Arab Saudi mencatat tiga orang tewas dan 36 orang terluka akibat rentetan serangan yang menghantam dua bandara internasionalnya, yakni Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, pada Selasa dan Rabu (7/10). Otoritas penerbangan sipil Saudi menyatakan kedua fasilitas penerbangan tersebut menjadi sasaran, sementara kelompok Houthi di Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan rudal balistik yang ditujukan ke ibu kota Arab Saudi. Dua warga negara asing tewas di Bandara Abha, sedangkan satu warga Sudan tewas di kawasan Bandara King Khalid.
Korban Jiwa di Dua Fasilitas Penerbangan
Dalam pernyataan resminya, otoritas penerbangan sipil Saudi mengungkapkan bahwa serangan terhadap kedua bandara berlangsung sejak Selasa hingga Rabu. Pernyataan tersebut tidak menyebut pihak yang bertanggung jawab atas serangan, namun daftar korban jiwa diuraikan secara rinci berdasarkan kewarganegaraan korban.
Tiga orang tewas terdiri atas seorang warga Mesir dan seorang warga Aljazair yang meninggal di Bandara Abha, serta seorang warga Sudan yang tewas di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Selain korban meninggal, terdapat 36 orang lainnya yang mengalami luka-luka dan menjalani perawatan. Pihak berwenang Saudi tidak merinci tingkat keparahan luka para korban maupun identitas lengkap mereka.
Serangan terhadap infrastruktur penerbangan sipil tersebut menimbulkan gangguan terhadap operasional bandara. Pernyataan otoritas penerbangan sipil Saudi menegaskan bahwa kedua bandara internasional menjadi sasaran serangan yang menargetkan fasilitas di kawasan bandara. Langkah pengamanan diperketat di kedua lokasi menyusul insiden yang menewaskan warga negara asing tersebut.
Klaim Houthi Atas Rudal Balistik ke Riyadh
Kelompok Houthi, yang selama ini mendapat dukungan dari Iran, menyatakan bahwa pasukannya menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menggunakan rudal balistik. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyampaikan klaim tersebut melalui unggahan di platform X pada Rabu.
"Angkatan bersenjata kami baru saja menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dengan rudal balistik. Serangan itu akurat, atas karunia Tuhan, dan menyebabkan gangguan lalu lintas udara," kata Yahya Saree.
Saree menambahkan bahwa serangan tersebut dilakukan bersamaan dengan penargetan sejumlah fasilitas lain di wilayah Arab Saudi. Dalam unggahan terpisah, juru bicara militer kelompok itu menyebut bahwa drone dan rudal juga ditujukan ke Bandara Abha serta Pangkalan Udara King Khalid yang terletak di Khamis Mushait.
Di sisi lain, Koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pasukan pro-pemerintah Yaman menyatakan bahwa rudal balistik yang ditujukan ke Riyadh telah berhasil dicegat. Pernyataan koalisi tersebut bertolak belakang dengan klaim Houthi mengenai keberhasilan serangan rudal ke bandara ibu kota Saudi.
Koalisi pimpinan Saudi menegaskan niatnya untuk membalas serangan tersebut. Sasaran balasan diarahkan ke peluncur rudal balistik yang diduga digunakan dalam penyerangan terhadap Riyadh. Keputusan itu diumumkan tidak lama setelah klaim Houthi dipublikasikan melalui kanal resmi mereka.
Bandara Aden Juga Jadi Sasaran
Selain menyerang sasaran di Arab Saudi, Houthi juga mengklaim melakukan serangan terhadap konvoi pasokan militer di kawasan dekat Bandara Internasional Aden, ibu kota sementara pemerintah Yaman. Klaim tersebut disampaikan melalui unggahan terpisah dari pihak kelompok bersenjata itu.
Kantor berita pemerintah Yaman, Saba, melaporkan bahwa rudal dan drone menyasar kawasan Bandara Aden. Salah satu rudal dilaporkan jatuh di dekat landasan pacu beberapa menit sebelum jadwal kedatangan pesawat yang datang dari Kairo, Mesir.
Akibat insiden tersebut, pesawat yang seharinya mendarat di Aden terpaksa dialihkan ke Jeddah, Arab Saudi. Pengalihan rute penerbangan sipil tersebut menambah daftar gangguan operasional di bandara-bandara yang menjadi sasaran dalam eskalasi terbaru konflik kawasan.
Eskalasi Militer di Kawasan
Serangan terhadap dua bandara internasional Arab Saudi menandai peningkatan intensitas konfrontasi antara Houthi dengan koalisi pimpinan Saudi yang terlibat dalam konflik Yaman. Pernyataan koalisi mengenai rencana pembalasan terhadap peluncur rudal balistik berpotensi memperluas gelombang serangan di kawasan tersebut.
Sebelumnya, koalisi pimpinan Saudi menyatakan keterlibatannya dalam mendukung pasukan pro-pemerintah Yaman untuk mempertahankan kedaulatan negara tersebut. Langkah ini diambil menindaklanjuti serangan beruntun yang menyasar fasilitas sipil maupun militer di kedua negara.
Otoritas penerbangan sipil Saudi hingga kini masih melakukan pendataan menyeluruh terhadap kerusakan fasilitas dan dampak terhadap jadwal penerbangan. Sementara itu, bandara Aden terus beroperasi dengan pengaturan lalu lintas udara yang diperketat setelah insiden jatuhnya rudal di dekat landasan pacu.
Pemerintah Yaman melalui kantor berita resminya Saba terus memantau perkembangan di bandara Aden, termasuk rencana penerbangan dari Kairo yang dialihkan ke Jeddah. Situasi ini membuat layanan penerbangan sipil di kawasan tersebut berada dalam keadaan waspada tinggi.
Comments (0)