Serangan Harimau di Indragiri Hilir Picu Penutupan Sekolah
Indragiri Hilir, Apaberita — Seekor sapi ternak milik warga di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, ditemukan tewas dengan luka gigitan yang diduga kuat berasal dari serangan harimau sumatera (Panthera ...
Indragiri Hilir, Apaberita — Seekor sapi ternak milik warga di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, ditemukan tewas dengan luka gigitan yang diduga kuat berasal dari serangan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) pada Minggu pagi (27/7/2026). Peristiwa yang terjadi di Desa Sungai Sirih, Kecamatan Gaung, ini mendorong aparat kepolisian dan instansi terkait untuk mengambil langkah pengamanan, termasuk meliburkan kegiatan belajar mengajar di tiga sekolah dasar (SD) yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Kronologi dan Temuan di Lapangan
Berdasarkan keterangan Kepala Desa Sungai Sirih, Amiruddin, sapi milik peternak bernama Rahman (52) dilaporkan hilang sejak Sabtu sore. Setelah dilakukan pencarian, bangkai sapi ditemukan di semak belukar sekitar 300 meter dari permukiman warga pada pukul 06.30 WIB. "Kondisi sapi sudah tidak utuh, terdapat bekas gigitan di bagian leher dan bagian belakang tubuhnya habis dimakan. Kami langsung melapor ke Polsek Gaung," ujar Amiruddin saat dihubungi.
Tim dari Kepolisian Sektor Gaung yang dipimpin langsung oleh Kapolsek Inspektur Satu Budi Santoso tiba di lokasi sekitar pukul 08.00 WIB. Hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) menemukan jejak kaki berukuran cukup besar—sekitar 14 sentimeter—yang mengindikasikan keberadaan satwa liar besar. "Setelah kami konsultasikan dengan tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Indragiri Hilir, dipastikan jejak tersebut milik harimau sumatera dewasa," kata Budi Santoso dalam konferensi pers singkat di balai desa.
Penutupan Sekolah Demi Keamanan
Menyusul temuan itu, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Gaung menggelar rapat darurat pada Minggu siang. Rapat yang dihadiri oleh camat, kapolsek, danramil, kepala desa, serta perwakilan BKSDA memutuskan untuk meliburkan sementara tiga SD yang berada paling dekat dengan titik penemuan bangkai, yaitu SD Negeri 014 Gaung, SD Negeri 021 Gaung, dan Madrasah Ibtidaiyah Al-Muhajirin. Keputusan tersebut berlaku selama dua hari, Senin–Selasa (28–29 Juli 2026), dan akan dievaluasi berdasarkan perkembangan situasi.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indragiri Hilir, Drs. H. Idris, M.Pd., membenarkan kebijakan tersebut. "Keselamatan peserta didik tidak bisa ditawar. Kami sudah mengeluarkan surat edaran ke sekolah-sekolah yang berada di zona rawan untuk sementara menghentikan kegiatan tatap muka hingga ada jaminan keamanan dari pihak berwenang," tegasnya.
Respons Aparat dan Upaya Mitigasi
Sementara itu, jajaran Polres Indragiri Hilir telah menambah personel untuk memperkuat patroli di wilayah perbatasan hutan selama 1×24 jam. Kapolres Indragiri Hilir, Ajun Komisaris Besar Polisi Dian Permana Siregar, menyatakan bahwa pihaknya juga menyiapkan senjata api ramah lingkungan (peluru karet) dan bekerja sama dengan BKSDA untuk memasang tiga unit kamera jebak (camera trap) di sekitar jalur lintasan satwa yang teridentifikasi.
"Kami belum bisa memastikan berapa ekor harimau yang masuk ke area permukiman. Namun, langkah antisipatif ini diambil agar tidak terjadi konflik lebih lanjut antara manusia dan harimau. Warga kami imbau untuk tidak beraktivitas sendirian di kebun, terutama menjelang senja," ujar Dian Permana.
Kepala BKSDA Resor Indragiri Hilir, Rizka Amalia, S.Hut., menambahkan bahwa timnya akan melakukan penghalauan (hazing) terhadap harimau jika keberadaannya terkonfirmasi. "Kami akan mengusir harimau kembali ke dalam kawasan konservasi menggunakan bunyi-bunyian dan suara petasan. Apabila upaya ini tidak berhasil, baru kami pertimbangkan translokasi," jelasnya. Rizka juga mengingatkan bahwa harimau sumatera merupakan spesies dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, sehingga segala tindakan perburuan merupakan pelanggaran hukum.
Riwayat Konflik Manusia-Harimau di Indragiri Hilir
Konflik antara manusia dan harimau sumatera di wilayah Indragiri Hilir bukanlah kejadian pertama. Menurut data BKSDA Riau, sepanjang tahun 2025 terjadi 12 laporan perjumpaan harimau di lima kecamatan yang berbatasan dengan hutan lindung, termasuk Gaung, Kempas, dan Keritang. Sebanyak tiga ekor sapi dan belasan ekor kambing dilaporkan menjadi korban. Sementara itu, pada 2023, seorang petani nyaris menjadi korban gigitan ketika sedang mengambil getah karet di kebunnya.
Ahli konservasi dari Universitas Riau, Dr. Rudi Syahputra, M.Si., menjelaskan bahwa peningkatan frekuensi konflik dipicu oleh penyempitan habitat akibat pembukaan lahan untuk perkebunan sawit dan tambak. "Harimau terdesak keluar dari kawasan inti hutan karena pasokan pakan alami menurun. Mereka masuk ke desa-desa mencari ternak sebagai pengganti mangsa alami seperti babi hutan dan rusa. Ini siklus yang perlu dihentikan dengan memperkuat kawasan penyangga dan menghentikan perambahan," jelas Rudi.
Imbauan dan Antisipasi Warga
Insiden ini membuat warga di Desa Sungai Sirih dan sekitarnya waspada. Rahman, pemilik sapi yang tewas, mengaku trauma dan berharap pemerintah segera bertindak. "Saya rugi besar, sapi itu harga Rp12 juta. Tapi yang lebih saya takutkan adalah keselamatan anak-anak," katanya dengan suara bergetar.
Untuk mencegah kejadian serupa, Forkopimcam Gaung bersama BKSDA akan melakukan sosialisasi mitigasi konflik satwa liar pada Rabu (30/7) di balai desa. Materi sosialisasi mencakup cara membuat kandang anti-serangan, pengelolaan sampah agar tidak mengundang babi hutan yang menjadi mangsa potensial harimau, serta tata cara melapor secara cepat melalui call center 110 atau kontak BKSDA terdekat.
Sementara itu, Bupati Indragiri Hilir, H. Muhammad Zaini, S.Pd.I., M.Pd., yang dihubungi secara terpisah, menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten akan membantu peternak yang terdampak melalui program jaring pengaman sosial dan mengupayakan pembentukan tim terpadu penanggulangan konflik satwa. "Kami tidak tinggal diam. Dalam rapat terbatas tadi malam, kami sudah menugaskan Dinas Perkebunan dan Peternakan untuk mendata kerugian dan memberikan bantuan. Selain itu, kami juga akan mengalokasikan anggaran untuk pemasangan pagar senggala di perimeter desa yang rawan," kata Bupati.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Kecamatan Gaung terpantau kondusif meskipun ketegangan masih terasa. Patroli gabungan akan terus dilakukan hingga dinyatakan aman. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau untuk menyusun rencana jangka panjang mengatasi konflik manusia-harimau yang kerap terjadi di daerah penyangga hutan di Indragiri Hilir.
Comments (0)