[SPORT] — Lima Pelatih Bulu Tangkis Indonesia Kini Mengabdi di Negara Lain, Satu Dijuluki Naga Api

Jakarta – Fenomena eksodus pelatih bulu tangkis Indonesia ke berbagai negara terus menjadi sorotan tajam di kalangan pecinta olahraga tepok bulu. Tidak sed

Jul 09, 2026 - 17:09
0 0
Jakarta – Fenomena eksodus pelatih bulu tangkis Indonesia ke berbagai negara terus menjadi sorotan tajam di kalangan pecinta olahraga tepok bulu. Tidak sedikit mantan atlet atau pelatih nasional yang kini justru memperkuat kontingen asing, menciptakan dilema antara kebanggaan atas kualitas SDM Indonesia dan ironi atas kepergian mereka dari tanah air. Berdasarkan penelusuran dan data kepelatihan terkini, setidaknya terdapat lima sosok kunci yang sukses menukangi tim atau pemain di kancah internasional.

Sederet Nama Besar di Perantauan

Fenomena ini bukan hanya isapan jempol. Data menunjukkan bahwa pada Olimpiade Tokyo 2020 dan Paris 2024, jerih payah para pelatih asal Indonesia sangat terasa. Mereka berada di balik layar kebangkitan tim-tim seperti India, Malaysia, Thailand, hingga Amerika Serikat. Berikut adalah profil para arsitek strategi yang kini berkibar di luar negeri:
  • Rexy Mainaky – Pria kelahiran Ternate ini merupakan mantan peraih emas Olimpiade Atlanta 1996 untuk Indonesia. Kini, ia mengabdi sebagai Direktur Kepelatihan Ganda Nasional untuk Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM). Di bawah sentuhannya, pasangan ganda putra Malaysia menjelma menjadi kekuatan yang disegani dan rutin menembus semifinal turnamen Super Series.
  • Hendry Saputra – Memulai kiprah internasionalnya dengan membawa Singapura meraih medali emas di berbagai ajang regional, Hendry kini dipercaya menjadi pelatih kepala di Kanada. Ia sempat melatih Michelle Li, tunggal putri peringkat pertama Pan American, dan memolesnya menjadi ancaman serius bagi pemain top dunia di sektor tunggal putri.
  • Mulyo Handoyo – Sosok legendaris yang menempa Taufik Hidayat hingga meraih emas Olimpiade Athena 2004. Setelah hengkang, ia sempat menjadi arsitek kebangkitan tunggal putra India bersama Srikanth Kidambi. Kini, Mulyo mengemban tugas di pusat pelatihan bulu tangkis di Singapura dan terus memproduksi pemain dengan level daya juang tinggi.
  • Victor Imanuel – Merupakan pelatih ganda campuran yang kini mendampingi tim Amerika Serikat. Pengalamannya di Pelatnas Cipayung dulu menjadi modal berharga untuk membawa pasangan-pasangan AS berlaga di level BWF World Tour, sebuah prestasi yang sebelumnya langka bagi negeri Paman Sam di sektor ini.

Sosok Nomor 1: "Naga Api" yang Mendunia

Puncak dari daftar ini ditempati oleh seorang pelatih yang dikenal dengan julukan "Naga Api", yaitu Herry Iman Pierngadi. Meskipun saat ini masih berstatus sebagai pelatih ganda putra utama di Pelatnas PBSI, namun mobilitas internasional dan riwayat pendampingan teknisnya ke sejumlah klub di Asia menjadikannya ikon global. Julukan "Naga Api" bukanlah tanpa alasan. Emosinya yang meledak-ledak saat berada di lapangan berbanding lurus dengan ketajaman analisisnya. Pria asal Pangkal Pinang ini adalah otak di balik lahirnya "Daddies" (Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan) dan "Minions" (Marcus Gideon/Kevin Sanjaya). Metode latihannya yang keras dan disiplin tinggi kerap menjadi studi kasus bagi pelatih-pelatih muda di Jepang dan Eropa yang ingin belajar ekosistem ganda putra Indonesia.
"Pelatih seperti Herry IP adalah aset langka. Kita harus akui bahwa kiblat ganda putra dunia ada di Indonesia, dan Naga Api adalah spesies yang hanya muncul satu kali dalam satu generasi. Kepindahan talenta seperti ini harus dilihat sebagai bentuk diplomasi olahraga, bukan sekadar kehilangan," ujar pengamat bulu tangkis, Broto Happy, dalam diskusi virtual.

Mengapa Mereka Memilih Pergi?

Motivasi di balik eksodus ini mengerucut pada tiga faktor utama: regenerasi kepelatihan yang sempit di dalam negeri, tawaran kontrak fantastis yang bisa mencapai 5 hingga 10 kali lipat dari gaji di Indonesia, serta keinginan untuk mencari tantangan baru dari sisi teknis dan budaya. Data menunjukkan, seorang asisten pelatih di PBSI bisa menerima tawaran gaji senilai USD 15.000 per bulan di negara Asia lainnya, sementara di Indonesia nominal tersebut hanya bisa didapatkan oleh jajaran direktur teknik. Fakta ini diperparah dengan sistem birokrasi kepelatihan yang membuat beberapa pelatih merasa tidak memiliki jenjang karier yang jelas jika terus berada di bawah naungan PBSI. Meski ironis, penyebaran ini secara tidak langsung membuat DNA bulu tangkis Indonesia semakin dikenal. Strategi "banjir serangan" khas Indonesia kini bisa dilihat di berbagai bendera negara. Tantangan bagi PBSI ke depan adalah menciptakan ekosistem yang tak hanya melahirkan pemain juara, tetapi juga mempertahankan para "profesor" bulu tangkisnya agar tidak terus-menerus menghidupi negara lawan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User