Senegal Akhiri Masa Bakti Pape Thiaw Pasca Tersingkir di Piala Dunia 2026
Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) secara resmi mengakhiri kontrak pelatih kepala Pape Thiaw pada Jumat (7/8/2026) waktu setempat, menyusul hasil buruk tim nasional di Piala Dunia FIFA 2026 dan kontrov...
Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) secara resmi mengakhiri kontrak pelatih kepala Pape Thiaw pada Jumat (7/8/2026) waktu setempat, menyusul hasil buruk tim nasional di Piala Dunia FIFA 2026 dan kontroversi yang melingkupi gelar Piala Afrika 2025. Keputusan tersebut diumumkan melalui pernyataan resmi FSF yang disampaikan di Dakar, setelah rapat pleno pengurus yang dipimpin Presiden FSF, Augustin Senghor.
Kronologi Kegagalan di Amerika Serikat
Thiaw, yang mulai menangani tim pada 15 Maret 2024, gagal membawa Senegal melaju melewati babak 32 besar Piala Dunia 2026. Dalam laga yang digelar di Stadion SoFi, Los Angeles, pada 30 Juni 2026, Senegal takluk dengan agregat 2-4 dari Jepang. Pada pertemuan pertama di fase grup, Senegal hanya mampu mengumpulkan satu kemenangan atas Trinidad dan Tobago, satu hasil imbang melawan Denmark, dan satu kekalahan dari Italia, sehingga finis di posisi ketiga Grup E dan harus bertemu runner-up Grup F, Jepang. Gol cepat Takumi Minamino pada menit ke-4 membuyarkan strategi Thiaw, dan meski Sadio Mané sempat menyamakan kedudukan di babak kedua, dua gol tambahan dari Jepang di masa injury time memastikan eliminasi. Federasi menganggap kegagalan itu tidak sejalan dengan target minimal perempat final yang ditetapkan dalam Rapat Koordinasi Pra-Piala Dunia pada Januari 2026.
Kontroversi Gelar AFCON 2025
Sebelum kegagalan di Piala Dunia, kepelatihan Thiaw sudah diterpa badai protes. Gelar juara Piala Afrika 2025 yang diraih Senegal di Maroko pada Februari 2025 diwarnai kontroversi mendalam. Dua gol kemenangan Senegal di semifinal melawan Tunisia, yang dicetak oleh Ismaila Sarr dan Nicolas Jackson, tidak ditinjau oleh video assistant referee (VAR) meskipun tayangan televisi memperlihatkan indikasi offside pada proses gol pertama. Federasi Sepak Bola Tunisia dan Nigeria secara resmi melayangkan protes kepada Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), menuduh perangkat pertandingan asal Zambia yang memimpin laga itu tidak independen. Meskipun CAF mengkonfirmasi keabsahan hasil, desakan publik membuat FSF melakukan investigasi internal. Berdasarkan hasil evaluasi yang disahkan pada rapat pengurus 5 Agustus 2026, insiden tersebut dianggap mencoreng reputasi federasi dan menjadi salah satu faktor utama pemecatan.
Keputusan Pleno dan Dampaknya
Rapat pleno yang berlangsung di kantor FSF, Dakar, mulai pukul 10.00 waktu setempat, menyepakati pemutusan hubungan kerja dengan suara bulat dari seluruh anggota komite eksekutif. Ketua Umum FSF, Augustin Senghor, menegaskan, "Kami menghormati jasa Pape Thiaw selama 17 bulan menangani tim, tetapi hasil yang dicapai serta situasi yang terjadi tidak lagi sejalan dengan visi dan target federasi." Pernyataan tertulis federasi juga menyinggung perlunya penyegaran untuk persiapan kualifikasi Piala Dunia 2030 dan AFCON 2027. FSF kini menunjuk Direktur Teknik, Malick Daf, sebagai pelatih interim sambil mencari kandidat permanen. Sejumlah nama seperti Aliou Cissé (mantan pelatih 2015-2024) dan pelatih asing mulai mencuat. Keputusan ini juga berdampak pada staf kepelatihan; dua asisten pelatih, Abdoulaye Sarr dan Lamine Diatta, ikut diberhentikan.
Respons Pemain dan Pemerintah
Kapten tim, Kalidou Koulibaly, menyatakan melalui media sosial bahwa para pemain menerima keputusan federasi dan berterima kasih atas dedikasi Thiaw. "Ia adalah pelatih hebat yang memberikan gelar AFCON, tetapi hasil di Piala Dunia tidak bisa dinegosiasikan," tulisnya. Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olahraga Senegal, Yankhoba Diop, dalam keterangan di Istana Presiden menyebut pemecatan ini sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga profesionalisme. "Pemerintah mendukung penuh langkah FSF demi kebangkitan sepak bola nasional," ujarnya, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keolahragaan Nasional Nomor 7 Tahun 2023 tentang Pembinaan Prestasi. Publik Senegal di media arus utama terbelah; sebagian mengapresiasi sikap tegas federasi, sebagian lain menyayangkan karena Thiaw dianggap berhasil membawa trofi kontinental. Namun, analis politik olahraga di Dakar menilai kegagalan di panggung global dan bayang-bayang kontroversi membuat posisi Thiaw tidak lagi dipertahankan. FSF berjanji akan menuntaskan proses perekrutan pelatih baru dalam 30 hari ke depan.
Baca juga:
Comments (0)