Jakarta — Serangan udara menggunakan pesawat nirawak yang dilancarkan Ukraina pada Sabtu (22/8) menewaskan sepuluh orang di sejumlah wilayah Rusia dan kawasan Ukraina yang berada di bawah kendali Moskow. Dalam operasi tersebut, gudang milik Ozon, salah satu perusahaan ritel daring terbesar di Rusia, ikut menjadi sasaran di samping sejumlah fasilitas industri. Serangan itu menjadi catatan terbaru dalam perang drone yang saling dilancarkan kedua negara sejak konflik memasuki fase baru.
Rusia dan Ukraina sama-sama meningkatkan serangan drone terhadap infrastruktur ekonomi serta instalasi strategis lawan. Sasaran-sasaran itu kerap berada jauh dari garis depan, menunjukkan bahwa jangkauan serangan kedua pihak kini semakin luas. Konflik Rusia-Ukraina yang hampir genap lima tahun tersebut menunjukkan intensitas pertempuran yang tidak kunjung mereda, justru meluas ke sektor ekonomi dan logistik.
Operasional Ozon Dihentikan Sementara
Ozon mengonfirmasi bahwa pusat logistiknya di Kota Chapayevsk, wilayah Samara, terpaksa menghentikan operasional untuk sementara waktu pascaserangan. Manajemen perusahaan menyatakan terdapat sejumlah karyawan yang mengalami luka-luka akibat insiden tersebut. Perusahaan belum merinci estimasi kerugian material maupun jangka waktu pemulihan layanan.
Gubernur wilayah Samara, Vyacheslav Fedorishchev, menyatakan seorang perempuan lanjut usia tewas dalam serangan drone di Kota Novokuibyshevsk. Menurut keterangan resminya, serangan tersebut juga merusak sebuah fasilitas industri di kota yang berjarak sekitar 1.000 kilometer di tenggara Moskow itu. Pemerintah daerah memastikan langkah penanganan darurat telah diberlakukan.
Sementara itu, militer Ukraina menegaskan bahwa pihaknya telah menyerang kilang minyak di Novokuibyshevsk hingga memicu kebakaran. Kementerian Pertahanan Ukraina menyebut operasi tersebut bagian dari upaya sistematis untuk melemahkan kapasitas logistik dan energi militer Rusia. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Perang Drone Kian Meluas
Serangan terhadap gudang Ozon merupakan yang pertama setelah dalam beberapa pekan terakhir drone Ukraina lebih sering menyasar fasilitas milik Wildberries, pesaing utama Ozon di pasar ritel daring Rusia. Pola penyerangan terhadap pusat-pusat ekonomi itu dinilai Kiev sebagai strategi untuk menekan sumber pembiayaan perang Moskow.
Namun, eskalasi tidak hanya datang dari satu sisi. Sehari sebelum serangan terbaru, drone Rusia menghantam sebuah pusat perbelanjaan di Ukraina tengah. Otoritas setempat melaporkan 16 orang tewas dan lebih dari 130 orang terluka dalam insiden tersebut, menjadikannya salah satu serangan paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir.
Ancaman Putin dan Komitmen Barat
Menanggapi gelombang serangan itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut tindakan Ukraina telah membuka "kotak Pandora" dan memperingatkan bahwa Moskow akan memberikan balasan. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran bahwa siklus serangan balasan akan terus meningkat di kedua sisi.
Kremlin selama ini menilai serangan terhadap infrastruktur sipil dan ekonomi sebagai tindakan yang melampaui batas. Sebaliknya, Kiev membantah menargetkan warga sipil dan menyatakan operasinya menyasar fasilitas yang berkontribusi pada mesin perang Rusia. Kedua pihak sama-sama menuding lawan melakukan pelanggaran hukum perang.
Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron berjanji mempercepat pengiriman peralatan militer baru ke Ukraina. Komitmen itu disampaikan setelah Macron berbicara melalui telepon dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Dalam percakapan tersebut, kedua pemimpin membahas kebutuhan mendesak Kiev terhadap sistem pertahanan udara di tengah meningkatnya serangan rudal dan drone Rusia.
Dampak terhadap Warga Sipil
Perang drone yang saling dilancarkan kedua pihak kembali menimbulkan korban di kalangan warga sipil. Fasilitas publik seperti pusat perbelanjaan, gudang logistik, dan kawasan permukiman kerap menjadi sasaran, baik secara langsung maupun akibat serangan yang meleset dari sasaran militer. Organisasi kemanusiaan internasional berulang kali mendesak kedua belah pihak untuk melindungi warga sipil sesuai ketentuan hukum humaniter.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai total kerugian material akibat serangan terbaru. Pemerintah Ukraina juga belum menanggapi ancaman pembalasan yang dilontarkan Kremlin. Sementara itu, otoritas Rusia menyatakan tim penyelidik telah diterjunkan untuk mendokumentasikan kerusakan di lokasi-lokasi terdampak.
Konflik Rusia-Ukraina yang telah berlangsung mendekati lima tahun terus mencatatkan korban jiwa di kedua sisi. Komunitas internasional berulang kali menyerukan de-eskalasi dan pembukaan jalur diplomasi, tetapi sejauh ini seruan tersebut belum membuahkan hasil nyata di lapangan. Siklus serangan balasan justru kian memperluas dampak perang ke sektor ekonomi warga.
Situasi di kawasan tetap tegang menyusul meningkatnya frekuensi serangan udara dalam beberapa pekan terakhir. Masyarakat di kota-kota yang menjadi sasaran diimbau untuk tetap waspada, sementara pemerintah setempat terus berupaya memulihkan layanan publik yang terganggu. Perkembangan terbaru dari konflik ini akan terus diberitakan.
Comments (0)