com – Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan barang pada Mei 2026 sebesar US$ 1,61 miliar. Capaian ini mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan be
Jakarta, Apaberita.com – Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan barang pada Mei 2026 sebesar US$ 1,61 miliar. Capaian ini mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dihimpun Apaberita.com menunjukkan nilai ekspor pada bulan tersebut mencapai US$ 23,20 miliar, sementara impor melonjak ke US$ 24,81 miliar. Dengan selisih yang cukup lebar, neraca perdagangan akhirnya berbalik defisit setelah enam tahun lamanya konsisten di zona hijau.
Defisit Migas Jadi Penyebab
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa defisit terutama disebabkan oleh komoditas migas. Nilai impor minyak mentah, produk hasil minyak, dan gas tercatat meningkat signifikan, sementara volume dan harga ekspor migas Indonesia masih terbatas. Sektor nonmigas sendiri diperkirakan masih mencatat surplus, tetapi tidak mampu menutup defisit dari sektor migas yang membengkak.
"Defisit neraca perdagangan pada Mei terutama berasal dari komoditas migas, di mana peningkatan impor minyak dan gas tidak diimbangi dengan kinerja ekspor," kata Ateng dalam konferensi pers yang dipantau Apaberita.com.
Sebelumnya, Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan semenjak Mei 2020. Rekor panjang itu ditopang oleh ekspor komoditas unggulan seperti batubara, minyak sawit, dan besi baja. Namun, pergeseran dinamika perdagangan global serta kenaikan konsumsi energi domestik pada pertengahan 2026 mulai menggerus surplus. Defisit perdagangan pada Mei ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk mendorong kembali kinerja ekspor sekaligus mengendalikan impor yang tidak produktif.
Ekonom dari lembaga riset yang berbasis di Jakarta menilai defisit ini bisa memengaruhi posisi cadangan devisa dan stabilitas rupiah jika berlanjut. Meski demikian, total surplus tahunan masih mungkin tercatat jika bulan-bulan berikutnya kembali surplus. Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah strategis untuk memperkuat ekspor nonmigas dan mengurangi ketergantungan impor energi.
Comments (0)