Oct 09, 2026
Politik

Spread SBN-UST Indonesia Turun Jadi 188 Basis Poin

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan selisih imbal hasil atau spread antara Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dan obligasi pemerintah Amerika Serikat (UST) tenor 10 tahun terus menyempit. B...

Spread SBN-UST Indonesia Turun Jadi 188 Basis Poin

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan selisih imbal hasil atau spread antara Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dan obligasi pemerintah Amerika Serikat (UST) tenor 10 tahun terus menyempit. Berdasarkan data per 7 Oktober 2026, spread tersebut ditetapkan berada di level 188 basis poin (bps). Angka itu disampaikan dalam forum Investor Daily Summit di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Menurut Suahasil, penyempitan spread tersebut menegaskan semakin kuatnya kepercayaan investor global terhadap fundamental ekonomi Indonesia serta kualitas pengelolaan makro. Ia menyatakan kondisi itu turut menjaga daya tarik Indonesia di tengah tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang saat ini menembus 5,28 persen.

“Jadi saat ini Amerika itu menawarkan suku bunga 5,28 persen, dan akibatnya apa? Banyak modal kembali ke Amerika, karena suku bunganya relatif tinggi, bahkan tertinggi di dalam hampir 23 tahun terakhir,” kata Suahasil dalam forum tersebut.

Premi Imbal Hasil Negara Berkembang

Dalam paparannya, Suahasil menjelaskan bahwa investor global memiliki pilihan untuk menempatkan dana pada obligasi Amerika Serikat maupun obligasi Indonesia. Secara umum, obligasi negara berkembang seperti Indonesia perlu menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat untuk memberikan tambahan premi kepada investor. Level imbal hasil UST tenor 10 tahun yang berada di 5,28 persen dikatakannya sebagai yang tertinggi dalam hampir 23 tahun terakhir, sehingga mendorong sebagian modal kembali mengalir ke Amerika Serikat.

Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat negara berkembang harus memberikan premi imbal hasil atau extra premium agar tetap mampu menarik modal asing. Suahasil mencontohkan pengalaman Indonesia pada 2003, ketika spread yang harus diberikan mencapai 1.000 basis poin di atas imbal hasil obligasi Amerika Serikat.

“Jadi kalau bunga Amerika Serikat waktu itu adalah 4 persen, Indonesia mesti kasih hampir 12 persen, baru ada yang beli, baru ada yang mau masuk ke Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, kebutuhan memberikan premi yang besar juga terjadi ketika Indonesia memasuki krisis global pada 2009. Situasi itu pada akhirnya meningkatkan beban biaya bunga yang harus ditanggung perekonomian nasional. Berdasarkan catatan Kementerian Keuangan, tingginya premi tersebut menjadi salah satu faktor yang memberatkan ruang fiskal pada periode tersebut.

Perbaikan Fundamental Ekonomi

Suahasil menuturkan, spread yang perlu ditawarkan Indonesia kini jauh lebih kecil dibandingkan dua dekade lalu. Penyempitan tersebut dinilainya sebagai cerminan perbaikan fundamental ekonomi, disiplin fiskal, serta stabilitas moneter yang terjaga. Ia menyatakan pemerintah terus menindaklanjuti berbagai langkah konsolidasi fiskal untuk mempertahankan tren positif tersebut.

Dalam forum yang sama, Suahasil juga menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga kredibilitas kebijakan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Menurutnya, koordinasi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan otoritas terkait menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

“Spread yang turun itu menunjukkan pasar melihat Indonesia berbeda dari beberapa dekade lalu. Ini hasil kerja bersama, bukan hanya satu institusi,” tegasnya.

Respons Pasar dan Proyeksi ke Depan

Sejumlah analis pasar menilai penyempitan spread SBN-UST memberikan ruang bagi pemerintah untuk menekan biaya utang. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa tekanan eksternal masih berpotensi membayangi, terutama bila The Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga acuan. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, penurunan spread turut berdampak pada efisiensi pembayaran kupon SBN di pasar internasional.

Suahasil menegaskan pemerintah akan terus memperkuat bantalan fiskal dan menjaga kepercayaan investor melalui transparansi pengelolaan anggaran. Ia menyatakan capaian spread 188 basis poin merupakan hasil dari konsistensi kebijakan yang diambil secara bertahap sejak periode sebelumnya.

“Kami akan terus menjaga momentum ini. Kepercayaan pasar adalah modal utama, dan itu tidak boleh disia-siakan,” tutup Suahasil dalam sesi tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS dimas-permana

Reporter Politik Muda. Fokus pada gerakan pemuda, politik digital, dan representasi generasi Z.

Comments (0)

User